Pengamat: Konsep ‘Berjamaah’ Paling Masuk Akal

F paslon 02

IST/RADARMANDALIKA.ID TAMPIL: Paslon nomor urut 2, Ziadi-Aswatara saat menunjukkan salam dua jari, Senin malam.

PRAYA – Pengamat politik Universitas 45 Mataram, Dwi Hidayat Junaidi mengatakan, konsep kolaboratif sangat tepat dilakukan di Lombok Tengah (Loteng). Apalagi Loteng saat ini menjadi fokus perhatian dan pengembangan ekonomi berbasis pariwisata di tingkat nasional.

“Konsep berjamaah ini paling masuk akal dan memang harus mulai dilakukan di Lombok Tengah,” katanya, Selasa sore ( 1/12 ) .

Menurutnya, pembangunan infrastruktur di Loteng akan berjalan masif termasuk investasi swasta. Hal ini harus bisa diimbangi oleh Pemda Loteng dengan menyiapkan SDM setempat.

Peluang ekonomi dan pemberdayaan masyarakat, menurut dia, hanya bisa terwujud jika pemimpin daerah punya good will untuk ekonomi kerakyatan.

“Pembangunan kolaboratif atau yang disebut berjamaah oleh Ziadi Aswatara, bisa menjawab tantangan Lombok Tengah ke depan,” paparnya.

Dia menilai pasangan Wayent Wah mampu meraih poin lebih dalam debat publik putaran II di Loteng tersebut.

Sementara itu, penampilan cawabup, Lalu Aswatara yang berlatar belakang birokrat pada debat kedua itu dinilai menambah keyakinan publik akan penguasaan dan kemampuan pasangan nomor urut 2 itu membawa Loteng lebih baik.

Dibanding 4 paslon lainnya, Wayent Wah nampak menguasai panggung dan mampu menjabarkan gagasan mereka dengan sangat jelas dan menarik perhatian publik.

Di samping itu, pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Loteng nomor urut 2, Ahmad Ziadi – Lalu Aswatara (Wayent Wah) tampil nyaris sempurna di debat terakhir, Senin malam di D’max hotel.

 Gagasan dan konsep pembangunan kolaboratif dan partisipatif yang dikemas dalam pembangunan ‘berjamaah’ yang disampaikan pasangan Wayent Wah dinilai beberapa pihak menjadi solusi tepat bagi Loteng ke depan.

“Setelah 10 tahun berjalan dan kami analisa. Maka tidak ada jalan lain, pembangunan berjamaah harus dilakukan di Lombok Tengah,” tegas Ziadi di panggung debat.

Menurut Ziadi, Loteng bukan saja dikaruniai sumber daya alam (SDA) yang sangat kaya dan potensial, tetapi juga keragaman kultur, budaya, dan aspek sosial kemasyarakatan lainnya.

Ziadi menyebutkan, pembangunan Loteng tidak bisa dilakukan tanpa peran serta semua pihak, termasuk sektor swasta dan masyarakat.

Hal ini juga disampaikan saat menjawab pertanyaan tentang strategi pembangunan prioritas di saat APBD Loteng lebih besar untuk belanja pegawai daripada belanja publik.

Ziadi menekankan, disinilah pentingnya konsep berjamaah.”Misalnya, untuk membutuhkan Kota Praya saja dibutuhkan Rp 10 Miliar. Tapi dengan berjamaah bisa cukup Rp 1 Miliar kita sediakan alat dan ASN kita kerahkan. Ini juga akan membangun budaya bersih dan kebiasaan hidup bersih dan sehat. Hanya dengan Rp 1 Miliar. Ini contoh saja,” kata Ziadi.

Selain itu, untuk efisiensi dan efektivitas anggaran, Ziadi menegaskan, perlu ada upaya peningkatan PAD dan sekaligus mencegah kebocoran-kebocoran.  Misalnya, standarisasi harga NJOP, PBB dan lain sebagainya harus dilakukan dengan transparan.

“TKD aktif juga harus dilakukan tidak berdasarkan honorarium. Anggaran APBD Loteng juga perlu audit investigasi mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan pengawasannya,” sebutnya.

Terkait prioritas pembangunan, politisi Demokrat ini menegaskan, harus dimulai dari desa. Peningkatan infrastruktur desa dan peningkatan kapasitas kepemudaan di desa akan menjadi prioritas Wayent Wah ke depan.(jho/tim)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Kebutuhan Air Harus jadi Atensi Pemkab

Read Next

Gede Sakti Ajak Masyarakat Loteng Dukung PAS

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *