Cerita MH, Pria yang Tertipu Menikahi Bencong di Lombok Barat

F BOK. scaled

WINDY DHARMA/RADAR MANDALIKA BERKISAH: Korban MH bersama pihak Desa Gelogor dan kuasa hukumnya saat ditemui di kantor desa setempat, kemarin.

Kenal Empat Bulan, Mas Kawin 500 Ribu Ditambah Segelas Air Zam-zam

Berita tertipunya pria inisial, MH yang menikahi wanita dan ternyata pria membuat heboh dunia maya. Sampai sekarang masih jadi buah bibir masyarakat di Lombok khususnya.

WINDY DHARMA-LOMBOK BARAT

MENGENAKAN baju kotak-kotak dengan masker hijau menutup sebagian wajahnya, MH akhirnya muncul ke permukaan. Nama MH belakangan mencuat dipemberitaan usai kisahnya menikahi wanita yang ternyata adalah pria. Didampingi Kepala Desa Gelogor Kecamatan Kediri dan kuasa hukumnya. MH akhirnya menceritakan kisah yang membuatnya dan keluarga besarnya malu serta terpukul sampai sekarang.

Kisah dimulai ketika MH berkenalan dengan MIT melalui aplikasi Tamtam empat bulan lalu. Masih teringat dibenaknya ketika bertemu pertama kali dengan MIT. Kala itu di matanya, MIT adalah sosok wanita sholeha, baik dan ramah. Membuat MH begitu yakin menikahi MIT. Terlebih lagi ia sudah beberapa kali mengenalkan sosok wanita pujaan hatinya kepada orang tuanya. Bak disambar gledek, dia sama sekali tak menyangka jika wanita yang dinikahi 2 Juni lalu itu ternyata seorang lelaki.

Sederet kecurigaan sebenarnya dirasakan MH sebelum menikah. Mulai dari suara MIT yang menyerupai seorang lelaki. Namun MIT memiliki seribu alasan, dia beralasan pita suaranya pernah dioperasi di Sanglah Bali akibat kecelakaan yang dialami. Alibi MIT membuat MH percaya dan tak mempermasalahkannya.

 “Katanya masih ada bekas benjolan sisa operasinya di perut,” beber MH kepada media.

Kepada MH, MIT mengaku jika orang tuanya sudah meninggal. Demi meyakinkan korban, pelaku menelepon kakaknya di Sumbawa menggunakan video call. Bahkan pelaku membawa MH ke keluarganya yang diakui sebagai misannya di Desa Dasan Tapen.

“Kakak misannya itu bilang ke MIT untuk pandai-pandai menjaga suamimu itu, karena dia polos sekali,” ungkapnya menirukan ucapan saudara MIT kala itu seraya memberikan restu atas hubungan mereka.

Mendapat restu, MH pun gesit mempersiapkan pernikahannya. Uang pesuke (adat) sebesar Rp 4 juta pun disodorkan MIT kepada MH dan keluarganya, dengan dalih itu permintaan sang kakak. Kemudian mas kawin Rp 500 ribu ditambah air zam-zam satu gelas juga diminta MIT. Orang tua MH menyanggupinya dan memberikan dulu Rp 3 juta. Sementara segala biaya pernikahan ditanggung orang tua MH.

“Karena yang punya uang itu bapak saya, bukan saya sendiri. Sekitar Rp 25 juta semuanya kita keluarkan biayanya,” akunya.

Uang pesuke itu ternyata dipegang sendiri oleh MIT dengan alasan belum sempat mengirimkan ke kakaknya di Sumbawa. Saat rias pengantin, pelaku hanya ingin merias sendiri wajahnya. Pernikahan pun dilangsungkan sederhana secara agama dan tercatat secara negara. Namun ketika malam pertama MIT menolak melakukan hubungan badan karena alasan datang bulan.

“Dari malam pertama saya curiga, apa alasannya dia tidak mau kasih lihat semua organ tubuhnya. Alasannya ke saya, dia malu kalau dilihat benjolan bekas operasi, ntar jijik,” ceritanya.

Malam kedua, tiba-tiba saja istrinya itu keluar kamar menuju rumah kakak MH di depan rumahnya. Kata cerai terlontar dari MIT kepada dirinya. Itupun melalui chat WhatsApp tanpa berbicara langsung. Ia sempat meyakinkan sang istri jika tindakannya itu adalah perbuatan dosa.

“Setelah chat yang kesembilan itu, ya udah saya bilang mau gimana. Dia terus minta dipulangkan. Masih saat itu saya belum tahu kalau dia seorang lelaki,” katanya.

Malam itu, korban langsung mengabulkan permintaan MIT membawanya pulang. Bukan ke rumahnya di Pejarakan Ampenan Kota Mataram tempat yang diminta. Namun MIT minta diantarkan ke rumah temannya di Desa Sesela, Gunungsari. Kecurigaan MH semakin memuncak. Terlebih malam sebelumnya ia pernah bermimpi untuk segera mengusir istrinya itu.

Akhirnya, keesokan harinya ia menyelidiki di tempat kediamannya di Pejarakan. Kebenaran muncul dari pihak lingkungan setempat. Istri yang dinikahi ternyata seorang lelaki. Ia pun shok dan terpukul begitu mengetahuinya.

Atas kejadian itu, MIT sudah diamankan pihak kepolisian Polres Lobar atas dugaan penipuan. Meski pelaku berdalih jika korban sudah mengetahui jika ia seorang lelaki. Namun itu dibantahkan MH besarta pihak pemerintah desa dan kuasa hukum. MH bersama pihak desa siap membawa masalah ini ke ranah hukum.

“Sah-sah saja pelaku membuat statmen yang berbeda-beda itu, upaya pembenaran. Akan tetapi kami punya bukti fakta hukum yang berbicara nanti di pengadilan,” tegas Kepala Desa Gelogor, Arman Iswara.

Permasalahan ini bukan hanya saja memukul pihak keluarga MH. Namun membuat nama baik desa tercemar akibat pemberitaan tindakan pelaku. Menurutnya pihak lingkungan Pejarakan Ampenan juga sudah membantu mengungkap kedok pelaku.

 “Kami meminta kepada aparat penegak hukum agar kasus ini bisa segera diselesaikan. Kami pemerintah Desa Gelogor akan terus mengawal kasus ini hingga tuntas, sehingga tidak ada pertanyaan lain di masyarakat,” pungkasnya.

Ditambahkan kuasa hukum korban, Aan Ramadhan menegaskan selain dugaan penipuan, pelaku juga bisa dikenakan undang-undang pernikahan. Termasuk dugaan pemalsuan indentitas.

 “Kita sudah buat laporan polisi terkait penipuan, tidak menutup kemungkinan akan berkembang ke pemalsuan identitas, UU pernikahan dan UU kependudukan,”katanya.

Tak hanya itu, pihaknya juga akan menyeret sejumlah orang yang diduga membiarkan terjadinya penipuan pernikahan itu. Karena sudah mengetahui identitas pelaku namun tetap saja membiarkan hingga ada yang merestui. Kini proses hukum terus berjalan.(*)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Ketika Kasus Covid-19 Terus Meningkat di Kabupaten Lombok Timur (2-Habis)

Read Next

Oknum Satpam Kuras Isi Kampus di Mataram

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *