AKSI: Warga Tumpak, Kecamatan Pujut saat menggelar aksi di Kantor Bupati Loteng, Senin (13/2/2023). (HAZA/RADAR MANDALIKA)

PRAYA  – Putusnya jembatan yang menghubungkan Desa Pengembur dengan Desa Tumpak, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah masih menyita perhatian masyarakat setempat. Pasalnya, pasca tiga bulan jembatan tersebut putus total akibat dihantam arus sungai, namun Pemkab Loteng terkesan menutup mata sampai saat ini jembatan belum kunjung diperbaiki/dibangun. Sehingga warga menilai bahwa jembatan tersebut luput dari perhatian Pemkab.

Atas dasar itu, berdasarkan surat Tim Siaga Bencana Desa (TSBD) Desa Tumpak perihal pemberitahuan aksi damai yang ditujukan kepada Kapolres Lombok Tengah, menerangkan warga akan menggelar aksi damai pada Senin, tanggal 13 Februari 2023, di halaman kantor Bupati Loteng.

Dalam surat tertanggal 9 Februari 2023 yang ditandatangani Ketua TSBD Desa Tumpak, Mahyudin, tersebut secara tegas warga menjelaskan jika terputusnya jembatan tersebut akibat bencana alam, sehingga jalan utama tersebut menjadi terganggu padahal merupakan akses pariwisata.

Sebelumnya, hal senada juga disampaikan Puranawirawan. Dimana, keberadaan jembatan tersebut sangat vital bagi warga desa Tumpak dan juga warga lainnya. Pasalnya, dijelaskan dampak bagi desa Tumpak dengan terputusnya jalur utama desa, sehingga sembilan dusun yang dihubungkan dengan jembatan tersebut kesulitan untuk bisa mengakses pusat pemerintahan.

“Tumpak ini 19 Dusun, sembilan-nya di sekitar kantor desa, sedangkan sembilan-nya ada di wilayah atas, penghubung satu- satunya jembatan ini,” ujarnya.

Menurutnya, jembatan ini tidak hanya sebagai akses warga Tumpak. Namun merupakan akses pariwisata, pendidikan, ekonomi, dan keseharian sehingga jembatan tersebut sangat urgent untuk diperbaiki segera.

“Adanya jembatan sementara ini menjadi tanda kalau warga sangat butuh jembatan, sekali lagi karena ini akses utama,” terangnya.

F Jembatan 11zon
SEADANYA: Seorang warga melintas di jembatan seadanya yang dibangun di Desa Tumpak. (FENDI/RADAR MANDALIKA)

Lebih lanjut, kondisi jembatan sementara yang terbuat dari kayu tersebut dinilai tidak akan bisa bertahan lama. Hal ini selain karena faktor kekuatan, juga faktor alam. Dimana, dengan kondisi hujan yang sering turun menyebabkan air sungai sering besar dan menggerus penyangga jembatan sementara tersebut. Sehingga dikhawatirkan akan membahayakan pengendara hingga ancaman korban jiwa sebab kondisi jembatan yang cukup tinggi dan rentan runtuh.

Pihaknya berharap warga mendapat kepastian terkait tindak lanjut jembatan tersebut. Sehingga warga bisa aman dan nyaman menggunakan jalan tersebut, termasuk nantinya wisatawan asing yang setiap saat melintas di jalan tersebut.

“Kita berharap agar ini segera diperbaiki, karena ini juga tidak akan bisa bertahan lama,” harapnya. (ndi)

50% LikesVS
50% Dislikes
Post Views : 636

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *