LOBAR—Ribuan kepala keluarga (KK) terdampak kekeringan di Lombok Barat (Lobar) menerima bantuan pangan dari Dinas Kelautan, Perikanan, dan Ketahanan Pangan (DKPKP) Lobar. Kekeringan yang terjadi hampir tiga bulan itu membuat sejumlah lahan pertanian kering dan gagal panen.

Kepala Dinas KPKP Lobar, H. Afgan Kusuma Negara, mengungkapkan bahwa selama bulan Oktober ini beberapa desa mengusulkan permintaan bantuan pangan kepada Pemkab Lobar dampak banyak lahan petani yang gagal panen.

“Kami menerima sejumlah permohonan bantuan pangan berupa beras dari beberapa desa yang langsung ditujukan kepada Ibu Wakil Bupati dan beliau mendisposisikan kepada kami untuk ditindaklanjuti,” terang Afgan saat dikonfirmasi, Jumat (23/10).

Dari data dinas, terdapat lima desa yang sudah dibantu DKPKP berdasarkan usulan bantuan yang diterima pihaknya. Terdiri dari Desa Kuripan Selatan untuk 321 KK sebanyak 1.284 kilogram, Desa Kuripan Utara untuk 500 KK sebanyak 2.000 kilogram, Desa Sekotong Tengah untuk 292 KK sebanyak 1.168 kilogram, Desa Kuripan untuk 300 KK sebanyak 1.500 kilogram, dan Desa Giri Sasak untuk 205 KK sebanyak 1.025 kg.

Menurut Afgan, desa-desa itu masuk daerah peta kerawanan pangan karena menjadi langganan kekeringan setiap tahunnya.

“Kalau memang permohonan itu berasal dari desa-desa yang ada di peta kerawanan pangan, kami akan langsung berikan mereka bantuan sejumlah KK yang ada di permohonan proposal dari desa itu. Adapun jumlahnya (besaran beras) sesuai dengan kemampuan cadangan beras pemerintah yang kami punya,” jelas Afgan.

Setiap KK menerima sekitar 5 kilogram beras. Hal itu disesuaikan dengan kondisi cadangan beras Lobar saat ini yang masih menyisakan sekitar 60 ton hingga akhir 2026. Sehingga pihaknya benar-benar melakukan pengecekan ke lokasi untuk memastikan permohonan usulan itu sesuai dengan peta kerawanan pangan. Beberapa daerah yang masuk di antaranya Kecamatan Lembar, Sekotong, Kuripan.

“Total bulan Oktober sudah total 6.977 kg beras kita salurkan untuk 1.618 KK terdampak kerawanan pangan akibat kekeringan,” imbuhnya.

Lebih lanjut Afgan menjelaskan, penyebab daerah itu masuk peta kerawanan pangan lantaran dilanda kekeringan ekstrem setiap tahunnya. Kondisi itu menyebabkan terjadinya kerawanan pangan karena gagal panen hingga tidak bisa melakukan bercocok tanam, karena tidak ada air untuk lahan pertanian.

“Nah, kalau permohonan dari desa-desa yang tidak ada dalam peta kerawanan pangan itu, kami cek ke lokasi, survei betul atau tidak. Kalau memang betul, kami akan berikan bantuan berupa beras,” sambungnya.

Pihaknya memperkirakan usulan permintaan bantuan pangan itu akan bertambah, sebab diakui Afgan sudah ada beberapa proposal dari beberapa daerah yang masuk ke Pemda. Terlebih kondisi kemarau panjang yang masih terjadi. Bahkan BMKG memprediksi cuaca itu masih terjadi hingga November 2026.

“Ada beberapa proposal yang belum sempat kami realisasikan. Insyaallah mulai Senin kita jalan lagi untuk mengambil beras di Bulog dan kita antarkan ke desa-desa tersebut,” bebernya.

Mengatasi kondisi itu, pihaknya juga sudah mengimbau para petani untuk memilih menanam tanaman yang cepat dipanen, bahkan hanya butuh waktu berminggu-minggu.

“Menanam tanaman yang cepat panen, seperti sawi yang umurnya mingguan, begitu. Karena kalau tanaman yang sampai bulanan itu rawan sekali mengalami kegagalan. Seperti jagung, kedelai, apalagi kurang-kurang kita punya modal untuk diesel air, itu bisa gagal panen,” imbaunya. (Win)

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *