Jaksa Bidik Program Peta Desa di Lombok Tengah

f kejaksaan

IST/RADAR MANDALIKA Catur Hidayat Putra

PRAYA – Kejaksaan Negeri (Kejari) Lombok Tengah (Loteng) diam-diam melakukan penyelidikan pada program pembuatan peta desa di wilayah Loteng.
Kasi Intel Kejari Loteng, Catur Hidayat Putra membenarkan bahwa pihak sebelumnya telah melakukan penyelidikan pada program pembuatan peta desa tersebut. Bahkan, pihaknya sudah meminta keterangan banyak kepala desa terkait program pembuatan peta tersebut.
“Ya betul, kita sudah melakukan puldata dan pulbaket pada program yang dilaporkan oleh masyarakat itu,” tegasnya, kemarin.
Ia menyatakan, dari hasil pemeriksaan sementara pada kades dan hasil LHP dari Inspektorat, pihaknya belum ada temuan pada program itu. Namun demikian, pihaknya akan terus melakukan penyelidikan pada program yang dilaksanakan secara bertahap di masing -masing kecamatan tersebut.
“Belum ada temuan bukan berarti kasus ini akan dihentikan. Apalagi, programnya sekarang sedang berjalan di masing-masing desa,” ungkapnya.
Ia mengaku, berdasarkan laporan yang diterima, masing-masing desa diminta mengeluarkan anggaran sebesar Rp 45 juta untuk membuat peta itu. Kemudian pembuatan peta ini langsung dihendel oleh pihak kabupaten.
“Peta itu tidak dibuat di desa. Namun dibuat oleh kabupaten. Tugas desa hanya mengeluarkan anggaran dan menunjukkan peta wilayah mereka masing-masing,” ujarnya.
Sebelumnya, Kades Semparu, Kecamatan Kopang, Lalu Ratmaji Hijrat menyatakan, untuk membuat peta desa itu, Pemdes di Kecamatan Kopang mengeluarkan masing -masing anggaran sebesar Rp 45 Juta yang disetor ke pemerintah kabupaten.
“Tugas kami dalam pembuatan peta itu hanya mengeluarkan anggaran dan menunjukkan batas-batas wilayah pada tim yang turun saat pemetaan itu berlangsung,” katanya dengan tegas di kantornya, Jumat (9/7).
Ia menyatakan tidak mengetahui apakah anggaran Rp 45 Juta itu diberlakukan untuk semua desa di Lombok Tengah atau hanya desa di Kecamatan Kopang saja. Sebab, pembuatan peta desa ini dilaksanakan secara bertahap antar kecamatan secara bergiliran setiap tahunya. Misalkan tahun ini desa Kecamatan Kopang, tahun berikutnya desa di kecamatan lainya.
“Tetap bergiliran setiap tahunnya. Karena jumlah desa ini cukup terbilang banyak. Hampir ratusan desa,” terangnya. (Jay)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Belum Ada Bisnis Vaksin di NTB

Read Next

Kasus Desa Puyung, Polisi Segera Tetapkan Tersangka

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *