Mengintip Aktivitas Ramadan di Pondok Pesantren Selama Pandemi Covid-19 (9)

F bok 2 1

IST / RADAR MANDALIKA MENGHAFAL : Para santri dan Santriwati Ponpes Dhiaul Fikri, saat mendapat tausyiah, sebelum mengulang dan menambah hafalan Alquran di pondok, kendati pandemi covid-19 masih mengintai.

Santri Fokus Menambah dan Perkuat Hafalan Alquran

Membangun santri yang berjiwa Qurani, salah satu misi Ponpes Dhiaul Fikri di Desa Sukarara. Ponpes ini sangat konsen dalam mencetak hafiz dan hafizah. Seperti apa ?

MUHAMAD RIFA’I – LOMBOK TIMUR

PONDOK Pesantren (Ponpes) Dhiaul Fikri berdiri tahun 200 silam, ponpes didirikan TGH Gunawan Ruslan, sepulang dari Kairo Mesir setelah lulus di perguruan tinggi tertua di Negeri tersebut, yakni Universitas Al-Azhar. Ia melanjutkan studi ke Al Azhar Kairo Mesir, begitu selesai mengenyam pendidikan di Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) Pancor, yang kini berubah nama menjadi Madrasah Aliyah Hamzanwadi (MAH) Pancor Lombok Timur (Lotim).
Ponpes Dhiaul Fikri, yang berdiri dengan bangunan megah di Desa Sukarara, Kecamatan Sakra Barat Lotim itu, bukan didirikan dengan proses yang mulus. Akan tetapi penuh dengan rintangan. Awal mula didirikan, sempat mendapat penolakan karena berbagai anggapan dan klaim masyarakat terhadapnya. Namun dengan semangat dan keyakinan tinggi, secara perlahan-lahan walau pun diterpa isu miring, tekad mendirikan ponpes Dhiaul Fikri itu, terus dijalaninya.
Awal mulanya hanya mendirikan beberapa ruang kelas saja, dengan konsen program dari banyaknya program yang ditelurkan, yakni Tahfiz Alqur’an. Secara perlahan, terus membuktikan diri ditengah masyarakat sekitar. Sampai kemudian keberadaannya diterima, dengan berbondong-bondongnya masyarakat mendaftarkan anak-anaknya di Ponpes tersebut.
Ponpes ini, mengelola Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMP IT), dan Sekolah Menengah Atas Islam Terpadu (SMA IT), dengan program yang sama. Sebab, santri mengenyam pendidikan tidak saja disekolah, melainkan mendapat pembelajaran tambahan di asrama. Tidak ada santri yang sekolah bolak balik dari rumahnya. Semua berada di pondok.
Mencetak santri yang qurani, menjadi fokus ponpes ini. Mereka digembleng menjadi hafiz dan hafizah, secara maksimal. Mereka mulai dibangunkan pengasuh, dari pukul 03.00 Wita dinihari, menunaikan salat tahajjud, dan selesainya bermurojaah (diskusi alquran), menambah dan mengulang hafalannya masing-masing.
Kata TGH Gunawan Ruslan, pendiri sekaligus pengasuh Ponpes Dhiaul Fikri, menghafal alqur’an, bukanlah perkara mudah. Mengahfal tidak mudah, karena banyak cobaan yang didapat ketika menambah atau pun mengulang hafalan. Salah satu cobaan besar dihadapi santri dalam menghafal, ialah rasa malas dan ngantuk. Belum lagi godaan lainnya yang harus mereka hadapi. Bagi yang mampu melawan godaan-godaan itu, maka mereka bisa menghafal Alquran sampai 30 juz.
Disadarinya, kemampuan masing-masing santri berbeda-beda dalam menghafal Alqur’an. Ada yang baru mendapatkan 10 juz, 15 juz, 20 juz dan 25 juz, kemudian tamat atau selesai mengenyam pendidikan di ponpes itu. Ada pula yang selesai menghafal 30 juz, sebelum selesai mengenyam pendidikan di ponpes itu.
Disebutkan, dari sejak ponpes ini berdiri sampai dengan sekarang, sudah 35 santri yang berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz. Mereka tidak sekadar hafal, tetapi telah bisa memberikan prestasi membanggakan dibidang tahfiz.
Sementara itu kaitan dengan kegiatan santri selama bulan ramadan dan ditengah pandemi Corona Virus Disease (Covid-19), kegiatan santri tidak terhenti begitu saja. Mereka justru dengan semangat tinggi, memanfaatkan bulan suci ramadan, dengan berbagai kegiatan positif, seperti salat taraweh, bakti sosial dengan cara urunan untuk bagi-bagi takjil, serta kegiatan paling pokok ialah memanfaatkan bulan ramadan, untuk terus menambah dan memperkuat hafalan Alquran.
Selama santri berkegiatan di pondok, disebutkannya santri tetap mengedepankan protokol kesehatan. Karena taat dan patuh terhadap protokol kesehatan, selalu di ingatkan pihak pondok. Baik ketika mengaji kitab, menambah atau mengulang hafalan dan sebagainya.
“Sudah menjadi cita-cita kami mendirikan pondok pesantren ini, sebagai wadah membangun generasi qur’ani dan berakhlak mulia, menjadi kebanggaan orang tua. Sehingga kedepan, bisa menjadi terdepan ditengah masyarakat. Dan pandemi covid-19, tidak menghalangi kami terus menggembleng para santri,”kata TGH Gunawan Ruslan, Pendiri dan Pengasuh Ponpes Dhiaul Fikri. (bersambung).

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Kejari Loteng Rahasiakan Hasil Klarifikasi Kasus UTD

Read Next

Semua yang Kontak Erat dengan Jenazah Covid di Ganti Negatif

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *