Yeyen Heryawan. (WINDY DHARMA/RADAR MANDALIKA) 

LOBAR—Sektor pariwisata dan perhotelan di Nusa Tenggara Barat (NTB) kini tengah beradaptasi dengan dinamika kebijakan ekonomi nasional. Kebijakan efisiensi anggaran pemerintah pusat dan daerah, secara langsung berdampak pada tingkat keterisian kamar serta intensitas kegiatan korporat di hotel-hotel besar.

Menanggapi situasi ini, manajemen Aruna Senggigi Resort & Convention telah menyiapkan sejumlah langkah strategis menjaga stabilitas bisnis di tengah tantangan tersebut.

General Manager (GM) Aruna Senggigi Resort & Convention, Yeyen Heryawan, mengungkapkan bahwa pihaknya telah memprediksi adanya tren efisiensi ini sejak akhir tahun 2024. Kebijakan pemangkasan biaya perjalanan dinas serta penerapan pola kerja Work From Home (WFH) yang kembali digulirkan mempengaruhui okupansi hotel. Terutama pada segmen pasar pemerintah yang selama ini menjadi salah satu sektor pendapatan.

“Sebenarnya ini sudah kami prediksi sejak akhir tahun 2024, bahwa akan ada efisiensi di tahun 2025, di antaranya adalah penghematan biaya perjalanan dinas. Apalagi sekarang ditambah lagi kebijakan Work From Home yang mulai digulirkan setiap hari Jumat,” ujar Yeyen.

Kondisi ini terlihat dari adanya penundaan beberapa agenda besar, termasuk kegiatan dari instansi perbankan nasional. Dimana sedianya agenda dilaksanakan pada awal Mei namun harus dijadwalkan ulang karena instruksi penghematan energi dan pembatasan kegiatan luar pulau.

Menyiasati penurunan dari sektor pemerintahan, Aruna Senggigi kini lebih agresif mengincar segmen wisatawan domestik. Salah satu strategi unggulan yang diusung integrasi unsur seni dan budaya lokal NTB untuk pertunjukan.

Bukan sekadar sebagai hiburan, melainkan sebagai upaya memperkuat identitas destinasi Senggigi di mata wisatawan mancanegara maupun lokal.

“Kami tetap optimis dengan cara memberikan hiburan melalui kesenian. Kita mau mencoba menghadirkan tari-tarian dan kesenian budaya Nusa Tenggara Barat untuk ditampilkan di Aruna. Hal ini sejalan dengan instruksi pemilik kami bahwa Senggigi harus bisa mengangkat budaya lokal,” Jelas Yeyen.

Kolaborasi dengan sanggar seni lokal dan pihak akademisi, seperti Universitas Mataram (Unram), terus diperkuat. Karena selain fokus pada daya tarik budaya, Aruna Senggigi juga melakukan langkah antisipatif kenaikan harga komoditas pangan yang dapat membebani biaya operasional dampak domino kebijakan efisiensi itu.

Salah satu inovasi yang dijalankan, pengembangan area hidroponik di lingkungan hotel. Sehingga menekan biaya produksi makanan dan minuman (Food & Beverage) sekaligus memberikan nilai tambah berupa edukasi bagi para tamu.

“Kami bekerja sama dengan Universitas Mataram sedang membuat hidroponik di area belakang. Jadi tamu yang menginap nanti bisa mendapatkan edukasi. Selain itu, kami juga melakukan perbaikan pada fasilitas mini zoo kami,” kata Yeyen.

Inisiatif ini diharapkan mampu menjaga harga produk F&B tetap terjangkau bagi masyarakat sekitar meskipun terjadi fluktuasi harga pasar, sehingga daya saing hotel tetap terjaga di tengah masa low season.

Berdasarkan data rata-rata okupansi hotel di kawasan Senggigi saat ini berada di angka 40 persen hingga 50 persen, mengalami penurunan sekitar 10 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Meski demikian, Yeyen tetap optimis dengan memaksimalkan potensi yang ada, termasuk rencana pengembangan Beach Club baru yang tidak akan mengenakan biaya masuk guna menarik lebih banyak kunjungan dari berbagai lapisan masyarakat.

“Kita tetap optimis, bulan Mei ini biasanya mulai ada pertemuan-pertemuan (meeting). Kami juga sangat mengandalkan pengembangan di area depan agar wisatawan mancanegara maupun masyarakat lokal bisa menikmati kesenian lokal kita tanpa hambatan,” tutupnya.(win)

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *