MENYISIR: Tim SAR Gabungan saat melakukan pencarian korban hilang dari KMP Putri Yasmin hingga perairan Laut Jawa, Senin (17/8).

LOBAR—Basarnas Mataram resmi menambah waktu pencarian korban Kapal Motor Penumpang (KMP) Putri Yasmin yang terbakar di Selat Lombok. Pencarian yang harusnya ditutup pada Selasa (18/8), diperpanjang sehari hingga Rabu (19/8). Perpanjangan ini diungkapkan pihak Basarnas atas permintaan dari keempat keluarga korban yang dinyatakan hilang.

Kepala Kantor Basarnas Mataram, Muhamad Hariyadi mengungkapkan hingga hari ketujuh pencarian, tidak ditemukan tanda-tanda korban, puing, dan KMP Putri Yasmin yang terbakar di Selat Lombok. Meski pencarian sudah diperluas hingga perairan selatan Laut Jawa dan mengerahkan Pesawat Cassa TNI AL, namun tetap saja belum membuahkan hasil.

“Kita juga mengerahkan helikopter Bell 412 milik PT SGI, kapal-kapal yang kita miliki di sini baik dari RB 220 Mataram maupun KAL Lembar, KAL Blongas milik TNI Angkatan Laut, RBB, kapal patroli polisi, RIB, termasuk kapal-kapal yang ada di sekitar lokasi, baik itu yang melintas dari Lembar ke Padangbai, Padangbai-Lembar, kita juga memberikan informasi kepada VTS untuk selalu mem-broadcast. Tapi hingga hari ini, di hari ketujuh pada pukul 17.50 sore, kita belum menemukan atau membuahkan hasil,” ungkap Muhamad Hariyadi kepada awak media.

Pertimbangan permintaan keluarga menjadi alasan utama Tim SAR Gabungan menambah satu hari lagi pencarian. Pihak keluarga korban, baik itu dari korban Selsviana Rambu, I Made Stutarjana, Slamet Yulianto, dan Yasir Arafat, tetap berharap para korban itu bisa ditemukan. Menurut Hariyadi, pencarian akan dimaksimalkan di pulau-pulau sekitar perairan Sekotong atau lokasi kejadian kapal tersebut terbakar.

“Harapannya, semoga korban bisa ditemukan. Dan kita tetap berupaya, kita mengharapkan doa, dukungan semua dari pihak keluarga agar operasi SAR ini bisa membuahkan hasil,” ucapnya.

Meski sesuai mekanisme ketentuan, pencarian hanya dilakukan selama 7 hari dan penutupan pencarian dilakukan ketika semua korban ditemukan. Namun, pencarian akan diganti dengan pemantauan informasi dari kapal yang melintas jalur Padangbai-Lembar dan sebaliknya dengan broadcast melalui VTS.

“Berdasarkan evaluasi, kalau tidak ada ditemukan tanda-tanda keberadaan korban, kita bisa nyatakan operasi SAR, bukan berarti selesai untuk ditutup tetapi dilanjut dengan pemantauan pada kapal-kapal yang melintas, memberikan broadcast melalui VTS,” jelasnya.

Terkait keberadaan KMP Putri Yasmin, Hariyadi mengaku hingga saat ini tidak ditemukan, baik itu melalui pantauan udara dari pesawat TNI AL dan helikopter, termasuk juga melalui pencarian laut dari kapal Tim SAR Gabungan yang dikerahkan.
Bahkan diungkapkannya, luas area pencarian sudah cukup jauh hingga perairan selatan Pulau Jawa. Bahkan, total luas pencarian dari hari pertama sampai ketujuh pencarian korban mencapai 12.537 nautical mile melibatkan sejumlah kapal pencarian Tim SAR Gabungan, kapal milik perusahaan KMP Putri Yasmin, helikopter, hingga pesawat milik TNI AL.

“Untuk hingga saat ini, kita tidak menemukan, baik itu melalui pantauan udara, pesawat udara Cassa 212 dari milik TNI Angkatan Laut maupun dari pihak helikopter, dari kapal kita juga yang menuju ke titik koordinat yang dicurigai, tidak ditemukan,” tegasnya.

Pihaknya tidak berani memastikan ke mana kapal itu hanyut dibawa arus laut. Sebab, berdasarkan dari SARMAP, mengarah dari Last Known Position (LKP) atau titik terakhir kapal itu terbakar diprediksi ke arah barat daya.

“Jadi, dia posisi selat kita ke selatan dulu, baru ke arah barat daya, selatan Bali, lalu sampai ke barat menuju ke arah selatan Jawa. Kalau berdasarkan perkiraan dari SARMAP, prediction,”

Kondisi medan wilayah pantai selatan atau Laut Selatan yang terkenal dengan arus lautnya dengan gelombang juga cukup menjadi kendala yang dihadapi Tim SAR Gabungan dalam proses pencarian. Sebab, kondisi gelombang itu hanya direkomendasikan besar atau tanker. Pihaknya juga tidak berani memastikan kemungkinan kapal itu sudah tenggelam atau tidak.

“Itu ada yang lain, yang investigasi terkait dengan kemungkinan-kemungkinan. Kita tidak bisa berandai-andai terkait dengan kemungkinan,” imbuhnya.

Jika nantinya hingga hari perpanjangan pencarian tidak membuahkan hasil, Hariyadi memastikan proses pencarian akan ditutup dan beralih pada pantauan informasi dari kapal-kapal yang melintas. Pihaknya juga sudah memberikan pemahaman terkait kemungkinan itu dilakukan.

“Sudah kita berikan pengertian untuk upaya yang sudah kita lakukan. Dan keluarga sendiri salah satunya juga selalu intens atau aktif dan sempat onboard juga, ikut dalam pencarian bersama Tim SAR Gabungan,” pungkasnya. (Win)

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *