LOBAR—Lentera Hati Islamic Boarding School terus mengembangkan fasilitas pendidikannya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Pondok Pesantren (Ponpes) yang berada di Desa Jatisela, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat (Lobar) bahkan telah menghadirkan Ponpes Inklusi pertama di Indonesia. Bahkan sudah ada 10 santri berkebutuhan khusus yang ikut mondok di Ponpes tersebut.
“Yang tidak dimiliki oleh pondok yang lain se-Indonesia, sudah dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan sebagai sekolah inklusi. Tapi karena sekolah ini boarding (pondok), maka kami diminta menjaga benar-benar anak-anak yang diamanahkan kepada kami,” ungkap Pimpinan Ponpes Lentera Hati Islamic Boarding School, Muazzar Habibi, Kamis (22/10).
Para santri berkebutuhan khusus yang dipondokkan di sana memiliki kebutuhan dan pendampingan yang berbeda-beda. Karena memerlukan perhatian lebih, kondisi ini pun tak dimungkirinya rentan terhadap potensi bullying. Namun, pihaknya memberikan pemahaman tidak boleh ada diskriminasi kepada seluruh santri tanpa ada pengecualian, walaupun itu anak yang hafal hingga 30 juz Al-Qur’an, atau pun santri yang berulang kali masih harus mempelajari Iqra.
”Tapi dengan saksama, dengan kesabaran, para guru di sini mendidik mereka tanpa diskriminasi,” jelasnya.
Kendati dalam kesehariannya para santri berkebutuhan khusus ini mengikuti pembelajaran di kelas inklusi, untuk kegiatan sosial dan alam, mereka tetap dilibatkan bersama dengan para santri lainnya.
”Itu sebagai salah satu bentuk percepatan perkembangan kognitif dan sosial mereka,” jelas pria yang akrab disapa Abah Muazzar tersebut.
Menurutnya, lima persen dari siswa setiap kelas diisi oleh anak berkebutuhan khusus. Dari total sekitar 1.300 santri, 65 di antaranya merupakan anak berkebutuhan khusus, mulai dari jenjang SD hingga SMA. Bahkan sekitar 10 santri mempercayakan untuk ikut mondok.
“Dan ini memang kita jaga dengan ekstra,” tuturnya.
Proses belajar di sekolah maupun di pondok diupayakan untuk setara, agar jangan sampai ada diskriminasi, hingga berujung perundungan.
“Bulan-bulan pertama itu adalah bulan berat bagi kami untuk menyampaikan kepada yang lain, bahwasanya ini temannya (yang berkebutuhan khusus) juga punya kesempatan yang sama,” terangnya.
Yang juga menjadi pembelajaran penting di sekolah inklusi diakui Muazzar soal pembentukan kepercayaan diri para santri.
“Mereka harus ikut berinteraksi dengan masyarakat sekitar, teman-temannya. Dan itulah yang menumbuhkan solidaritas dan kepercayaan diri mereka,” pungkasnya.
(win)

