Haji Jempol Merasa Dizalimi, Kadis Minta Diproses

F H Jempol

DOK PRIBADI FOR RADAR MANDALIKA H Jempol

PRAYA – Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kecamatan Pujut, Haji Jempol mulai bicara lantang. Gara-gara merasa kurang adilnya penegakan aturan. Kasus dugaan pelanggaran netralitas sebagai ASN yang diduga dilakukannhya begitu cepat proses. Bahkan sampai dilimpahkan ke Polres.

Disentilnya, sementara empat kepala dinas dan seorang oknum kabag yang menunjukkan salam empat jari di Sembalun justru tidak jelas prosesnya seperti apa. Dia mengaku, sudah dua kali memenuhi panggilan polisi. Parahnya lagi, awal pemanggilan dia sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi.

“Saya pernah diklarifikasi Bawaslu Lombok Tengah tingkat kecamatan, kemudian masuk ke tingkat kabupaten dan terakhir kasusnya dibawa ke Polres Loteng. Saya dipanggil tiga minggu lalu oleh pihak bawaslu. Seminggu kemudian saya dipanggil ke Polres Loteng,” ungkapnya pada Radar Mandalika.

Dijelaskan dia, di polres sendiri dirinya mengaku hanya dimintai keterangan apakah memang benar dirinya telah mengomentari sebuah status dengan foto salah satu pasangan calon. Namun, yang membuat dirinya bingung kenapa kasus dirinya sangat cepat ditetapkan sebagai tersangka. Sedangkan kasus ASN beberapa waktu lalu masih belum jelas statunya seperti apa.

 “Hari Sabtu kemarin saya dipanggil untuk dimintai keterangan, dan Selasa kemarin status saya sudah jadi tersangka. Lah kemudian pelanggaran kadis beberapa orang itu bagaimana,” tanya dia.

Haji Jempol menyampaikan, bahwa saat ini dirasa ada ketidakadilan yang diperlihatkan oleh pihak yang tidak mampu menjalankan tugasnya dengan adil dan bijaksana. Ada beberapa kasus yang sama yakni pelanggaran netralitas ASN, namun dalam penanganannya diperlakukan berbeda.

 “Kalau kita lihat kasus pose para kadis kemarin sudah jelas lebih parah ketimbang saya yang cuma berkomentar di media sosial. Tapi kita lihat penganannya kok terkesan pilih kasih,” ungkapnya.

Dirinya sudah mengakui, dia salah dan  ikhlas jika memang sudah ditetapkan sebagai tersangka, namun ia juga meminta keadilan terkait apa yang jelas diperlihatkan oleh pejabat kemarin juga harus ditindak tegas.

“Jadi jangan tebang pilih seperti ini, saya merasa dizalimi,” katanya.

Jempol menilai, proses kasus terhadap dirinya terkesan sangat cepat tidak seperti kasus ASN yang lain. “Kalau saya diklarifikasi kok dikebut, sedangkan kasus yang lebih awal muncul terkesan mengendap dan didiamkan,” tanya dia.

Jempol mengaku selalu kooperatif terhadap seluruh pemanggilan yang dilayangkan terhadap dirinya. Maka dari itu, kalaupun kasus dirinya ini sudah ditetapkan menjadi tersangka, maka dia meminta kasus ASN lain juga diperlakukan sama.

“Jadi kebut juga dong kasus yang lain,” pinta dia.(buy)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Dewan Tarip Tampung Aspirasi Warga Beleka

Read Next

Jarot-Mokhlis Beberkan Program Prioritas, Pendidikan dan Kesehatan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *