Potret Kehidupan Masyarakat Lombok Tengah di Montong Sapah

  • Bagikan
F bok 3
IST/ RADAR MANDALIKA BUTUH PERHATIAN: Seorang ibu rumah tangga di Desa Montong Sapah berdiri di teras depan rumahnya.

Jalan Sejak Kades SD Sampai Sekarang Belum Diperbaiki, 900 KK Tergolong Kurang Mampu

Infrastruktur jalan belum pernah diperhatikan pemerintah kabupaten selama ini, hal itu menyulitkan akses warga untuk mendapatkan fasilitas kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Kehidupan masyarakat masih tertinggal dan hanya mengandalkan hasil pertanian dan ternak. Seperti apa?

FENDI-LOTENG

JAUH dari ibu kota Kabupaten Lombok Tengah menjadikan Desa Montong Sapah, Kecamatan Praya Barat Daya minim dari perhatian pemerintah kabupaten. Desa diujung barat daya tersebut berjarak sekitar 26 Km dari ibu kota dengan jarak tempuh sekitar 51 menit menggunakan roda dua.
Tak hanya jauh, di sepanjang jalan juga kita akan melalui berbagai lintasan yang menanjang, tikungan yang tajam, juga kondisi jalan yang rusak. Ini adalah akses keseharian bagi warga Desa Montong Sapah. Dimana jalan desa satu- satunya sebagai akses warga untuk menempuh pendidikan, sarana kesehatan, juga aktivitas ekonomi kondisinya rusak parah dan tidak layak dilalui. Bahkan tak jarang teruk pengangkut material juga terguling dijalan sepanjang 5 Km mulai dari dusun Lendang Bao Desa Batu Jangkih sampai dengan Dusun Kebun Jeruk Desa Montong Sapah.

Kades Montong Sapah, Darbe menceritakan kondisi jalan tersebut sudah rusak sejak lama, yakni sejak dirinya duduk di sekolah dasar (SD) jalan tersebut sudah rusak, banyak lubang, licin saat turun hujan. Namun sampai dengan saat ini belum ada perhatian dari pemerintah daerah.
“Saya masih ingat saat saya SD Bupati sebelumnya berjanji akan memperbaiki namun sampai saya jadi Kades belum realisasi,” ceritanya.
Dengan kondisi akses yang rusak, ungkapnya berdampak pada berbagai masalah, yakni pendidikan, kesehatan dan juga ekonomi masyarakat. dimana SDM warga sebutnya masih sangat rendah karena kesulitan akses pendidikan tinggi yang diperparah dengan kondisi ekonomi yang serba kekurangan. Begitu juga dengan akses kesehatan, warga sangat merasa kesulitan dibawa ke puskesmas karena jarangnya angkutan yang mau melintas dijalan tersebut, sehingga memaksa mereka menggunakan roda dua yang tentunya juga beresiko tinggi bagi keluarga.
“Kita dijanjikan tahun 2022, semoga bisa realisasi tahun 2023,” ungkapnya penuh harap.
Kondisi lain yang sangat memperihatinkan di usia 76 tahun Lombok Tengah yakni masih banyaknya warga yang tinggal di rumah tidak layak huni (RTLH). Dimana menurutnya terdapat sebanyak 900 kepala keluarga (KK) tergolong masyarakat kurang mampu dan RTLH. Kemampuan untuk membangun rumah dari hasil pertanian sebutnya sangat minim karena hasil pertanian tidak setara dengan biaya yang dikeluarkan, hal ini karena akses yang sulit dan kondisi jalan yang rusak parah.
Sebagai upaya pemdes untuk mengatasi persoalan ini, Kades berupaya melakukan komunikasi dengan dinas perkim untuk bisa membantu masyarakat.
“Kita sudah usulkan 300 KK ke Dinas Perkim untuk rumah tidak layak huni,” bebernya.

Kades berharap pada usia Lombok Tengah ke-76 ini, perhatian pemerintah daerah dapat lebih difokuskan kepada desa- desa terpencil seperti Montong Sapah sehingga ada penyelarasan pembangunan dengan desa di kecamatan lain.
“Kami ini desa tertinggal dan terpencil, sangat membutuhkan perhatian pemerinntah daerah,” sentilnya.(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *