banner 300x600

Meskipun “Digoda” Pemprov, Warga Tetap Tolak Ganti Nama Bandara

  • Bagikan
f Sangkep
IST/RADAR MANDALIKA GROUP SANGKEP: Ratusan masyarakat lingkar bandara melaksanakan Sangkep (pertemuan, Red) di salah satu rumah warga di Desa Ketara,Kecamatan Pujut untuk menindaklanjuti rencana aksi dalam waktu dekat, kemarin.

PRAYA—Kendati pernah digoda dengan program bernilai puluhan miliar oleh Pemprov NTB. Namun,  warga lingkar bandara semakin solid menolak perubahan nama bandara. Buktinya, siang kemarin ratusan warga melakukan konsolidasi melalui Sangkep di Desa Ketare. Adapun  ratusan warga lingkar bandara itu berasal dari Desa Penujak, Tanak Awu, Ketare, Sengkol dan Batujai. Tidak hanya itu, hadir juga tokoh-tokoh dari desa lainnya.

Seperti Desa Rembitan, Kawo, Setanggor, Mangkung, Bonder dan desa lainnya. Dalam pertemuan yang diinisiasi oleh beberapa tokoh dari Desa Ketara seperti Mamiq Tajudin, Mamiq Devi, Mamiq Dani dan beberapa tokoh juga dari Desa Rembitan itu, untuk konsolidasi aksi ke depan.

banner 300x600

Koordinator Gerakan Rakyat Menolak Pergantian Nama Bandara (GERAM) NTB, Lalu Hizzi menuturkan, dalam pertemuan tersebut disepakati untuk tetap konsisten menolak pergantian nama bandara. Bahkan dalam waktu dekat, tepatnya usai pelaksanaan event Bau Nyale, pihaknya bakal aksi besar-besaran. Dimana, dalam aksi tersebut bakal melibatkan perwakilan masyarakat di semua desa se-Loteng.

“Dari pertemuan tadi kami sampaikan bahwa tidak benar desa-desa ini telah setuju dengan perubahan nama bandara,” tegas mantan Ketua KNPI Loteng ini.

Untuk diketahui jelasnya, masyarakat lingkar bandara yang dijanjikan program miliaran oleh pemerintah provinsi (Pemprov) itu, semangatnya masih berapi-api. Itu terbukti dari beberapa inti penyampaian mereka yang mana dengan tegas untuk tetap menolak pergantian bandara dengan teriakan ‘BIL Harga Mati’. Sehingga, dari pertemuan ini telah disepakati soal pertemuan lanjutan untuk merumuskan pola pergerakan atau aksi yang akan dilaksanakan dalam waku dekat. Tujuannya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

“Kita perlu pola pergerakan yang tepat. Karena dari pertemuan tadi mereka rata-rata ingin mengepung bandara. Bahkan sampai ada yang ingin menginap di sana. Nah, hal-hal yang seperti ini kita hindari, kecuali memang situasinya yang memaksa harus demikian,” tandasnya.

Senada juga disampaikan oleh Ketua Formapi NTB, Ikhsan Ramdani. Masayarakat Loteng, khususnya desa lingkar bandara, masih solid dan kompak mempertahankan nama BIL atau LIA. Sehingga sampai saat ini, pihaknya bersama masyarakat lingkar bandara masih menolak keras nama BIZAM.

“Jadi Pemprov dan pihak Angkasa Pura I hendaknya jangan membandel dan tetap memaksakan diri untuk merubah nama bandara. Karena akan berpotensi konflik yang sangat besar. Tentu  akan menjadi presiden buruk bagi Pemprov saat ini,”  tutupnya. (tar)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *