Warga Gedor Kantor Desa, Bantuan RTG Diduga Disunat

F RTG

WINDY DHARMA/RADAR MANDALIKA DEMO: Warga Desa Buwun Sejati saat mendemo kantor desa setempat, kemarin (4/10).

LOBAR—Puluhan warga penerima bantuan stimulan Rumah Tahan Gempa (RTG) Desa Buwun Sejati Kecamatan Narmada mengedor kantor desa setempat, kemarin (4/10). Warga mempertanyakan sikap pemerintah desa terutama Kepala Desa (Kades) atas permasalahan dugaan pemotongan bantuan itu. Lantaran pemerintah desa dianggap membiarkan meski sudah mengetahui dana bantuan itu disunat. Bahkan kabarnya sudah ada operasi tangkap tangan (OTT) atas dugaan itu. Ketegangan sempat terjadi ketika Kades mengaku tak mengetahui apa-apa terkait itu ketika ditanya warga. Hal itu membuat warga geram, karena merasa Kades seakan tak mau peduli dengan nasib warganya.
“Yang rusak ringan pelaksanaannya di masyarakat yang harusnya dapat Rp 10 juta justru menerima Rp 6 juta, dipotong Rp 4 juta,” ujar Sahrun. warga Batu Asa desa setempat.
Ia mengungkapkan untuk di dusunnya saja terdapat sekitar 84 penerima manfaat bantuan itu. Sehingga diperkirakan hingga Rp 300 juta lebih dana bantuan itu diselewengkan entah kemana. Pihaknya pun mempertanyakan mengapa dana itu justru masuk langsung ke suplayer barang. Padahal setahu mereka dulunya dana masuk ke rekening Kelompok Masyarakat (Pokmas).
“Itu di Dusun Batu Asak yang rusak ringan saja ada 4 pokmas,” jelasnya.
Mengenai OTT itu, ia mengatakan terjadi pada Kamis (30/9) lalu di salah satu RT di Dusun Batu Asak menjelang Magrib. Setelah kejadian itu, dana yang dipotong dikembalikan berupa material dengan nominal sekitar Rp 3,5 juta. “Nah itu yang kita mau tanyakan. Sudah jelas-jelas ada kesalahan-kesalahan kok desa gagal memperlihatkan keseriusan penanganan masalah ini. Itu yang kita pertanyakan ke desa,” tegasnya.
Pencairan dana itu pun langsung ke pihak suplayer. Namun baru dua Pokmas yang dicairkan sudah keburu di OTT. Karena begitu cair langsung dipotong di tempat. Bahkan para pokmas tak pernah melihat rekening dana itu. “Tadi pak kades menyampaikan itu aturan baru segala macam, kita tidak tahu persis. Tapi kita minta tunjukan aturan baru yang membenarkan hal itu,” tanyanya.
Namun sayangnya kades mengaku tak bisa menunjukkan aturan itu. Sehingga warga menganggap kades tak paham aturan. Tak sampai itu saja, kades pun dinilai tak memperdulikan warganya. Pasalnya tak pernah turun memantau kondisi di lapangan.
Hal senada juga disampaikan warga dusun Pembuwun Desa Buwun Sejati, Sahnep. Menurutnya pemotongan juga terjadi untuk bantuan rusak sedang yang dari Rp 25 juta menjadi Rp 16 juta. Bahkan warga seakan dihasut agar warga mau menerimanya.
“Katanya dari pada tidak dapat lebih baik ambil yang Rp 16 juta itu. Kita kan rakyat kecil tidak tahu apa-apa,” akunya.
Kondisi itu pun hampir dialami semua warga penerima bantuan. Bahkan ada rumah yang hingga kini belum disentuh perbaikannya. Bahkan ada salah satu warga yang rumahnya rusak berat dan sudah dibangun menggunakan dana sendiri belum juga diganti. Padahal sudah ada kesepakatan akan ada diganti setahun lalu. Hal itupun sudah pernah disampaikan ke kades, namun justru seakan tak ada jawaban pasti. “Waktu itu kesepakatannya yang punya material pribadi akan diganti, dan waktu itu kita menyepakatinya. Dijanjikan akan digantikan dengan uang atau material, kalau bisa uang. Tapi sampai sekarang tidak ada informasi sama sekali,” ujar Anita Wulandari, warga setempat.
Ia pun pernah menanyakan kejelasan penggantian itu ke fasilitator ataupun suplayer, namun mereka justru mengaku tidak tahu dan mengarahkan ke kades. Ketika ditanyakan ke kades, mengaku tidak tahu.
Sementara itu Kepala Desa (Kades) Buwun Sejati, Muhidin mengaku tidak mengetahuinya. Karena ia berdalih tugas desa hanya sebatas membuatkan SK untuk Pokmas. “Yang berperan di lapangan adalah Pokmas, suplayer dan fasilitator,” dalihnya.
Ia pun tak bisa memberikan jawaban terkait hal itu. Sehingga ia akan memfasilitasi warga bertemu dengab suplayer dan fasilitator. “Karena apapun jawaban kita pasti dianggap salah,” ujarnya.
Sebab menurutnya hanya fasilitator dan suplayer yang bisa menjawab pertanyaan warga terkait dugaan pemotongan itu. Ia pun baru mengetahui pemotongan itu ketika di lapangan, kemudian langsung menanyakan dan meminta agar tidak dicairkan dulu. Namun tanpa sepengetahuannya justru dicairkan. “Karena kita tidak pernah dilibatkan sama suplayer ini,” ujarnya seraya menyebut jika OTT itu terjadi ketika pembagian oleh suplayer. Dan ia pun kaget ketiga mendengar adanya informasi itu. (win)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Kasus UTD dan Pengiriman Mahasiswa Poltekpar Minta Serius Ditangani Jaksa

Read Next

Lahan Pengganti Lapangan Sengkol Mulai Diukur

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *