KOTA BIMA — Upaya membangun lingkungan yang aman bagi anak terus diperkuat melalui pendekatan pengasuhan yang sensitif terhadap gender dan berakar pada kearifan lokal. Tim Peneliti MoRA The AIR Funds Kemenag RI–LPDP UIN Mataram menggandeng akademisi dan praktisi perlindungan perempuan serta anak untuk menggelar Training of Trainers (TOT) Uji Coba Modul Pengasuhan Berbasis Gender dan Kearifan Lokal untuk Pencegahan Kekerasan terhadap Anak di Kalikuma Educamp, Kota Bima.
Kegiatan selama dua hari tersebut menjadi bagian dari rangkaian penelitian yang mengembangkan modul pengasuhan untuk komunitas masyarakat Suku Sasak, Samawa, dan Mbojo-Dompu di Nusa Tenggara Barat. TOT ini juga merupakan kelanjutan dari kegiatan serupa yang sebelumnya dilaksanakan di Lombok dan Sumbawa.
Dalam kegiatan tersebut, tim peneliti menggandeng Dr. Muchammadun, MPS, M.Gen App.Ling (Adv), akademisi UIN Mataram sekaligus aktivis LPA NTB, serta Dr. Mira Mareta, M.A., akademisi UIN Mataram dan aktivis perempuan dan anak.
Sebanyak empat peserta mengikuti pelatihan. Dua peserta berasal dari Kota Bima, yakni Dr. Dewi Ratna Muchlisa Mandyara, S.E., M.Hum., Ketua Yayasan Samparaja Kota Bima, dan Intansari, M.Pd., yang mewakili Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Bima. Sementara dari Kabupaten Dompu hadir Nursyamsiah, S.H., aktivis anak dan perempuan sekaligus pengacara, serta Ilyas Yasin, M.M.Pd., dosen STKIP Yapis Dompu.
Kegiatan dibuka pukul 08.00 WITA oleh perwakilan tim peneliti, Dr. Syukri, M.Ag. Ia menjelaskan bahwa TOT tersebut merupakan salah satu tahapan penelitian yang telah berlangsung selama dua tahun.
Menurut Dr. Syukri, modul yang dihasilkan penelitian akan diuji coba di Bima dan Dompu dengan komposisi peserta yang telah ditentukan peneliti. Setelah itu, evaluasi dilakukan untuk memastikan kelayakan modul sebelum diterapkan di lingkungan keluarga, masyarakat maupun lembaga formal.
Forum yang dimoderatori Siti Aminah, M.A., salah seorang anggota tim peneliti, membahas sejumlah persoalan penting terkait gender dan pola asuh anak. Materi antara lain mencakup perbedaan jenis kelamin biologis (sex) dan gender, stereotip gender dan dampaknya terhadap pengasuhan, serta perbedaan antara pengasuhan tradisional dan pengasuhan transformatif gender.
Peserta juga diajak mengidentifikasi nilai-nilai kearifan lokal yang relevan dengan perlindungan anak, menelaah praktik pengasuhan yang berpotensi bias gender atau berisiko bagi anak, menggali nilai pola asuh tradisional, serta merumuskan strategi untuk mengintegrasikan kearifan lokal dalam praktik pengasuhan.
Aspek keterlibatan komunitas turut menjadi perhatian. Pendekatan tersebut diharapkan membuat upaya pencegahan kekerasan terhadap anak tidak hanya bertumpu pada keluarga, tetapi juga melibatkan lingkungan sosial yang lebih luas.
Melalui TOT ini, para peserta diharapkan memahami modul secara komprehensif dan siap menjalankan peran sebagai fasilitator pada tahap uji coba. Dengan demikian, modul yang dikembangkan tidak berhenti sebagai produk penelitian, tetapi dapat diuji dan disempurnakan agar relevan dengan kebutuhan keluarga dan komunitas di Nusa Tenggara Barat.

Suasana penyampaian materi dan diskusi peserta dalam Training of Trainers (TOT).
Peserta mengikuti sesi pembahasan dan pendalaman modul pengasuhan berbasis gender dan kearifan lokal. (*)
