LOBAR—Antusiasme pengunjung Iftar “Negeri Rasa” Aruna Senggigi Resort & Convention sangat tinggi. Terlihat dari okupansi area restoran yang selalu ramai setiap harinya. Konsep kekayaan kuliner khas Nusantara yang diusung ternyata sukses memikat masyarakat untuk datang berbuka puasa di Aruna. Uniknya keramaian Pengunjung itu bahkan tidak dari wisatawan lokal namun para wisatawan mancanegara.
Berbagai menu autentik dari berbagai daerah di Indonesia, memikat para wisatawan asing itu merasakan cita rasa nusantara. kuliner lokal memiliki daya tarik universal yang mampu menembus batas budaya. Pengemasan hidangan yang higienis dengan standar hotel berbintang, tanpa menghilangkan cita rasa aslinya, menjadi kunci utama mengapa menu-menu tersebut sangat diminati.
General Manager (GM) Aruna Senggigi Resort & Convention, Yeyen Heryawan mengungkapkan respons pasar terhadap menu Nusantara jauh lebih positif dibandingkan variasi menu internasional lainnya. Para tamu justru mencari pengalaman kuliner autentik dan merepresentasikan keragaman budaya Indonesia dari Sabang sampai Merauke.
“Alhamdulillah karena berdasarkan event iftar tahun lalu yang Serambi Timur Tengah, kita lihat juga dan kita sempat survei ke beberapa pelanggan kita bahwa mereka sebenarnya ke Aruna itu pengen merasakan makanan khas Indonesia gitu,” ujar terang Yeyan kepada awak media, Kamis (5/3).
Aruna Senggigi menyajikan berbagai menu populer seperti Nasi Liwet dan Soto Banjar, hingga makanan laut khas Jimbaran yang disajikan segar setiap hari. Penekanan pada kesegaran bahan baku menjadi kualitas yang sangat dijaga untuk memuaskan ekspektasi pengunjung.
Selain kuliner, aspek budaya turut diperkuat dengan adanya aktivitas seni di area hotel. Para tamu dapat melihat secara langsung proses membatik, mewarnai wayang, hingga pembuatan tembikar (pottery). Hal ini menjadi nilai tambah, terutama bagi wisatawan mancanegara yang menginap di hotel tersebut. Weni mencatat bahwa tamu internasional justru sangat antusias mengikuti tradisi ngabuburit dan berbuka puasa dengan menu lokal.
“Nah, kita juga mengangkat makanan Nusantara, di antaranya kayak tadi kita ada Nasi Liwet, ada Soto Banjar, jadi seluruh Nusantara, seafood Jimbaran itu tiap hari gitu. Jadi itu yang dikejar sama tamu-tamunya yang fresh,” tambahnya.
Meski Yeyen tidak menampik di awal tahun khususnya periode Februari dan Maret biasa menjadi tantangan bagi industri perhotelan karena low season. Namun, dengan adanya program iftar atau buka puasa bersama, hotel dapat menutupi celah pendapatan yang biasanya datang dari penyewaan kamar. Program ini menjadi pendongkrak utama pendapatan dari sektor Food & Beverage (F&B).
Pihak manajemen Aruna Senggigi menargetkan sekitar enam ribu kunjungan selama periode Ramadan tahun ini. Rasa optimis mencapai Terget itu begitu dirasakan. Karena melihat tren pemesanan yang terus meningkat secara signifikan setiap harinya. Bahkan hingga pertengahan ramadan capaian sudah melebihi empat ribu pelanggan.
“Iftar adalah salah satu pendongkrak revenue. Jadi selain kamar, tentunya kita mengharapkan penambahan revenue dari food and beverage, yaitu iftar. Secara tidak langsung, pendapatan jadinya ter-cover dengan itu meskipun okupansi ada penurunan di dalamnya,” pungkas Yeyen.
Untuk mengantisipasi faktor cuaca yang tidak menentu, Aruna Senggigi juga telah menyiapkan fasilitas Mandura Multi Function. Ruangan ini berfungsi sebagai area cadangan agar kenyamanan tamu tetap terjaga meskipun hujan turun, sehingga target harian tetap dapat terpenuhi secara optimal. (Win)
