TADARUS: Para anak- anak tengah melakukan tadarus Alquran di salah satu musala di Desa Lanjut, kemarin.

Aktif Tadarus Alquran hingga Tabuh Beduk Waktu Sahur 

Setiap malam Ramadan, pemuda di Desa Lajut Kecamatan Praya Tengah melakukan serangkaian aktivitas hingga menjelang Subuh. Bahkan aktivitas mereka ini juga didukung melalui penyediaan bahan makanan secara bergiliran dari warga sekitar.

FENDI- LOMBOK TENGAH

KEGIATAN pada bulan suci Ramadan di setiap desa memang memiliki karakteristik tersendiri. Dimana, masing- masing tempat dipengaruhi oleh kondisi sosial masyarakat dan juga kebiasaan yang diwariskan para nenek moyang mereka yang kemudian dilestarikan secara terus menerus.

Demikian pula dengan kebiasaan remaja/remaji selama Ramadan. Mereka melakukan berbagai aktifitas keagamaan dan juga kegiatan yang sifatnya positif hingga memeriahkan bulan suci Ramadan. Salah satunya dengan menghias tempat ibadah, pemasangan lampion, dan lain sebagainya.

Demikian pula dengan para pemuda yang ada di Desa Lajut, Kecamatan Praya Tengah, Lombok Tengah. Dimana, setiap malam Ramadan mereka melakukan serangkaian aktivitas hingga menjelang Subuh. Bahkan aktivitas pemuda ini juga didukung melalui penyediaan bahan makanan secara bergiliran dari warga sekitar.

Salah seorang pemuda, Zulkipli menceritakan jika pada malam Ramadan para pemuda di desa terlibat dalam berbagai aktifitas dan juga kegiatan ibadah. Dimana setelah pelaksanaan ibadah salat sunnah Tarawih, para pemuda kemudian aktif melakukan tadarus Alquran hingga nantinya menabuh beduk sebagai tanda masuknya waktu sahur.

“Anak-anak setelah tadarusan biasa bangunkan sahur melalui pengeras suara di Musala Darul Islah Bawaq Buwuh Desa Lajut. Sama halnya dengan musala dan masjid yang ada di Desa Lajut. Selanjutnya mereka menabuh beduk di jalan raya di sekitar mukim di Dusun Lajut,” ungkap pria ganteng itu.

Kegiatan ini sebutnya sudah dilakukan masyarakat secara turun temurun di bulan Ramadan. Sehingga, setiap bulan Ramadan para pemuda secara sukarela terlibat dalam kegiatan tersebut sembari menyambung tali silaturrahmi antar para pemuda setempat.

Kegiatan tabuh beduk sendiri jelasnya dilakukan dengan berkeliling di wilayah mukim musala masing- masing untuk memastikan semua warga yang ada sudah melakukan santap sahur sehingga bisa menjalankan ibadah puasa dengan segar dan lancar.

Kendati makan sahur bukan menjadi syarat wajib puasa, namun di tengah banyaknya kesibukan masyarakat, makan sahur dapat menopang tenaga untuk melakukan berbagai aktivitas atau bekerja hingga sore hari di bulan suci.

“Ada tiga musala Dusun Lajut yang melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan oleh anak-anak dari Musala Darul Islah Bawaq Buwuh. Kegiatan ini rutin dilakukan setiap malam di malam bulan Ramadhan, bahkan sejak generasi-generasi sebelumnya,” sebutnya.

Setelah melaksanakan tugas membangunkan sahur. Para pemuda tersebut kemudian melakukan santap sahur dengan bahan makanan yang telah disiapkan warga secara bergiliran setiap malam. Selain menu santap sahur, mereka juga di berikan snack dan kopi sebagai camilan semalaman untuk membangunkan warga.

“Tradisi memberi makanan untuk orang tadarusan ini sudah dilakukan sejak dulu, bahkan dari puluhan tahun lalu di kampung kami,” ujarnya.

Selain itu, para pemuda juga nantinya melakukan kegiatan kemasyarakatan lainnya seperti pembagian takjil dan santunan anak yatim sebagai sarana berbagai rezeki terhadap sesama.(*)

50% LikesVS
50% Dislikes
Post Views : 586

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *