banner 300x600

Kemenparekraf Gelar CERPEN untuk Menggerakkan Ekonomi Lokal

  • Bagikan
IMG 20211111 WA0012
JHONI SUTANGGA/RADAR MANDALIKA NARA SUMBER : Sub Koordinator Strategi dan Promosi Event Daerah Kemenparekraf (Dua dari kanan), Vicky Apriansyah. CEO Gudang Mahakarya Indonesia - Festival Bau Nyale, Lalu Chandra Yudistira dan CEO Aksara Pesona Khazanah Ramadhan, Andre Andre Satriawan saat menjadi narsumber dalam Gelar Cerpen Menparekraf di Senggigi Lombok Barat 11/11/2021

MATARAM – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menggelar Sosialisasi Cerita Protokol CHSE Event (CERPEN) di Senggigi Lombok Barat, Kamis (11/11/2021). Kampanye tersebut bertujuan untuk membangkitkan semangat pelaku event di Indonesia untuk tetap berkreasi di tengah pandemi. Melalui ewat Sosialisasi Cerita Protokol CHSE Event (CERPEN), Kemenparekraf Kembalikan Gairah Industri Event di Berbagai Daerah. Sebelumnya Kemenpar telah menyelenggarakan kegiatan ini di Medan, Jogja dan Surabaya.

“Saat ini kita selenggarakan di Lombok NTB karena beberapa event Nasional akan banyak digelar di sini, bahkan event internasional dalam waktu dekat seperti WSBK, setelah itu akan kita gelar lagi di Makassar,” kata Sub Koordinator Strategi Event Daerah Kemenparekraf, Vicky Apriansyah di Senggigi Lobar Kamis (11/11/2021).

banner 300x600

Kegiatan ini lanjut dia bertujuan untuk meminimalisir penyebaran Covid-19, 
menggerakkan ekonomi lokal dengan
beradaptasi, berinovasi dan berkolaborasi bersama pelaku wisata di masa Pandemi salah satunya melalui buku panduan CHSE yang diterbitkan Kemenparekraf.

“Salah satu penggerak utama ekonomi di daerah adalah pariwisata. Dan penyelenggaraan event (musik, wedding, pameran, dll) yang sukses menerapkan protokol kesehatan yang ketat, akan menjadi indikator pulihnya sektor ini, baik di mata turis atau warga di daerah,” imbuh dia.

Untuk kegiatan di setiap daerah kata dia berbeda aturan. Event ini paling terdampak di awal pandemi, event identik kerumunan.

“Kami hadir dengan buku panduan sehingga event bisa dilaksanakan kembali. Beberapa penyelenggara event dengan inovasi terbaru dengan CHSE dari offline ke online atau hybrid. Seperti di jakarta terakhir tahun lalu dari promotor musik indonesia nonton konser dari dalam mobil dan acara jazz gunung secara hybrid dengan peserta 200 orang dengan prokes, pengaturan alur tempat duduk serta swab antigen. Saat PPKM longgar sebagian event akan melalui hybrid dan offline dengan prokes ketat,” terang dia.

Diharapkan dengan adanya buku panduan tercipta adaptasi, kolaborasi dan inovasi dalam kegiatan pariwisata sehingga kunjungan wisatawan serta okupansi hotel meningkat kembali.

Sementara itu, CEO Gudang Mahakarya Indonesia – Festival Bau Nyale, Lalu Chandra Yudistira menjelaskan pelaksanaan event di masa Pandemi jelas berbeda.

“Walaupun gampang mengawasi karena penonton dibatasi, terasa kurang seru. Tapi Pandemi memaksakan kita untuk kreatif lagi dalam berinovasi untuk peningkatan ekonomi rakyat seperti event bau nyale di tahun 2021 kita lakukan dengan dialog kreatif, peserta dan pengunjung dibatasi bahkan waktu dipersingkat,” tukas dia.

CEO Aksara Pesona Khazanah Ramadhan,
Andre Andre Satriawan menyatakan untuk khasanah ramadhan telah digelar dua kali di saat Pandemi yakni pada 2020 dan 2021. Pada tahun 2020 kegiatan penuh dilakukan melalui online kanal yutub.

“Pada tahun 2021 ini dengan adanya CHSE khazanah ramadan terlaksana secara hybrid. Digelar juga bazzar yang pengunjung dan pesertanya dibatasi sesuai CHSE. Dengan aturan CHSE Kemenparekraf khazanah ramadan bisa semarak lagi di tahun berikutnya,” pungkasnya. (Jho)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *