Ekspoitasi Anak di Mataram Masih Marak

Anak

DISOS KOTA MATARAM/RADAR MANDALIKA PENERTIBAN: Penertiban dugaan eksploitasi anak dengan mempekerjakan anak pada malam hari di simpang empat Jalan Airlangga oleh Satgas Disos Kota Mataram, belum lama ini.

MATARAM – Tindakan dugaan eksploitasi anak hingga saat masih marak terjadi di Kota Mataram. Bahkan anak dieksploitasi oleh orangtua sendiri. Anak dipekerjakan sebagai pedagang asongan, menjual tisu di jalanan dan juga dibawa ke jalanan untuk dimanfaatkan sebagai pengemis agar mendapat empati dari pengguna jalan.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Mataram, Hj Dewi Mardiana Ariany, tak membantah jika kasus ekspolitasi anak di Mataram masih marak terjadi. Fenomena anak jalanan, pekerja anak sebagai pedagang dan mengemis di jalanan dibenarkan itu termasuk tindakan eksploitasi terhadap anak. “Itu eksploitasi sih,” kata dia pada Radar Mandalika, kemarin.
Pantuan di lapangan kemarin (19/5) siang, dua orang anak masih di bawah umur masing-masing laki-laki dan perempuan sedang meminta-minta atau mengemis ke para pengguna jalan di di traffic light Jalan Sriwijaya, depan Gedung Kantor DPD I Golkar NTB. Ketika lampu merah, keduanya secara bersamaan meminta uang dari pengendara satu ke pengendara lainnya.
Dewi sangat menyayangkan masih maraknya terjadi tindakan eskploitasi anak dengan berbagai modus di beberapa titik lokasi jalanan di ibu kota Provinsi NTB. Seperti di simpang empat Jalan Airlangga, simpang empat Jalan Sriwijaya depan Kantor DPD I Golkar NTB, simpang empat Selagaslas, dan dibeberapa titik lainnya.
DP3A Kota Mataram selama ini sebetulnya sudah berupa keras mencegah dan mengendalikan fenomena eksploitasi anak. Misalnya di simpang empat Jalan Airlanga. Dikatakan pihaknya sebelumnya bersama Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Polresta Mataram, Dinas Sosial Kota Mataram, dan lurah setempat terjun melakukan penertiban dan penanganan terhadap anak dan orang tua melibatkan anak dalam profesi mereka di jalanan itu.
“Waktu itu kasus di Airlangga. Ada sih pernyataannya. Kalau dia lagi mengulangi, janjinya di atas hitam putih waktu itu dia sanggup diangkat (diangkut). Janjinya ndak akan bedagang, ndk akan jauk (bawa) anak,” tutur Dewi.
Perempuan berjilbab ini mengakui, fenomena eksploitasi anak masih marak. Orangtua yang sudah diberikan peringatan keras belum juga jera. “Berkali-kali pihak sosial (Dinas Sosial Kota Mataram) ngangkut dia, tapi lagi balek (ke jalanan). Akhirnya kita libatkan jejaring penegak hukum,” kata Dewi.
Dia mengancam orangtua yang terus melakukan tindakan eksploitasi terhadap anak dengan berbagai modus. Akan dijerat dengan Undang-undang (UU) Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Sejauh ini belum ada penjatuhan atau pemberian sanksi bagi orangtua bandel yang mempekerjakan anak di jalanan. “Masih diimbau,” kata dia singkat.
DP3A dan Dinas Sosial Kota Mataram harus bekerja sama dalam mengatasi persoalan tersebut. Alternatifnya, bagi anak yang sudah tidak ada orangtuanya bisa dibawa ke panti sosial anak. “Kalau memang anak yang ndak punya ibu-bapak, itu yang saya mau bawa ke Paramita. Tapi ternyata punya ibu-bapak,” ujar Dewi.
Terkait pembinaan terhadap orangtua dalam rangka mecegah maraknya muncul kasus eksploitasi terhadap anak. Dewi mengatakan, pihaknya sejauh ini sebetulnya sudah aktif memberikan sosialisasi di kelurahan. “Kita harus parenting (pola asuh anak). Bila hari saya masuk ke kelurahan. Tapi sekarang pandemi (Covid-19),” ujar dia. (zak)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Badan Kehormatan Diminta Turun Tangan

Read Next

Siap-siap, Pansel Sekda Loteng Dibuka Pekan Depan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *