Lebih Dekat dengan Bambang Supratomo, Direktur Umum PDAM Lombok Tengah

F Bok 1 1

DIKI WAHYUDI/RADAR MANDALIKA Bambang Supratomo

Lama Bekerja di Perusahaan Besar, Masuk PDAM Karena Ingin Berkontribusi ke Darah

Bekerja pada perusahaan besar di Ibu Kota Jakarta tidak lah mudah. Apalagi, datang merantau tanpa skil. Namun beruntung bagi Bambang Supratomo, dimana dia diberikan kepercayaan oleh sejumlah perusahaan besar menduduki posisi strategis. Namun saat ini, ia memilih pulang kampung dengan alasan ingin berkontribusi ke daerah di tanah kelahirannya.

DIKI WAHYUDI-LOTENG

NAMA Bambang Supratomo memang asing. Banyak pihak yang penasaran dengan pria yang belum lama ini dilantik Bupati HL Pathul Bahri sebagi Direktur Umum (Dirum) yang juga Plt Dirut perusahaan daerah air minum (PDAM) Lombok Tengah.
“Saya asli orang Aik Darek Kecamatan Batukliang,” ungkapnya kepada Radar Mandalika, Sabtu kemarin.
Pria kelahiran 24 Juli 1984 ini menceritakan, awal dirinya masuk sekolah dasar pun di SDN Aik Darek, kemudian SMP di SMPN 1 Batukliang, sementara SMA di SMKN 1 Praya dengan mengambi jurusan pariwisata. Setelah tamat SMA, Bambang kemudian melanjutkan S1 di sekolah tinggi manajemen informatika dan komputer (STMIK) Bumigora Mataram.
“Tapi saya tidak selesai di STMIK, S1 saya selesai di Universitas Muhammadiyah Mataram dengan mengambil ilmu pemerintahan,” ceritanya.
Pria 39 tahun ini mengatakan, selama perjalanan dari bangku kuliah sampai menikah pada tahun 2006 silam, dirinya banyak focus di dunia ilmu bela diri tarung derajat atau boxer. Beberapa kali Bambang jadi atlet utusan Kabupaten Lombok Tengah di Kejurda bahkan Porprov. Banyak prestasi dia pernah peroleh.
”Juara II Alhamdulillah pernah,” katanya.
Diceritakannya, setelah cukup lama di dunia bela diri boxer sampai terakhir menggunakan sabuk merah. Dirasakannya jika masa depan atlet kurang cerah, sementara kebutuhan hidup keluarga harus dia penuhi.
“Modal nekat, tahun 2009 saya merantau ke Jakarta sendiri. Saya ingin cari pekerjaan dan pengalaman di ibu kota,” ujarnya.
Tidak lama di Jakarta, akhirnya Bank Danamon di Jakarta Selatan membuka lowongan kerja (Loker). Dalam kesempatan itu, Bambang pun memasukan lamaran, ia pun keterima dan mengikuti pelatihan kurang lebih 6 bulan lamanya. Pada pembukaan loker itu, Bank Danamon akan menyiapkan calon direkrut ini menjadi pekerja di bisnis baru bank ternama tersebut. Namun posisinya saat itu sebagai marketing analisa peminjaman nasabah.
”Iya kira-kira seperti KUR BRI sekarang ini,” sebutnya.
Tidak lama di bank, akhirnya Bambang memutuskan untuk mencari pekerjaan lain dengan suasana berbeda. Ia pun memasukan lamaran di perusahaan pembiayaan alat berat pertambangan pada PT. Kobexindo Tractors tbk dengan mendapatkan posisi tidak jauh beda saat di Bank Danamon. Namun kesejahteraan cukup menjamin.
Nasib terus berpihak kepadanya, tidak lama sebuah perusahaan asing asal Swedia yang bergerak di penyedia alat pengeboran terbesar di dunia, menawarkannya untuk bergabung di sana. Tertarik, akhirnya Bambang memutuskan bergabung di perusahaan bernama PT. Epiroc Southern Asia pada tahun 2017. Saat bertugas di sana, tugasnya juga hampir-hampir sama di perusahaan tempat sebelumnya bekerja. Namun lagi-lagi kesejahteraan bahkan masa depan hidup lebih baik lagi. Waktu itu, dirinya focus ditugaskan memegang PT. Freeport Indonesia yang melakukan aktivitas penambangan di Papua.
“Kalau dari sisi kesejahteraan ya cukup, namanya juga perusahaan besar. Saya kalau pulang ke Lombok sebulan sekali cari anak istri,” tuturnya.
Dari pengalaman dan perjalanan merantau di ibu kota, Bambang pun tiba-tiba merasa terpanggil untuk ingin bekerja dan mengembangkan pengetahuan bahkan pengalaman kerja di tanah kelahirannya. Secara kebetulan dirinya mendengar kabar ada pembukaan untuk calon direksi PDAM Lombok Tengah.
Bambang pun memberanikan diri menyampaikan keinginanya kepada istri dan keluarga. Namun apes, istri dan keluarga tidak ada yang dukung dengan alasan kesejahteraan bahkan masa depan lebih terjamin di tempat kerja saat itu. Bambang tidak habis akal, dia terus merayu keluarga agar diberikan izin dan akhirnya diberikan.
“Begitu lolos di PDAM, baru saya resign dari perusahaan tempat saya bekerja. Ya kurang sebulan kayaknya,” bebernya.
Dia menegaskan, pihaknya memilih masuk PDAM bukan orentasinya uang. Melainkan ingin berkontribusi ke daerah, menjadikan PDAM sebagai ladang amal ibadah dan terpanggil karena melihat kondisi PDAM sangat memprihatinkan di matanya. Demikian juga banyak persoalahn harus diselesaikan.
“Kalau sebuah perusahaan mau maju, perbaiki kualitas SDM di dalam dulu. Insya allah dengan ilmu dan pengalaman saya miliki akan saya coba terapkan di tempat ini,” janji Bambang.(*)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Gerindra Siapkan Bantuan Hukum untuk Wabup KLU

Read Next

Pengusaha Muda Roy Rendi Salurkan Sembako untuk Warga Jompo

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *