Cerita Jaelani, Desain Perak Terbaik Indonesia Asal Ungga Lombok Tengah

  • Bagikan
F bok 3
KHOTIM/RADARMANDALIKA.ID PRESTASI: Pengrajin perak terbaik, Jaelani saat memperlihatkan bukti piagam penghargaan tingkat nasional diterimanya, Kamis kemarin.

Dipelajari Sejak 1995, Tapi Sayang Produknya Belum Terakomodir

Jaelani merupakan pelaku kerajinan yang telah meraih sertifikat langsung dari Menteri Perindustrian RI. Pria itu asal Desa Ungga, Kecamatan Praya Barat Daya Lombok Tengah. Namun di balik itu, muncul keluhannya di tengah persiapan NTB menjadi tuan rumah event internasional superbike.

AHMAD KHOTIM SAPUTRA – LOTENG

KURANG lebih sudah 20 tahun bergelut dalam bidang kerajinan perak dan mutiara. Hasilnya, tahun 2017 Jaelani memperoleh prestasi menjadi Juara terbaik dalam desain produk UMKM di bidang fashion berbahan perak dan mutiara dengan produk kalung coker mutiara air laut. Bahkan saat itu, Jaelani dinobatkan sebagai Golden Word pada saat itu menjabat Menteri Perindustrian RI, Airlangga Hartanto.
Diketahui, kerajinan perak dan mutiara hasil karyanya saat ini sudah banyak, terutama menjelang perhelatan motor dunia bergengsi di Sirkuit Mandalika, Lombok Tengah.
“Sampai saat ini kami sebagai pengrajin belum ada kejelasan akan diakomodir produk kami atau tidak oleh penyelenggara even yakni MGPA,” ungkapnya kepada media saat ditemui, Kamis kemarin.

Dia menuturkan, bahwa pihaknya sudah mengirimkan sampel produk seninya kepada pihak MGPA. Dimana, sekitar hampir 20 sampel yang telah ia kirimkan secara berkala dalam 2 tahap.
Namun sayang, sampai sekarang belum ada kabar kejelasan. Bahkan setiap membuat produk itu membutuhkan dana yang tidak sedikit, dimana pada tahap awal dia harus mengeluarkan biaya Rp 4 juta, kemudian pengiriman sampel produk tahap kedua juga senilai Rp 4 juta. Bahkan dia mendapatkan dengan susah payah dalam masa sulit pandemi covid-19.

“Kalau jawaban pihak MGPA, mereka memberikan apresiasi dan dinilai sangat bagus, dan memang kami sempat dijanjikan akan diberikan stand penjualan di areal balap WSBK dan MotoGP,” ceritanya.
“Prestasi yang saya terima 2017, mendapatkan grand award Kementerian Perindustrian dalm kategori faishon,” sambungnya.

Dia menceritakan, profesi yang sudah ia pelajari sejak tahun 1995 silam ini dan mulai mandiri pada tahun 1999, kemudian mulai berjualan sekitar tahun 2000, dimana ia membuat semua bentuk perhiasan, baik dari gelang sampai cincin, mengingat yang paling laku di pasaran merupakan yang berbentuk bros.
“Alhamdulillah dari hasil perak dan mutiara ini, kami sudah bisa buat rumah,” bebernya.
Jaelani berharap kepada pemda agar diberikan fasilitas sebagai upaya pelibatan, pemberdayaan masyarakat lokal yang kemudian akan berimbas ke perekonomian masyarakat pengrajin langsung.(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *