Sekretaris PWI NTB, Fahrul Mustofa, yang menerima kedatangan keluarga Yanuar bersama sejumlah wartawan. (ist)

MATARAM – Keluarga Muhamad Yanuar Fikri (26), pemuda asal Karang Kelok, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), tengah diliputi kecemasan.

Yanuar yang sebelumnya berpamitan kepada orang tuanya untuk bekerja di Singapura, justru mengabarkan bahwa dirinya berada di Myanmar. Keluarga juga mengaku diminta menyiapkan uang sebesar Rp70 juta agar Yanuar dapat dipulangkan ke Indonesia.

Persoalan tersebut disampaikan keluarga Yanuar saat mendatangi kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) NTB, Rabu petang, 23 September 2026.

Ibu Yanuar, Nurjanah, mengatakan anaknya berpamitan sekitar sepekan sebelumnya. Kepada keluarga, Yanuar menyampaikan rencana untuk kembali bekerja di Singapura, sebagaimana pekerjaan yang pernah dijalaninya.

“Sekitar seminggu yang lalu anak saya pamitan. Katanya bekerja seperti sebelumnya di Singapura,” ujar Nurjanah sambil menangis.

Namun, kecemasan mulai muncul ketika Yanuar menghubungi keluarganya sekitar pukul 17.00 Wita. Dalam komunikasi tersebut, Yanuar menyampaikan bahwa dirinya tidak berada di Singapura, melainkan berada di Myanmar.

Menurut Nurjanah, anaknya mengaku berada di kawasan pegunungan. Yanuar juga menyebut terdapat tentara yang berjaga di sekitar lokasi tersebut. Keterangan itu membuat keluarga semakin khawatir terhadap keselamatan Yanuar.

Keluarga Mengaku Diminta Tebusan Rp 70 Juta

Ayah Yanuar, Herman, mengatakan anaknya menyampaikan bahwa dirinya dapat dipulangkan ke Indonesia dengan syarat keluarga membayar uang sebesar Rp70 juta kepada seseorang yang disebut sebagai manajer. “Manajer minta tebusan Rp70 juta,” kata Herman.

Permintaan tersebut membuat keluarga semakin tertekan. Herman mengaku tidak memiliki uang sebesar Rp70 juta sebagaimana yang diminta. “Kami tidak ada uang sebanyak itu,” ujarnya.

Di tengah kondisi tersebut, keluarga berharap ada bantuan pemerintah dan pihak terkait untuk memastikan keberadaan serta keselamatan Yanuar dan membantu proses pemulangannya ke Lombok. “Kami berharap anak kami bisa kembali,” kata Herman.

Keluarga Sudah Mengadu ke Polda NTB

Herman mengatakan pihak keluarga telah berupaya mencari bantuan. Salah satunya dengan mendatangi Polda NTB dan kemudian diarahkan ke Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA). “Waktu di Polda NTB diarahkan ke Unit PPA. Mereka bilang hanya bisa menegakkan hukum,” ungkap Herman.

Keluarga juga telah berusaha menghubungi pimpinan DPRD NTB, H. Muzihir. Namun, saat itu Muzihir disebut sedang berada di luar daerah.

“Pak Muzihir sedang di luar kota. Beliau minta ke Komisi V DPRD NTB besok,” ujarnya.

Keluarga berharap pemerintah daerah, Kementerian Ketenagakerjaan, serta pihak terkait lainnya dapat membantu menelusuri keberadaan Yanuar di Myanmar dan mencari solusi agar yang bersangkutan dapat segera kembali ke Indonesia.

Keluarga juga meminta perhatian Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal serta dukungan masyarakat dan media untuk ikut menyuarakan persoalan tersebut.

PWI NTB Siap Membantu Mengawal Aduan Masyarakat

Sekretaris PWI NTB, Fahrul Mustofa, yang menerima kedatangan keluarga Yanuar bersama sejumlah wartawan, mengatakan kantor PWI NTB terbuka bagi masyarakat yang membutuhkan ruang untuk menyampaikan persoalan.

Dalam kesempatan tersebut, Fahrul langsung menghubungi Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Penempatan dan Perluasan Tenaga Kerja Disnaker NTB, M. Anang Yusran, untuk menyampaikan persoalan yang dialami keluarga Yanuar.

Menurut Fahrul, pihak Disnaker NTB merespons laporan tersebut dan menyatakan akan membantu mengawal persoalan yang dihadapi keluarga..“Insya Allah, besok pagi akan saya follow up masalah ini,” kata Anang.

Keluarga Yanuar kini berharap proses penelusuran dapat segera dilakukan sehingga keberadaan dan kondisi Yanuar di Myanmar dapat diketahui secara jelas.

Bagi keluarga, persoalan tersebut bukan semata-mata mengenai pekerjaan, tetapi menyangkut keselamatan dan kepulangan anak mereka. “Kami berharap anak kami bisa kembali,” ujar Herman. (*)

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *