Poto bersama Tim KKN PMD Unram Desa Salut bersama pihak terkiat.

Oleh : Tim KKN-PMD Universitas Mataram Desa Salut

KLU-Pernah Anda bayangkan bahwa limbah sarang madu yang biasanya dibuang atau dibakar ternyata bisa disulap menjadi pestisida nabati yang ramah lingkungan? Inilah yang dilakukan oleh mahasiswa KKN-PMD Universitas Mataram Desa Salut, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara.

Desa Salut merupakan salah satu Desa di Lombok Utara yang kawasannya masih sangat asri dengan pepohonan. Masyarakat disana banyak yang bekerja sebagai petani dan juga membudidayakan lebah, terutama lebah jenis Trigona. Setiap panen, para peternak lebah menghasilkan madu dengan kualitas tinggi dan akan dipasarkan hingga ke luar Pulau Lombok. Salah satu merk madu yang terkenal dari Desa ini adalah “Madu Due Bareng”. Namun, dibalik rasa manis madu, ada masalah lain yang muncul, yaitu limbah sarang madu. Selama ini, masyarakat hanya mengambil dan memanfaatkan madunya saja, kemudian sarang madunya bahkan dijual ke pengepul dengan harga murah, dibuang begitu saja, atau bahkan dimusnahkan dengan cara dibakar. Sehingga menimbulkan polusi udara dan masalah lingkungan.

Bahan-bahan pestisida

Disisi lain, para petani di Desa Salut masih bergantung pada pestisida kimia untuk melindungi tanaman. Penggunaan bahan kimia ini tidak hanya mahal, namun juga berisiko merusak ekosistem lingkungan dan menimbulkan masalah kesehatan.

Dari dua masalah ini, muncullah inovasi yang dapat menyelesaikan dua masalah tersebut, yaitu mengolah limbah sarang madu menjadi pestisida nabati yang ramah lingkungan. Inovasi ini tidak lahir begitu saja.

Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Lombok Utara yang diwakilkan oleh Bapak Sawaludin, S. Sos dari Analisa Sarana dan Prasarana Pertanian Ahli Muda turut berperan aktif sebagai pemateri dan pendampingan langsung dalam proses pembuatan pestisida nabati ini. Para petani dan mahasiswa KKN diberikan ilmu dan bimbingn teknis secara langsung oleh dinas, mulai dari pengenalan bahan baku, proses fermentasi, hingga cara aplikasi yang tepat di lahan pertanian.

Penghalusan bahan

Kenapa limbah sarang madu bisa jadi pestisida? Apa istimewanya sarang madu bekas? Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin muncul dari banyak orang. Ternyata, sarang madu tidak hanya tersusun dari lapisan lilin. Sarang lebah, khususnya Trigona, mengandung senyawa aktif yang bermanfaat, diantaranya adalah:

  1. Flavonoid, yaitu senyawa yang berfungsi sebagai pelindung alami dan penolak
  2. Tanin, berasal darri getah atau resin tumbuhan yang dikumpulkan lebah, berfungsi sebagai sistem pertahanan alami terhadap hama dan penyakit.
  3. Alkaloid, yaitu senyawa yang bersifat antibakteri, antifungi, dan pengusir hama

Ketiga senyawa ini bekerja secara bersama untuk mengganggu sistem saraf serangga, menghambat pertumbuhan hama, bahkan membuat hama kehilangan nafsu makan. Artinya, limbah sarang madu yang selama ini diabaikan ternyata senjata alami untuk melindungi tumbuhan.

Pembuatan pestisida nabati ini sangat sederhana dan dengan bahan dapur yang mudah untuk didapatkan. Berikut bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan limbah sarang madu:

  • 1 kg limbah sarang madu, dihaluskan
  • 200 gram daun mimba atau sirsak, dihaluskan
  • 200 gram kunyit, dihaluskan
  • 200 gram lengkuas, dihaluskan
  • 200 gram jahe, dihaluskan
  • 200 gram sereh, dihaluskan
  • Air gula/kelapa secukupnya
  • 220 ml EM4
  • 10 liter air cucian beras
  • 5 liter air putih
Pencampuran Bahan menjadi satu

Semua bahan yang sudah dihaluskan kemudian dicampur menjadi satu dalam wadah tertutup rapat. Selanjutnya larutan ini difermentasi selama 3 hari hingga 2 minggu. Selama fermentasi, tutup wadah harus dibuka sebentar setiap 2 hari sekali untuk mengeluarkan gas yang terbentuk dari hasil fermentasi. Dengan jumlah bahan tersebut, dapat menjadi 15 liter pestisida.

Setelah proses fermentasi selesai, pestisida siap digunakan. Keberhasilan fermentasi ditandai dengan aroma pestisida menjadi asam dan tidak terdapat bau busuk. Namun, sebelum disemprotkan ke tanaman, cairan ini terlebih dahulu harus disaring untuk memisahkan antara cairan pestisida dengan ampas bahan yang digunakan. Kemudian cairan ini harus dicampur dengan sabun colek. Sabun colek berfungsi sebagai perekat pestisida dengan tanaman, sehingga ketika hujan datang maka pestisida tidak akan terbawa oleh aliran hujan.

Pemindahan pestisida kedalam wadah

Penggunaan pestisida nabati ini tidak bisa asal semprot, hal ini tergatung pada kondisi tanaman. Ada perbedaan takaran antara tanaman yang sehat dan tanaman yang terserang hama. Aturannya sebagai berikut:

 

Kondisi Tanaman Takaran
Tanaman sehat (sebagai pencegahan) 100 ml pestisida + 200 ml air
Tanaman terserang hama 100 ml pestisida + 100 ml air

 

Penyemprotan dilakukan dengan secukupnya, cukup sampai membentuk seperti uap air seperti embun di permukaan tanaman. Jangan menyemprotkan terlalu banyak hingga membanjiri tanaman, itu akan merusak tanaman. Penyemprotan dilakukan pada area yang terserang hama, misalnya hama menyerang daun, maka penyemprotan dilakukan di area daun. Jika hama menyerang batang, maka penyemprotan dilakukan di area batang tanaman.

Penyaringan pestisida dari ampas bahan

Inovasi ini sangat membantu dan memberikan manfaat yang luar biasa bagi lingkungan dan masyarakat secara keseluruhan, terutama petani. Bagi lingkungan, pengolahan limbah sarang madu mengurangi tumpukan dan pembakaran sampah yang menghasilkan gas rumah kaca yang menjadi penyebab utama pemanasan global. Ini sejalan dengan gerakan Proklim yang mendorong masyarakat untuk melakukan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Bagi pertanian, pestisida nabati ini menjadi alternatif aman pengganti pestisida kimia. Pestisida ini tidak meninggalkan residu beracun di tanah dan air, sehingga ekosistem pertanian tetap terjaga. Uji coba pada tanaman cabe dan sawi menunjukkan hasil yang memuaskan. Petani juga tidak perlu membeli pestisida yang mahal. Mereka bisa memproduksi sendiri pestisida ini dari bahan-bahan yang tersedia di sekitar.

Inovasi ini juga merupakan wujud nyata dari pencapaian Suistainable Development Goals (SDGs), terutama poin 12 yaitu mengurangi limbah dan mendaur ulang.

Pestisida siap pakai

Apa yang dilakukan oleh mahasiswa KKN-PMD Universitas Mataram di Desa Salut adalah bukti bahwa solusi lingkungan dan pertanian sering kali ada di sekitar kita, bahkan dalam hal yang selama ini sering kita anggap hanya sampah. Limbah sarang madu yang melimpah kini bukan lagi masalah, melainkan sesuatu yang bisa dimanfaatkan.

Dengan inovasi dan kemandirian ini, masyarakat desa bisa menjadi paling terdepan dalam menjaga lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan mereka. Semoga inovasi ini menginspirasi desa-desa lain untuk melakukan hal serupa.(*)

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *