Realisasi Investasi di Mataram 450 Miliar

Hotel PP scaled

RAZAK/RADAR MANDALIKA INVESTASI: Pengedara melintas di depan Hotel PP yang masih dalam proses pembangunan di Jalan Udayana, Kota Mataram, belum lama ini.

MATARAM – Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Mataram mencatat realisasi investasi yang masuk sekitar Rp 450 miliar pada triwulan III 2020. Realisasi yang terjadi di tengan pandemi Coronavirus Disease atau Covid-19 itu baru mencapai 32,14 persen dari target investasi tahun ini yang sebesar Rp 1,4 triliun.

Kepala DPMPTSP Kota Mataram, Irwan Rahadi mengatakan, pihaknya akan berusaha keras untuk bisa mencapai akumulasi realisasi investasi sebesar Rp 700 miliar hingga akhir tahun 2020 dari target sebesar Rp 1,4 triliun. Perkiraan target realisasi itu setelah pihaknya melakukan evaluasi internal atas perkembangan nilai investasi yang masuk di tengan pandemi.

“Kita memiliki target sampai Desember ini perkiraan kita sekitar Rp 700 miliar. Sekarang ini (sudah terealisasi) sekitar Rp 450 miliar sesuai dengan hasil evaluasi provinsi (belum lama ini),” ungkap dia, kemarin.

Dinas agaknya pesimis bisa mencapai realisasi investasi sesuai target yang ditetapkan Rp 1,4 triliun di tahun 2020. Sebab, pandemi Covid-19 cukup berpengaruh terhadap belum stabilnya roda ekonomi. Sehingga, para investor berpikir seribu kali untuk berinvestasi di ibu kota Provinsi NTB khususnya.

Irwan mengungkapkan, pandemi Covid-19 menjadi salah satu faktor penghambat laju perkembangan realisasi investasi. Akibatnya, pengusaha atau investor terpaksa harus menahan investasinya. Artinya, ada investror yang menunda dan bahkan membatalkan atau mengurungkan niat untuk berinvestasi.

“Secara otomatis kan ini mempengaruhi peningkatan investasi di kota,” kata mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram itu.

Irwan mengutarakan, salah satu hotel yang masih dalam proses pembangunan adalah Hotel Prime Park (PP) di Jalan Udayana. Sementara, satu hotel urung dibangun tahun ini. Yaitu, Hotel Wika yang sebelumnya direncanakan akan dibangun di depan Polda NTB Jalan Langko. Dengan nilai investasi miliaran. Salah satu alasannya karena pandemi Covid-19.

“(Investor) masih melihat perkembangan situasi ekonomi. Mungkin perhitungannya dari sisi bisnis untung-rugi,” ujar dia.

Kendati demikian, pihaknya optmimis bisa mencapai realisasi Rp 700 miliar hingga akhir tahun 2020 dari target Rp 1,4 triliun. Target realisasi itu bukan tanpa sebab meski di tengah pandemi. Karena, sumber pendapatan atau peluang investasi di Mataram banyak di sektor jasa. Dan, ditambah juga dengan perkembangan dunia usaha yang semakin menjamur.

“Sehingga, dalam perhitungan mungkin kita bisa merealisasikan sampai Rp 700 miliar,” kata pria yang juga pernah menjadi Camat Selaparang itu.

Realisasi investasi di tahun 2020 agaknya akan lebih kecil dibanding capain pada tahun 2019. Dengan target yang sama yaitu sekitar Rp 1,4 triliun baik di tahun ini maupun tahun sebelumnya. “Realisasi investasi sampai akhir tahun 2019 sekitar Rp 900 miliar dari target yang sama (Rp 1,4 trilun),” beber Irwan.

Menurutnya, banyak peluang investasi di Kota Mataram. Tidak hanya investasi yang bernilai besar seperti hotel. Melainkan, investasi yang bernilai kecil juga sudah banyak menggeliat. Seperti kos-kosan, resto, kuliner, angkringan-angkringan, dan lain sebagainya. Investasi semacam itu juga butuh penyertaan modal.

“Bayangkan untuk membangun itu aja membutuhkan uang raturan juta, bahkan sampai miliaran. Kita bukan mengabaikan kegiatan usaha (investasi) yang besar seperti hotel dan segala macam,” kata Irewan.

Guna mempermudah dan mempercepat proses perizinan. Selain sistem offline, Dinas sudah menerapkan sistem prizinan Online Single Submission (OSS). Kata Irwan, pihaknya siap memfasilitasi para investor atau pengusaha yang mengalami kendala teknis. “Permohonan (perizinan) di data sistem kita peningkatannya cukup signifikan,” kata Irwan.

Disebutnya, sekarang banyak juga pembukaan usaha-usaha rumahan. Yang merupakan termasuk investasi karena ada penyertaan modal. Misalnya, rumah dijadikan tempat usaha. Apakah itu sifatnya home industri atau IKM/UKM. Yang pengurusan perizinannya cukup sederhana.

“Cukup membawa KTP sama NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak), selesai urusan untuk buat SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan),” jelas Irwan. (zak)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Warga Lingkar BIL Luluh

Read Next

Banjir di Senggigi Persoalan Klasik

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *