AJI Sayangkan Kekerasan Kepada Wartawan

F RS AD

VISUM: Korban pemukulan, Fitriani saat menjalani visum di RS AD Bhayangkara AD Wira Bhakti, tadi malam di Mataram.

MATARAM – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Mataram sangat menyesalkan tindakan kekerasan yang dilakukan oknum Y kepada wartawan hariannusa.com, Fitriani yang terjadi Selasa (22/09) malam di rumahnya di desa Duman Lingsar, Lombok Barat. Terlebih korban kekerasan itu dialami pewarta perempuan.

“Tentu kami sangat menyesalkan tindakan kekerasan, apalagi dia seorang perempuan,” sesal Ketua AJI Mataram, Sirtupillaili kepada koran ini.

Apapun alasannya kekerasan tidak sepantasnya terjadi, sangat tidak terpuji dialam negara yang menganut asas hukum. Meski AJI sendiri belum mendapatkan laporan terkait kronologi dan modus kasusnya, termasuk apakah itu terkait karya jurnalistik atau tidak.

“Dengan alasan apa pun tindakan kekerasan tidak boleh dilakukan,” tegasnya.

AJI sangat prihatin atas kondisi kekerasan yang dialami insan pers. Jika itu terkait karya jurnalistik tentu ini menjadi ancaman kebebasan terhadap pers. Hendaknya jika ada orang yang keberatan dengan karya jurnalistik menempuh cara-cara yang benar sesuai prosedur yang diatur Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tantang Pers.

“Tapi jika bukan karena karya jurnalistik, kita percayakan sepenuhnya kepada Aparat Penegak Hukum (APH),” katanya.

Data yang dimiliki AJI tindakan kekerasan terhadap insan pers masih terbilang tinggi. Terakhir yang aduan yang masuk ke AJI yaitu Intimidasi yang dialami wartawan online radarmandalika.Id, Muh Arif.

Dari tahun 2006 hingga 2020 angka kekerasan secara nasional mencapai 789 kasus. Termasuk didalamnya data dari NTB bahkan yang masuk data terakhir yaitu kekerasan yang dialami Muh Arif wartawan Radar Mandalika online.

“Dari data itu kasus Arif di sini masuk. Kita basisnya kasus yang kita dampingi,” ujar wartawan Lombok Post itu.

Terkait kasus yang menimpa Fitriani ini, AJI sepenuhnya menyerahkan kepada APH. AJI tentu berharap agar kasus ini bisa diselesaikan secara tuntas dan profesional sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

“Kami percaya kami menyerahkan sepenuhnya kepada APH,” terangnya.

Sementara itu, Fitriani tadi malam menjalani visum yang berlangsung di RS Bhayangkara

AD Wira Bhakti. Sebelumnya, Fitri panggilan akrabnya dipukul oleh inisial Y setelah baru sampai rumahnya bersama suaminya dari Kuripan sekitar pukul 20.20 wita. Ia ditendang dan perutnya diinjak.

Fitri sendiri belum mengetahui motif pelaku yang tiba tiba melakukan kekerasan kepada dirinya dan suaminya, H Awaludin. Termasuk apakah pelaku menyimpan dendam pribadi atau tidak. Seingat Fitri dirinya dan suaminya tidak ada masalah apa apa dengan pelaku sebelummya. Tapi paginya Fitri dan ibu pelaku sempat terjadi cekcok sekitar pukul  09.00 ibu pelaku tiba tiba menghampiri mereka Fitri yang hanya berbatasan rumah satu tembok. Kata ibu pelaku dirinya tidak suka sama Fitri. Ibu pelaku datang menggedor pagar sambil teriak teriak menyuruh Fitri keluar.(jho)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Bupati Lotim Pernah Perjalanan ke Belgia dan Jakarta

Read Next

KPU Loteng Terkesan Tertutup

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *