JAKARTA — Wakil Ketua I DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Wirajaya, mengapresiasi langkah Badan Penghubung Daerah Provinsi NTB yang kembali menghidupkan ruang pertunjukan seni dan budaya NTB di ibu kota, Jakarta.

Menurut Lalu Wirajaya, kehadiran panggung budaya NTB di Jakarta bukan sekadar menjadi ruang pertunjukan, tetapi juga dapat menjadi sarana strategis untuk memperkenalkan kekayaan tradisi sekaligus mempromosikan destinasi pariwisata NTB kepada masyarakat yang lebih luas.

“Promosi budaya harus berjalan beriringan dengan sektor pariwisata. Saya berharap promosi ini dilakukan semakin masif sehingga destinasi wisata NTB mampu menarik lebih banyak wisatawan,” ujar Lalu Wirajaya, Rabu (12/8/2026), di Anjungan NTB Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.

Dalam kesempatan tersebut, Lalu Wirajaya secara langsung menyaksikan sejumlah pertunjukan seni budaya NTB, di antaranya Dramatari Puteri Mandalika, Tari Persembahan Sekar Rinjani, dan Peresean.

Tari Persembahan Sekar Rinjani merupakan tarian penyambutan tamu kehormatan yang terinspirasi dari keindahan anggrek endemik dataran tinggi Gunung Rinjani, seperti Vanda lombokensis dan Dendrobium rinjaniensis. Tarian ini merefleksikan keanggunan, keindahan, sekaligus kemegahan alam pegunungan Lombok.

Sementara itu, Drama Tari Puteri Mandalika mengangkat legenda asal-usul nyale dari Kerajaan Tonjeng Beru. Kisah pengorbanan Puteri Mandalika yang menceburkan diri ke laut demi mencegah peperangan antarpangeran kemudian menjadi latar belakang lahirnya tradisi tahunan Festival Bau Nyale di pesisir selatan Lombok.

Tradisi Bau Nyale tersebut telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia pada 2016.

Pertunjukan lainnya adalah Peresean, seni bela diri tradisional masyarakat Sasak yang mempertemukan dua petarung atau pepadu menggunakan tongkat rotan (penjalin) dan perisai kulit kerbau (ende).

Peresean memiliki nilai historis dan filosofis yang kuat. Selain dikenal sebagai bagian dari ritual memohon hujan, tradisi ini juga berkaitan dengan latihan ketangkasan dan keberanian. Peresean telah ditetapkan sebagai WBTB Indonesia sejak 2014.

“Para pepadu sudah terlatih. Usai berlaga, kembali semeton bersaudara,” demikian semangat yang tercermin dalam pertunjukan Peresean yang turut ditampilkan di Jakarta.

Lalu Wirajaya menilai penguatan seni budaya NTB membutuhkan misi yang lebih panjang dan berkelanjutan. Tidak hanya menjaga tradisi tetap hidup, tetapi juga membuka ruang bagi generasi muda untuk belajar serta memperluas jangkauan seni budaya NTB ke publik yang lebih luas.

Karena itu, penguatan sanggar seni, regenerasi pelaku budaya, konsistensi pertunjukan, serta perluasan promosi dinilai menjadi fondasi penting agar seni budaya NTB tidak berhenti hanya sebagai identitas daerah.

Jika dikembangkan secara konsisten dan dikemas dengan pendekatan yang relevan dengan perkembangan zaman, seni budaya NTB dinilai memiliki peluang untuk bergerak lebih jauh, bahkan menembus panggung nasional dan internasional.

Dari Anjungan NTB TMII di Jakarta, panggung seni budaya hingga ruang-ruang komunitas, tradisi Lombok, Sumbawa, serta Bima-Dompu dapat terus diperkenalkan kepada publik yang lebih luas.

“Bukan tidak mungkin, panggung Jakarta menjadi salah satu pintu bagi seni budaya NTB untuk melangkah menuju panggung nasional dan dunia demi NTB Makmur Mendunia,” ujarnya.

Upaya tersebut juga didorong melalui kolaborasi antara Badan Penghubung Daerah, Pemerintah Provinsi NTB, tokoh masyarakat, serta keterlibatan aktif komunitas diaspora Lombok, Samawa, dan Mbojo di kawasan Jabodetabek.

Kolaborasi itu sekaligus membuka peluang bagi penyelenggaraan perhelatan yang lebih besar bertajuk “Semalam di NTB” di kawasan Jakarta Pusat.

Konsep tersebut diharapkan tidak hanya menghadirkan seni pertunjukan, tetapi juga memadukan kuliner khas NTB dan promosi destinasi wisata secara konsisten.

Dengan demikian, panggung budaya NTB di Jakarta dapat menjadi sarana untuk menjaga akar tradisi tetap hidup sekaligus menjadi media promosi pariwisata dan ekonomi kreatif daerah.

Semangatnya sederhana: tradisi tetap terjaga, generasi muda terus belajar, pariwisata semakin dikenal, dan budaya NTB semakin dekat menuju panggung nasional dan dunia. (jho)

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *