Kementerian: Perubahan Nama BIL Usulan Pemprov NTB

F BIL 2 1

DOK/RADAR MANDALIKA AKAN DIGANTI: Seorang warga melintas menggunakan sepeda motor di depan plang raksasa nama Lombok Internasional Airport (LIA).

MATARAM – Polemik panjang perubahan nama Bandara Internasional Lombok (BIL) menjadi BIZAM, belum ada akhirnya. Menteri Perhubungan (Menhub) yang dikonfirmasi media melalui Kasubag Humas Direkrut Jenderal Perhubungan Udara (DJU) Menhub, Iren Marizkha mengatakan, dalam Keputusan Pemerintah Nomor 39 tahun 2019 tentang tatanan Kebandarudaraan disebutkan bahwa nomenklatur penamaan bandara adalah hasil usulan dari pemerintah daerah.

“Jadi penamaan bandara tersebut menjadi bandara Zainuddin Abdul Madjid Internasional Airport berdasarkan usulan pemerintah provinsi (Pemprov) NTB kepada kementeria perhubungan,” jawab Iren yang dihubungi, kemarin.

Saat itu katanya, Menteri Perhubungan menerima usulan Pemprov dan DPRD NTB sehingga perubahan nama bandara dilakukan.  Bandara tersebut dikelola oleh Angkasa Pura (AP) I.

“Tepatnya terkait nama bandara bertanya kepada pengelola bandaranya,” arahkannya.

Dalam masalah tersebut, Menhub terlihat enggan ikut campur. Iren hanya menegaskan, tugas Kemenhub terus menjaga agar transportasi Indonesia berjalan dengan selamat aman nyama serta sehat.

Sementara itu, anggota DPR-RI, Suryadi Jaya Purnama (SJP) terlihat mendukung perubahan nama bandara tersebut. Bandara internasional itu aset negara yang dikelola oleh BUMN, kebetulan berada di Lombok Tengah. Bukan hanya milik dan kebanggaan masyarakat Lombok Tengah, tapi juga milik dan kebanggaan seluruh warga NTB.

“TGH.KH. Zainuddin Abdul Majid saya lebih akrab memanggil beliau dengan sebutan Maulana Syech memang benar berasal dari Lombok Timur dan pendiri NW. Tapi beliau bukan saja milik dan kebaggaan Lombok Timur dan warga NW, tapi satu-satunya putra NTB yang jadi pahlawan Nasional dan menjadi kebanggaan seluruh warga NTB bahkan kebanggaan bangsa Indonesia,” kata politisi PKS itu terpisah.

Menurutnya, nama bandara lazim menggunakan nama tokoh atau pahlawan. Misalnya, Bandara Sultan Salahuddin di Bima, bandara Sultan M Kaharuddin di Sumbawa, bandara Ngurah Rai di Bali, dan hampir semua bandara menggunakan nama tokoh dan Pahlawan sebagai bentuk penghargaan atas jasa para tokoh dan pahlawan agar generasi selanjutnya bukan termasuk generasi yang lupa sejarah. Masyarakat di daerah lain sangat bangga , kompak dan mendukung apabila tempat-tempat strategis menggunakan nama tokohnya untuk diabadikan.

“Kita warga Lombok/Sasak sudah sepatutnya bangga ada putra Lombok/sasak bisa diabadikan secara nasional dan internasional,” ucapnya.

Dijelaskannya, lagi di Lombok ada nama jalan Anak Agung Gede ngurah, jalan Udayana, Jalan Gajah mada dan lain yang bukan putra daerah bahkan banyak yang tidak tahu atau, mungkin belum tentu berjasa untuk daerah tapi diterima sebagai bentuk toleransi dan persatuan.

Karenanya, dengan segala kerendahan hati SJP sebagai putra Sasak/Lombok, warga NTB mengajak kelurga, Inaq-Amaq, Papuk-Baloq, Dane-Dane, Guru-guru tiang para Tuan Guru untuk menghentikan polemik nama bandara.

“Mari kita kompak saling dukung sebagai warga NTB/Lombok/Sasak. Masih banyak tokoh-tokoh kita yang harus kita abadikan ditempat strategis yang sedang di bangun oleh pemerintah seperti pelabuhan internasional di lombok barat dan lainnya agar nama warga NTB semakin dikenal secara luas,” jelasnya. (jho)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Labelisasi KPM Sebagai Kesadaran Masyarakat

Read Next

Dari Penampilan Tari Dedoro yang Dipentaskan Siswa SMAN 1 Gerung

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *