Gawat! Posisi GTT Lulusan PGSD Terancam PPPK

  • Bagikan
Hj Neni Hadiyatmi
HAZA/RADAR MANDALIKA HJ NENI HIDAYATMI

PRAYA – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Lombok Tengah melalui Bidang Ketenagakerjaan, Hj Neni Hidayatmi mengatakan, dampak perekrutan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) bagi lulusan PGSD yang masih berstatus guru tidak tetap (GTT) pasti banyak yang akan tersingkir.

Pasalnya, dalam proses seleksi tahap I sampai III dalam tes tersebut, guru honorer di sekolah negeri yang tidak lulus tahap I diadu dengan guru swasta yang sudah memegang sertifikat pendidik. Begitu juga ditahap III seleksinya semakin ketat lintas kabupaten tanpa bantuan afirmasi.

“Setalah SK penetapan tugas PPPK sudah diterima tentu guru honorer di SD yang tidak dapat formasi di sekolah induk akan tersingkir dengan guru PPPK. Hitung saja rata-rata formasi yang ada di masing-masing sekolah memiliki jatah enam formasi dan itu diisi oleh tiga tenaga honorer dari sekolah induk dan sisanya guru dari luar. Maka berapa GTT yang akan tergeser posisinya jika dilihat dari jumlah SD yang ada di Lombok Tengah,” terangnya.

Kepala SDN Durian ini mengatakan, pada intinya adanya PPPK akan menyebabkan migrasi besar-besaran. Yang mana guru SMP akan turun gunung merebutkan formasi yang ada di SD yang kuotanya 1886 formasi. Belum lagi guru swasta memiliki peluang yang sama mengisi formasi tersebut menggantikan guru honorer yang tidak mendapatkan bantuan afirmasi di sekolah induk.

“Sekarang PPPK tahap II sedang proses pemberkasan. Dampaknya lulusan PGSD banyak yang akan menganggur atau tersingkir,” ujar Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kecamatan Janapria ini.

Berkaca dari masalah ini, pihaknya bersama pengurus PGRI kabupaten, provinsi dan pusat sudah berkoordinasi untuk dicarikan solusi supaya GTT lulusan PGSD tetap diperhatikan dan berdayakan.

“Coba dari sekian formasi yang ada dibagi dua dengan SMP mungkin kebutuhan guru akan terpenuhi dan persaingan juga tidak terlalu berat karena bisa mengambil formasi di sekolah induk masing-masing jika itu kita lihat dari pemerataan guru,” terangnya.

“Akan tetapi jika dilihat dari segi peningkatan mutu pendidikan kedepannya memang ini tujuan bagus supaya guru-guru SD diisi oleh guru-guru yang memiliki kredibilitas yang lebih baik,” tutupnya.(cr-hza)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *