WINDY DHARMA/RADAR MANDALIKA BERSAMA: M. Kadri (baju hijau) bersama guru SDN 1 Batulayar yang tetap mensuportnya, Selasa (11/10).

 

Mendengarkan Cerita Perjuangan M Kadri Salah Satu Atlet Triatlon Juara Ironman 70.3 Lombok
Gunakan Sepedah Pinjaman yang Rusak Tetap Berjuang Hingga Finis//SUB

Prestasi yang baru diraih M Kadri di kejuaraan Triatlon Ironman 70.3 Lombok Akhir pekan lalu tak semuda membalikan telapak tangan. Perjuangan berat dilalui putra asli Batulayar itu mengikuti ajak internasional tersebut.

WINDY DHARMA/LOMBOK BARAT
Letih sisa Ironman 70.3 Lombok akhir pekan lalu masih terasa M Kadri. Namun pria 34 tahun itu tetap menjalankan tugasnya menjadi pahlawan tanpa tanda jasa di SDN 1 Batulayar, Selasa (11/10).
Masuk 10 besar juara Ironman bukan hal yang mudah diraih sembarangan orang. Fisik dan stamina yang kuat dituntut. Bagaimana tidak, mulai dari Renang sejauh 1,9 kilometer, kemudian lanjut Bersepeda sejauh 90,1 kilometer, dan terakhir Berlari sejauh 21,1 kilometer. Kalau bukan orang yang cinta olahraga tentu tak akan sangup menempuhnya.
Hobi olahraga itu juga yang mengantarkan atlet asal Dusun Malase Desa Batulayar Barat itu meraih peringkat delapan dengan catatan waktu 5 jam 4 menit. Sebelum menggeluti Triathlon, pria kelahiran 15 Mei 1988 itu dikenal sebagai atlet nasional pencaksilat sejak 2004-2006. Berbagai kejuaraan dan prestasi diukirnya. Hingga di 2007 ia beralih pada olahraga sepeda untuk mengikuti PON Banjar Negara 2008. Sejak saat itu ia juga menjajal triatlon pertamanya yang digelar di Lombok dan memperoleh juara di kategori Indonesia. Hingga akhirnya sejumlah ajang triatlon di berbagai daerah hingga mancanegara tetap diikutinya.
“Alhamdulillah dibeberapa daerah tetap juara, dan masuk Pelatnas memperkuat Tim Indonesia dia Asia Beach Game di Bali 2008. Dan ikuti Asian Cup di Taipe,” bebernya.
Kurun waktu hingga 2016, ia tetap meraih podium posisi tiga besar setiap kejuaran Triatlon di Indonesia. Namun setelah itu, ia lebih fokus kepada dunia pendidikan menjadi guru yang ditekuninya sejak 2012. Meski demikian ia tetap menyempatkan latihan rutin selepas selesai mengajar di siang hari.
“Tetap kita ikut kejuaraan di 2017 sampai terakhir 2019 tapi tidak seperti 2016 yang tetap peroleh podium satu, dua atau tiga. Sesekali dapat jaura satu tetapi tak setabil, posisinya di 5 atau 4,” bebernya.
Dihapan Radar Mandalika, Kadri masih menyimpan ketidak puasan atas hasil catatan waktu yang diperoleh saat Ironman Lombok akhir pekan lalu. Ia merasa masih bisa memaksimalkan waktunya saat bersepedah. Bahkan merasa bisa menyaingi Andy Wibowo yang meraih juara satu. Selain karena persiapan hanya sebulan dengan porsi latihan di siang hari. Kondisi sepeda yang sudah dipakainya sejak 2008 tak lagi bagus. Maklum saja sepedah yang dipinjamkan kampusnya IKIP sudah dipakainya diberbagai kejuaraan hingga saat ini.
“Ada kendala waktu di sepedah itu rantainya nyangkut sempat diperbaiki, dan sadelnya agak kebawah. Itu sebenarnya sepedah dikasih pinjam sama kampus, pernah patah saat saya balapan di Singapura dan saya sambung lagi framenya,” bebernya.
Kekhawatiran rusak jika memaksimalkan gear sepedah terus menghantuinya sepanjang balapan. Hingga pilihan hanya mengunakan posisi gear sepeda yang aman hingga garis finis dilakukan.
“Yang penting bisa selesai sampai finis,” ucapnya.
Kondisi sepedah yang sudah ia ketahui sebelum mengikuti Ironman sempat membuatnya berpikir dua kali untuk ikut. Terlebih tak adanya perhatian pemerintah daerah yang mau membantu atlet itu membantu biaya pendaftaran. Sehingga dua minggu sebelum penutupan pendaftaran ia mengurungkan niatnya dan memberikan jatah kuota kepada dua atlet triatlon asal lombok lainnya. Namun doa dan jalan Allah kepada bapak dua orang anak itu datang. Sponsornya perusahaan herbalife yang sudah lama mengenalnya membantu biaya pendafatarannya. Sehingga putra asli daerah Lobar itu bisa mengharumkan nama daerah.
“Tapi memang ajang Ironman ini sangat berat, mungkin kedepan saya akan lebih lagi memaksimalkan latihan,” ucap.
Meski demikian ia tak menampik minimnya perhatian pemerintah daerah. Namun ia tetap bersyukur selama ini masih ada keluarganya, Kampusnya IKIP Mataram. Serta beberapa pihak tetap mensuportnya.
Iapun sangat berharap kedepan ada perhatian pemerintah daerah untuk dapat memperbaiki sepedahnya agar dapat ikut kembali dalam Ironman dan mengharumkan nama daerah.
“Kedepan saya akan mempersiapkan, berlatih dan berlatih untuk lebih baik lagi,” pungkasnya.
Sementara itu teman sesama profesi guru di SDN 1 Batulayar banga dengan prestasi yang diraih Kadri. Terlebih Kadri dulunya murid yang pernah menyenyam pendidikan sekolah dasar di tempat itu.
Salah seorang Guru SDN setempat Ketut Suwasti mengenal Kardi kecil sejak masih duduk dibangku kelas 1 SD. Kadri kecil dikelannya memang memiliki bakat dibidang olahraga terutama renang. Terlebih lokasi kediaman muridnya itu tak jauh dari pantai.
“Jadi sudah terlihat bakatnya,” bebernya.
Menurutnya ia bersama guru yang lain disekolah itu tetap mensuportnya dalam meraih prestasi sebagai atlet. Pihaknya berharap pemerintah daerah memperhatikan, terlebih kini status Kadri yang sudah menjadi guru P3K.
“Bagaimana pun dia sudah membawa nama baik NTB dan Desa Batulayar,” pungkasnya.(*)

50% LikesVS
50% Dislikes
Post Views : 401

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *