Warga Aik Mual Heboh Gara-gara Limbah Roti Kadaluarsa

F limbah scaled

FENDI/ RADAR MANDALIKA LIMBAH: Bukti limbah roti yang masih mengapung di sungai Satek, Senin kemarin.

PRAYA-Warga Dusun Batu Tambun, Desa Aik Mual, Kecamatan Praya dihebohkan dengan limbah ribuan bungkus roti kadaluarsa yang ditemukan di saluran irigasi dusun setempat, Minggu sore lalu.

 “Kami kira ada toko yang terendam banjir dan rotiya dibawa arus,” ungkap Kadus Batu Tambun, Suhaibi yang dihubungi Radar Mandalika, Senin kemarin.

Dia juga melihat banyak anak- anak yang mengambil dan memakan roti tersebut, namun setelah melihat masa expaert- nya, diketahui roti tersebut sudah tidak layak konsumsi alias kadaluarsa.

“Melihat rotinya tidak layak konsumsi, segera saya larang anak- anak itu makan,” ceritanya.

Katanya, ribuan bungkus roti tersebut mengalir di sungai Satek menuju sungai Mujur, bakan sempat menyebabkan penyumbatan di sungai tersebut, namun beruntung tidak sampai menggenangi permukiman warga.

Kadus menyebutkan, kejadian tersebut pertama kalinya tejadi sehingga sempat membuat warganya heboh dan mengira roti ini layak konsumsi.

Sementara itu, Kades Aik Mual, M. Hasyim yang dihubungi mengatakan, limbah kiriman tersebut diduga kiriman dari Desa Mekar Damai. Dia menegaskan, di desanya tidak ada pabrik pembuatan roti.

“Karena hujan dua sampai tiga hari ini, pengampas tidak ada, akhirnya rotinya kadaluarsa, kita perkirakan kiriman dari Mekar Damai,” jelasnya.

Kades menyayangkan tindakan perusahaan pabrik pembuatan roti yang membuang limbah ke sungai. Mestinya tidak ada tempat penampungan tersendiri agar limbah tersebut tidak mereskan warga.

Kades juga mengkhawatirkan jika roti tersebut dimakan oleh anak- anak, tentunya akan berdampak pada kesehatan mereka bahkan bisa saja berakibat kematian.(ndi)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Pra Muswil PPP NTB Memanas

Read Next

Awas……! Tak Pakai Masker Langsung Swab di Tempat

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *