MATARAM — Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat capaian penting dalam penguatan profesionalisme wartawan dengan menggelar Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) serta Uji Kompetensi Wartawan (UKW) secara mandiri.
Pelaksanaan tersebut mendapat apresiasi dari PWI Pusat dan Pemerintah Provinsi NTB. Bahkan, UKW mandiri yang digelar PWI NTB disebut sebagai salah satu pelaksanaan dengan jumlah peserta terbesar sepanjang sejarah UKW mandiri PWI.
Wakil Ketua Umum PWI Pusat Bidang OKK, Joko Tetuko, mengapresiasi tingginya antusiasme wartawan NTB mengikuti kegiatan tersebut.
Menurut Joko, keberhasilan pelaksanaan UKW mandiri ini menunjukkan kuatnya komitmen PWI NTB dalam meningkatkan kompetensi dan profesionalisme wartawan.
“Sampai saat ini, ini adalah pelaksanaan UKW mandiri terbesar sepanjang sejarah,” ujar Joko saat penutupan kegiatan.
Ia juga berharap dukungan Pemerintah Provinsi NTB terhadap PWI terus diperkuat, termasuk dalam menghadapi agenda Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas) di Lampung pada 2027.
“Kami memohon agar Pemerintah Provinsi NTB dapat terus membantu dan mendukung PWI NTB, terutama dalam persiapan menuju Porwanas di Lampung tahun 2027,” katanya.
Sekretaris PWI NTB, Fachrul Mustofa, menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran pengurus PWI, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, yang telah bekerja sama menyukseskan kegiatan tersebut. “Alhamdulillah, semua badai terlampaui dan kita bisa gelar hari ini,” kata Fachrul.
Ia menjelaskan, pada awalnya PWI NTB hanya menargetkan pelaksanaan UKW dalam dua kelas. Namun, tingginya minat peserta membuat jumlah peserta meningkat menjadi 44 wartawan.
Sementara peserta OKK yang mengikuti kegiatan mencapai sekitar 120 orang.
Menurut Fachrul, pelaksanaan OKK memiliki arti penting bagi organisasi karena menjadi bagian dari proses keanggotaan PWI sekaligus berkaitan dengan persyaratan keikutsertaan dalam Porwanas 2027 di Lampung.
Pelaksanaan UKW mandiri tersebut juga tidak terlepas dari arahan Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi NTB, Abul Chair. Pada tahap awal konsultasi, Pemprov NTB memberikan petunjuk mengenai mekanisme pelaksanaan UKW secara mandiri.
PWI NTB juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran PWI Pusat yang hadir langsung dalam kegiatan sebagai narasumber maupun penguji, di antaranya Joko Tetuko, Parasakti dan Edu.
Etika Jurnalistik sebagai Rem
Dalam penutupan kegiatan, Sekda NTB Abul Chair turut memberikan apresiasi terhadap langkah PWI NTB meningkatkan kualitas wartawan melalui OKK dan UKW.
Ia menilai perkembangan teknologi digital dan penggunaan artificial intelligence (AI) membuat tantangan dunia jurnalistik semakin kompleks. Masyarakat kini semakin mudah memproduksi dan menyebarkan informasi.
Karena itu, wartawan dituntut tidak hanya bekerja cepat, tetapi juga mampu memastikan akurasi, memahami konteks dan menyampaikan informasi secara bertanggung jawab.
“Wartawan yang baik itu tidak hanya cepat mendapat berita, tapi juga harus mendapatkan fakta, tepat memahami konteks, dan bijak menyampaikan kepada publik,” tegas Abul Chair.
Ia mengibaratkan wartawan sebagai pengemudi di jalan raya informasi. Kecepatan dalam memperoleh dan menyampaikan berita harus tetap diimbangi kemampuan mengendalikan diri.
“Kalau hanya punya gas tapi tidak punya rem, tentu masalah juga. Maka etika jurnalistik itulah remnya,” ujarnya.
Abul Chair berharap OKK dan UKW PWI NTB tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Menurutnya, kegiatan tersebut harus menjadi bagian dari proses membangun budaya jurnalistik yang profesional, berintegritas dan bertanggung jawab.
Melalui peningkatan kompetensi tersebut, wartawan diharapkan mampu menjalankan fungsi pers secara kritis dan konstruktif, sekaligus tetap menjaga independensi serta kepentingan publik.
Pelaksanaan OKK dan UKW mandiri ini sekaligus menjadi momentum baru bagi PWI NTB setelah melewati berbagai dinamika organisasi dalam lebih dari satu tahun terakhir. (*)
