LOBAR—Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang serta Kawasan Permukiman (PUPR-KP) terus memacu penyelesaian proyek infrastruktur jalan di ruas Lendang Re, Kecamatan Sekotong. Meski sempat mengalami keterlambatan dari target kontrak awal yang seharusnya rampung pada Desember tahun lalu. Dinas memastikan pengerjaan kini telah memasuki tahap krusial.

Kepala Dinas PUPR-KP Lombok Barat (Lobar), Lalu Ratnawi, menerangkan bahwa keterlambatan itu disebabkan faktor cuaca ekstrem. Mengingat wilayah Sekotong sempat berada dalam status tanggap darurat akibat tingginya curah hujan.

Pengerjaan fisik di lapangan sempat terhenti total beberapa bulan akibat kondisi cuaca yang tidak mendukung. Intensitas hujan yang sangat tinggi pada periode akhir Desember 2025 hingga Februari 2026 memaksa tim di lapangan menghentikan sementara guna menjaga kualitas struktur jalan yang sedang dibangun.

“Memang kemarin sempat keterlambatan, dan keterlambatannya pun itu banyak faktor memang yang mengakibatkan. Seperti yang dari akhir Desember, Januari, Februari itu hampir kita pakum karena curah hujan tinggi dan di Kecamatan Sekotong kan ada SK tanggap darurat Pak Bupati,” ujar Lalu Ratnawi beberapa hari lalu.

Kondisi cuaca itu bahkan menyebabkan lapisan pondasi atas (LPA) yang telah dipasang mengalami kerusakan tergerus air hujan. Pihak kontraktor harus melakukan penyetopan pekerjaan sementara selama kurang lebih satu setengah bulan.

Terjadinya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Dex tambah menghambat pelaksanaanya. Berdampak langsung pada kelangkaan dan lonjakan harga aspal di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB). Hal ini sempat menjadi poin yang diklarifikasi oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dalam proses pengawasan proyek.

“Itu penyebabnya,” ucapnya.

Meski demikian pihaknya mengedepankan ketaatan terhadap aturan kontrak yang berlaku. Sebagai konsekuensi dari perpanjangan waktu pengerjaan, pihak pelaksana proyek dikenakan sanksi berupa denda sesuai dengan ketentuan yang tertuang dalam kontrak kerja.

“Berakhir Desember dan kita lakukan perpanjangan, dan itu secara aturan boleh dan itu juga langsung kita lakukan denda juga seperti aturan yang ada di kontrak,” tegas Lalu Ratnawi.

Langkah ini diambil untuk memastikan akuntabilitas penggunaan anggaran daerah sekaligus memberikan motivasi bagi kontraktor untuk segera menuntaskan tanggung jawabnya.

Saat ini, ketersediaan stok aspal dilaporkan sudah l siap meskipun diperoleh dengan harga yang lebih tinggi akibat imbas kenaikan BBM. Tim di lapangan kini tengah fokus melakukan perapian kembali pada lapisan LPA.

“Mudah-mudahan target kami sih satu dua minggu sudah selesai. Makanya itu terus kami kawal terus, awasi terus di lapangan setiap progresnya, mudah-mudahan ini bisa cepat clear,” tambah Ratnawi.

Penyelesaian jalan ini diharapkan dapat menjadi urat nadi baru bagi mobilitas warga di Kedaro dan wilayah Sekotong pada umumnya. Infrastruktur jalan yang mantap dinilai sangat krusial untuk memperlancar jalur ekonomi masyarakat dan meningkatkan aksesibilitas di wilayah selatan Lombok Barat. Dengan dukungan cuaca yang membaik, proyek ini diharapkan tuntas tanpa kendala tambahan demi kenyamanan masyarakat. (win)

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *