Pendapatan PDAM Giri Menang Fluktuatif

F AAAAir

PAKAI AIR: Seorang anak hendak membasuh wajah, belum lama ini.

MATARAM – Direktur Utama (Dirut) PT Air Minum Giri Menang, H Lalu Ahmad Zaini mengungkapkan, pendapatan perusahaan air minum plat merah cukup fluktuatif di masa pandemi Coronavirus Disease atau Covid-19. Karena dampak pandemi sekarang begitu besar. Salah satunya terhadap sektor ekonomi rumah tangga maupun industri.

“Karena sekarang covid ini semua terdampak. Ini besar pengaruhnya,” ungkap dia, belum lama ini.

Zaini menagatakan, dampak pandemi cukup besar terutama terhadap sektor industri. Misalnya, hampir semua perhotelan di Kabupaten Lombok Barat dan Kota Mataram ikut terdampak. Tingkat hunian atau okupansi hotel turun drastis. Sehingga, operasional perhotelan berkurang.

“Perhotelan semua gak ada yang makai (PDAM),” ungkap dia.

Sementara kata Zaini, sektor industri seperti perhotelan merupakan salah satu sumber penerimaan PDAM paling besar. Karena industri perhotelan terdampak pandemi, maka penerimaan PDAM otomatis mengamali penurunan.

“Walaupun di satu sisi di rumah saja, masyarakat ada peningkatan. Tetapi di sektor industri semuanya terganggu,” terang dia.

Disinggung berapa persen penurunaan penerimaan PDAM Giri Menang di masa pandemi. Zaini mengungkapkan, untuk semester pertama tidak terlalu banyak terjadi penurunan. Kenapa, karena pihaknya berusaha menggenjot salah satu sumber penerimaan yang dinilai masih memungkinkan untuk bisa menyumpang pendapatan. Contohnya di Gili Mas.

“Gili Mas saya genjot betul karena kapal-kapal persiar kan tetap berlabuh. Tidak boleh sampai kosong. Jadi, sekali berlabuh itu harus maksima makai air. Sehingga, semalam itu bisa pakai sekian kubik,” terang dia.

Berapa penerimaan PDAM Giri Menang selama setahun? Zaini enggan menyebutkan penerimaan secara normal per tahun. Apalagi penerimaan cukup fluktutif semenjak terjadinya pandemi Covid-19. “Gak bisa dirata-ratakan. Karena itu kan (penerimaan) fluktuasi,” ungkap dia.

Zaini juga menanggapi soal keluhan pelanggan rumah tangga karena setoran air meningkat. Untuk terkait tagihan, dia meminta agar pelanggan mengecek kubikasi pemakaian air. Karena tagihan air identik dengan kubikasi.

“Contoh bulan ini (September) pakainya 20, bulan lalu pakainya 15. Pasti akan berbeda kubikasinya,” ungkap dia.

Tagihan air tetap berpatokan pada angka meter. “Kalau mungkin angka meter umpama yang terbayar lebih tinggi dari fakta di lapangan, saya bisa koreksi. Tetapi kalau angka meter di rumah pelanggan tersebut masih tinggi dari yang sudah terbayar nanti dikalkulasikan,” terang Zaini.

Dia mengakui memang petugas tidak rutin turun membaca angka meter air pelanggan di beberapa wilayah di tengah pandemi. Sehingga, pihaknya memakai rata-rata pemakaian tiga bulan. Untuk itu, Zaini meminta pelanggan untuk membuat laporan pemakaian air.

“Tapi kan banyak yang ndak buat. Kalau ndak ada laporannya masuk sampai batas waktu, kami akan merata-ratakan tiga bulan terakhir,” terang dia. (zak)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

PAN Ancam Laporkan Bawaslu ke DKPP

Read Next

Kader Berkhianat Terancam Dipecat

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *