PRAYA – PT Permodalan Nasional Madani (PNM) Cabang Mataram memberikan pelatihan kepada masyarakat peranin anyaman bambu di Dusun Nyanggi, Desa Montong Gamang, Kecamatan Kopang, Lombok Tengah, Sabtu (29/7/2023) lalu. Pelatihan yang mengangkat tema pemilihan bahan baku berkualitas dan inovasi produk ini dilaksanakan dalam rangka pengembangan kapasitas usaha masyarakat klasterisasi sektoral bambu.

Sekertaris Kecamatan Kopang, Heni Ernawati dalam sambutannya mengungkapkan, pihaknya sangat menyambut baik program tersebut. Dimana PNM dan pihak kecamatan selalu berkoordinasi dalam beberapa kegiatan rutin sejak 2021.

“Gedung di antor camat bahkan rutin tiap bulan digunakan berkegiatan oleh PNM,” katanya.

Dari hasil diskusi dengan pihak PNM, pemerintah kecamatan merasa sangat terbantu. Dimana banyak hal yang telah dilakukan di Kecamatan Kopang, dalam hal permodalan bagi ibu-ibu, pelatihan dan pembinaan.

“Tanpa PNM kita tidak ada kegiatan demikian dan wadah bersilaturrahmi. PNM ini ke pelosok-pelosok dusun mencari potensi usaha. Kita punya kerajinan bambu, kuliner dan banyak lagi berskala rumah tangga, mengingat masih banyak juga belum mendapat uluran bantuan dari dinas terkait karena sumber daya terbatas yang mengerjakan, dan terpenting yakni kekurangan dana,” paparnya.

“Alhamdulillah PNM Mekar datang memberikan sentuhan peningkatan kapasitas dalam pengelolaan usaha,” ucapnya.

Adapun pentingnya pelatihan ini adalah dalam rangka memajukan industri masyarakat yang masih awam dan tradisional untuk dapat mengikuti tren pasar seperti kaum milenial.

Ia berharap, Desa Montong Gamang bukan hanya memiliki artis mendunia, yakni Udin Sedunia. Namun Dusun Nyanggi dengan kerajinan bambu ini harus mendunia. Maka, ia berpesan kepada masyarakat dalam pelatihan yang dilaksanakan ini supaya diikuti kemudian dipraktikkan dalam rangka meningkatkan kemampuan.

Pimpinan PT PNM Mataram, Ade Kresna Setiawan mengungkapkan serapan kerja sebanyak 2.200 karyawan PNM di NTB. Dimana, hanya baru tiga minggu menjalankan tugas di NTB.

Ia sendiri menekankan tiga hal kepada para peserta pelatihan tersebut. “Tiga hal ini yakni modal pembiayaan, modal intelektualitas, modal sosial, Harapannya ketika berkumpul mengharapkan hal yang baik ketika sukses dalam usaha besar dapat merekrut tetangga sekitar, dalam hal menambah rezeki, menambahkan berkah dan membuka lapangan kerja baru,” ucapnya.

Pihaknya menginginkan kegiatan ini sesuai dengan program pemerintah daerah. Yang dalam semua programnya menggandeng pemerintah terbawah dari RT, kadus, desa, dan camat supaya semangatnya sama, yakni kemajuan masyarakat dalam peningkatan ekonomi masyarakat yang erat kaitannya dalam kecukupan kebutuhan pokok masyarakat dan untuk biaya anak sekolahnya tercukupi.

“Di Jawa saya mencoba mengkolaborasikan anyaman dengan tenun sehingga harga makin tinggi. Pemikiran kita UKM selama ini adalah Usaha Kecil Menengah, namun kita rubah menjadi Usaha Kecil Miliaran,” cetusnya.

Sementara pemateri pelatihan, Zaenuri Hamka yang juga merupakan Owner Purnama Shop menjelaskan, ia memberikan gambaran soal produk ataupun barang biasa tapi kegunaan luar biasa sehingga akan berpengaruh ke harga.

“Kita ini mau naik kelas, dimana dalam hal ini kegunaan lebih dalam kegunaan dalam kelas lebih mewah dan berharga. Dimana yang biasanya kita menggunakan tutup nasi (anyaman bambu,red), dan itu bisa kita gunakan sebagai parsel alas buah dalam acara-acara besar dan lebih berharga dan mewah,” ungkapnya.

Pelatihan ini dalam rangka peningkatan harga yang lebih tinggi dari produk bambu yang biasanya masyarakat produksi dan target pasarnya adalah pasar tradisional dan masyarakat ekonomi menengah. Pemikiran ini supaya dirubah dari barang biasa menjadi luar biasa. (tim)

50% LikesVS
50% Dislikes
Post Views : 424

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *