LOBAR— Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) terus berupaya memperkuat fondasi sumber daya manusia (SDM) melalui peningkatan minat baca dan kemampuan literasi. Diwujudkan melalui penyelenggaraan Lomba Bertutur bagi siswa Sekolah Dasar (SD) serta Lomba Resensi Buku bagi siswa tingkat SMP hingga SMA sederajat yang berlangsung di Gedung Perpustakaan Daerah pada Rabu (22/4).
Bukan hanya kompetisi, namun bagian dari strategi Pemda meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Melalui penguatan literasi sejak dini, diharapkan generasi muda Lobar menjadi kritis dan intelektual bersaing di era global.
Bupati Lobar, H. Lalu Ahmad Zaini, mengapresiasi inisiatif yang dilakukan oleh Disarpus. Menurutnya tantangan pendidikan saat ini bukan hanya memberantas buta aksara, namun melatih anak didik memahami esensi dari setiap informasi yang mereka konsumsi.
“Penting untuk dilatih melakukan resensi atau mencoba mencari intisari dalam sebuah buku. Hal ini krusial agar anak didik tidak sekadar membaca, tetapi mampu memahami konteks dan nilai yang terkandung dalam setiap literatur,” ujar Bupati LAZ.
Kemampuan meresensi buku dinilai LAZ akan melatih otak berpikir sistematis dan kritis. Dengan memahami nilai yang terkandung dalam bacaan, siswa diharapkan tidak mudah terpengaruh informasi yang tidak jelas kebenarannya di masa depan.
LAZ juga merefleksikan perubahan signifikan dunia literasi selama satu dekade terakhir. Fungsi perpustakaanpun harus segera direvitalisasi agar tidak ditinggalkan oleh generasi zilenial dan alfa. Jika perpustakaan dulu tempat mencari referensi yang sulit didapat, kini arus informasi telah bergeser ke ranah digital.
“Situasi perpustakaan itu berbeda dengan kondisi 10, 15 tahun yang lalu. Begitu orang bisa tidur di perpustakaan mencari referensi saking sulitnya. Sekarang, buku apapun tinggal buka e-book-nya bisa ketemu,” kenang Bupati.
Menyikapi perkembangan tersebut, Pemerintah Kabupaten Lombok Barat mulai merancang transformasi perpustakaan menjadi ruang publik yang lebih dinamis dan inklusif. Salah satu gagasan yang diusung adalah mengadopsi konsep kenyamanan layaknya tempat berkumpul modern untuk menarik minat pengunjung.
“Saya membayangkan ke depan perpustakaan itu juga harus dilengkapi dengan kafetaria yang bagus. Perpustakaan harus dirancang dengan kecepatan internet yang tinggi, sehingga orang bisa membuka referensi sambil ngopi dengan nyaman,” jelasnya lebih lanjut.
Proses digitalisasi perangkat secara menyeluruh memerlukan pertimbangan matang, terutama terkait aspek keamanan aset fisik seperti perangkat komputer dan fasilitas pendukung lainnya.
Pihak dinas terkait dilaporkan masih melakukan pengkajian mendalam agar transformasi digital ini dapat berjalan secara berkelanjutan tanpa mengabaikan aspek keamanan dan pemeliharaan. Namun, keterbatasan teknis ini dipastikan tidak akan menghambat semangat inovasi pemerintah daerah.
“Ilmu pengetahuan ini terus berkembang dan kita harus siap dengan perubahan-perubahan baru. Kita akan meyakini perkembangannya sesuai fakta yang ada,” tegas Bupati LAZ.
Senada dengan visi Bupati, Kepala Disarpus Lobar, H. Lalu Winengan, menjelaskan perlombaan ini didesain sebagai instrumen mengasah kepercayaan diri siswa. Khusus untuk Lomba Bertutur, sasaran utamanya siswa kelas 4 SD. Pemilihan jenjang ini bertujuan agar para pemenang memiliki waktu persiapan yang lebih panjang sebelum melaju ke tingkat provinsi maupun nasional.
“Lomba bertutur ini hakikatnya adalah untuk tingkat SD/MI sederajat. Mudah-mudahan anak-anak kita semakin mampu mengasah diri dalam bercerita, sehingga kelak menjadi generasi yang cerdas dan membanggakan bangsa,” ungkap H. Lalu Winengan.
Lebih lanjut, Winengan berkomitmen memperluas jangkauan literasi di masa mendatang. Ia berencana melibatkan peserta dari lingkungan pondok pesantren agar akses terhadap literasi dan ruang perpustakaan menjadi lebih merata bagi seluruh lapisan pelajar di Lobar.
Sebagai bentuk motivasi, pemerintah daerah juga telah menyiapkan stimulus prestasi berupa hadiah uang tunai jutaan rupiah bagi para juara di setiap kategori. (win)
