TOLAK: Masyarakat Desa Kembang Kuning ramai-ramai menolak mega proyek air bersih memanfaatkan dua sumber mata air di Desa Kembang Kuning. (IST/RADAR MANDALIKA)

LOTIM – Pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), akan membangun proyek air bersih senilai Rp 120 miliar. Proyek yang dihajatkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih wilayah selatan tersebut menggunakan tiga sumber mata air, yakni mata air Buloq dan Barang Panas dua Desa Kembang Kuning, serta mata air sungai Lingkung Desa Tetebatu Kecamatan Sikur Lombok Timur (Lotim). Namun pemanfaatan dua mata air di Desa Tetebatu mendapat penolakan warga.

Kepala Desa Kembang Kuning, H Lalu Sujian, mengatakan suatu hal yang wajar masyarakat melakukan protes karena masyarakat tidak mengetahui program ini. Bahkan saat rapat di Rupatama Kantor Bupati, pihaknya sebagai Kepala Desa pun melakukan protes. Sehingga rapat pada saat itu tidak berjalan.

Kemarin, pemerintah kabupaten bukan turun melakukan sosialisasi pengambilan atau pemanfaatan mata air Buloq dan Berangpanas dua, melainkan sosialisasi mau bekerja. Hal itu lantas membuat panik warga.

“Pasti ada solusi atas masalah ini, karena tidak hanya dua ini mata air, tapi banyak mata air lainnya,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Lotim, Ahmad Dewanto Hadi menjelaskan, sosialisasi program air bersih ini merupakan program nasional yang diusulkan pada tahun 2021 lalu. Sedangkan sekarang ini, persiapan pelaksanaan program. Program dengan nilai Rp 120 miliar ini dibagi dua paket. Yakni paket pertama pembuatan instalasi pengolahan air 2×50 meter di dekat SMKN 1 Kotaraja senilai Rp 50 miliar, dan paket jaringan sepanjang 39 km senilai Rp 70 miliar.

Kaitan dengan penolakan warga, menurutnya salah satu yang harus dihadapi dan diselesaikan. Terutama, pengambilan air di salah satu titik di Desa Kembang Kuning. Pengambilan mata air ini, sejatinya sudah melalui proses panjang sejak 2021 lalu. Konsultan pun sudah assesmen dan ijin penggunaan air permukaan telah keluar dari Balai Wilayah Sungai (BWS).

Dari rata-rata 60 liter per detik yang ada di Buloq itu, akan diambil 15 liter per detik, dan Berangpanas dua 17 liter per detik. Artinya tersisa sekitar 45 liter per detik di mata air Buloq. Hal itu dijelaskan pada masyarakat agar tidak menimbulkan persepsi bahwa seluruh air akan diambil. Sebab hasil perhitungan, 45 liter per detik itu cukup unfuk air bersih dan pengairan sawah warga Kembang Kuning. Sedangkan di sungai Lingkung Desa Tetebatu, akan diambil sekitar 120 liter per detik.

Masih kata Dewanto, memang kapasitas yang disediakan pada pengolahan air cukup. Tapi pemerintah memiliki perencanaan 5 sampai 10 tahun kedepan, agar tidak kesulitan dan tidak perlu lagi mencari sumber lain, sebab debit yang akan dialirkan melebihi kapasitas yang ada. Ketika terjadi penambahan sambungan di selatan, tinggal menambah jaringan distribusi saja.

“Penolakan karena berdasarkan kekhawatiran mereka yang punya sawah. Ketika Bupati mengalihkan air ke selatan, asumsi masyarakat kebutuhannya tidak akan terpenuhi. Padahal sistem yang dibuat, ketika musim kemarau, maka pasokan ke selatan akan dikurangi,” jelasnya.

Nantinya ada 10 sampai 12 reservoar besar yang sudah ada akan dimanfaatkan. Namun reservoar itu tidak maksimal terisi. Sementara PUPR melalui paket program ini hanya membangun reservoar di Desa Sukaraja dan Pemongkong Kecamatan Jerowaru.

“Dua mata air Desa Kembang Kuning ini hanya untuk menambah pasokan saja, walau pun cukup dari Sungai Lingkung untuk mengisi reservoar. Ada solusi lain ditawarkan kepala desa, dan sumber air itu tidak dimanfaatkan masyarakat. Dari tim perencanaan akan mempelajari opsi itu,” terangnya.

Diungkapkan, dari program ini akan menanggulangi kebutuhan air wilayah selatan, akan membuat 14 ribu Sambungan Rumah (SR) dari 11 ribu SR yang masuk dalam program. Namun dengan adanya sharing anggaran dari APBD, akan bisa menyentuh sampai 15 ribu SR. Nantinya, jaringan akan melintasi enam kecamatan, mulai dari Sikur, Masbagik, Sakra, Sakra Barat, Keruak dan Jerowaru, tersebar di 34 desa.

“Ini tahap awal dan kami dari PUPR baru melakukan sosialisasi. Kita akan terus lakukan sambil pekerjaan fisik jalan, karena fisik tidak dimulai dari sumber, tapi mulai dari jaringan yang tidak ada masalah,” pungkasnya. (fa’i/r3)

50% LikesVS
50% Dislikes
Post Views : 393

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *