Direktur M16 Bambang Mei Finarwanto

MATARAM – Tahun politik saat ini banyak sekali muncul figur muda potensial yang berani mencalonkan diri sebagai Caleg DPRD kabupaten/kota, provinsi, DPR RI bahkan DPD. Banyak figur-figur muda yang memiliki kapasitas intelektual dan otodidak yang melebihi orang pada umumnya meyakini diri maju bersaing dalam kontestasi politik.

Ini menjadi investasi sosial terhadap partai yang dapat berguna untuk menelurkan figur baru yang memiliki kapasitas intelektual yang dapat memajukan partai ke depannya.

Direktur M16 Bambang Mei Finarwanto menilai caleg muda potensial tersebut banyak yang berbakat secara intelektual dan bahkan otodidak, namun sayang caleg muda potensial tersebut tidak memiliki logistik yang cukup untuk maju bersaing dalam kontestasi pemilu.

“Di sini sebenarnya kelemahan dari para caleg potensial itu. Investasi sosial pasti punya, misalnya dia ahli di bidang teknologi pertanian pasti dia sudah turun ke lapangan mengaplikasikan keilmuan itu atau paling tidak punya networking dengan yang ahli di bidang itu,” kata Didu sapaan akrabnya.

Banyak figur yang ahli di bidang ilmu terapan dan lainnya yang maju bersaing dalam kontestasi politik tetapi tidak memiliki “bekal” yang memadai untuk logistik pemilu, sehingga Didu menyarankan agar partai dapat memberikan mereka subsidi untuk maju.

“Partai harus berani mengeluarkan subsidi untuk caleg-caleg yang memiliki kapasitas intelektual, karena itu menjadi investasi politik ke depannya. Pasti figur itu ketika lolos dapat berbuat banyak untuk partai sekaligus membesarkan partai,” kata Didu.

Jika partai tidak berani untuk mengeluarkan subsidi, maka berpotensi caleg-caleg intelektual tersebut akan bersikap apolitik atau menganggap politik bukan menjadi dunia mereka, sehingga berdampak terhadap parpol akan kesulitan mencari generasi yang dapat membesarkan partai di kedepannya.

“Mereka memiliki kapasitas tapi tidak didukung dengan subsidi partai, maka pasti mereka akan bersikap apolitik dan mematikan generasi emas untuk parpol ke depannya, akan kesulitan mencari figur berkapasitas,” kata Didu.

Didu menyarankan agar partai-partai saat ini harus proaktif mencari figur seperti itu dan berani berinvestasi dengan mengeluarkan subsidi untuk logistik para caleg potensial.

“NTB ini banyak sekali orang-orang yang memiliki kemampuan, tapi bagaimana parpol harus berekspansi untuk itu dengan memberikan subsidi bagi mereka yang memiliki kemampuan otodidak,” ujarnya.

Figur muda potensial tersebut akan mewarnai wajah parlemen dan partai dengan ide-ide cemerlang dan kekinian yang berguna membesarkan partai ke depan.

“Jenjang akademis memang perlu, tapi ada juga orang yang belajar otodidak tapi enggak banyak. Ini juga harus diperhatikan partai yang akan memberikan masukan dan kajian-kajian untuk daerah mereka,” katanya.

Bagi Didu, caleg dengan kapasitas otodidak sebagai sebuah karunia yang berkontribusi besar untuk partai di ke depannya. “Orang-orang seperti itu yang perlu diberikan reward, karena akan mendedikasikan hidupnya untuk partai,” ujarnya.

Jika caleg potensial tersebut tidak diberikan subsidi di tengah pertarungan elektoral yang politik uang masih kuat tentu akan kalah, sehingga fungsi partai harus mampu menyelamatkan mereka.

“Caleg potensial akan megap -megap jika tidak memiliki cost politik yang memadai dalam melakukan penetrasi dukungan,” kata mantan Direktur Walhi NTB ini. (red)

50% LikesVS
50% Dislikes
Post Views : 253

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *