Kondisi tanaman tembakau di Loteng.

PRAYA – Kondisi tanaman tembakau yang rusak pada dua minggu terakhir masih menyisakan harapan bagi para petani di Lombok Tengah. Mereka berharap bisa mendapatkan asuransi.

Pasalnya, dengan kondisi tanaman tembakau yang yang rusak berat, sedang, dan rusak ringan akan membuat petani terancam gagal panen hingga rugi. Di Kecamatan Praya Timur misalnya, ada sekitar 3.725 hektare tanaman tembakau mengalami rusak.

Salah seorang warga, Muhalin menjelaskan jika kondisi tanaman tembakau yang mati akibat hujan beberapa hari terakhir membuat dirinya mengalami kerugian yang cukup besar. Dimana sebagian besar lahan yang dia garap terpaksa dipanen muda dengan dirajang demi mengurangi kerugian.

“Daunnya yang kering ini hanya bisa dirajang, hasilnya juga nanti rendah karena kualitas tembakau yang tidak baik,” katanya.

Dia menerangkan, jika harga tembakau saat ini cukup melejit lantaran mininya pasokan tembakau, sehingga daun- daun tunas dan kering juga banyak dijual dengan kisaran harga yang cukup tinggi. Soal kebutuhan petani saat ini, dikatakan sangat membutuhkan bantuan pemerintah untuk menanggulangi modal usaha yang hilang tersebut. Selain itu, warga juga berharap adanya asuransi pertanian sebagai sarana untuk membantu memulihkan modal.

“Asuransi tembakau juga sangat kita butuhkan kalau memang ada,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala UPT Pertanian Kecamatan Praya Timur, H.Muhir menjelaskan jik sejauh ini pihak ketiga dari penyelenggara asuransi tersebut sejauh ini belum mengcover tanaman jenis tembakau. Selama ini jelasnya tanaman yang dapat diasuransi dengan nominal setoran Rp 36 ribu sekali panen hanya melayani tanaman pangan yakni padi, jagung dan jenis lainnya.

“Kalau untuk tanaman tembakau beluma bisa diasuransikan,” terangnya.

Keberadaan asuransi memang sebutnya akan bisa meringankan para petani, namun sejauh ini minat para petani untuk mengikuti asuransi sangat sedikit lantaran pelayanan polis asuransi yang dihitung berdasarkan petak bukan sesuai luas lahan.

“Mereka ini kalau klaim asuransi yang dihitung hanya petak yang rusak, itu yang membuat petani malas ikut asuransi,” jelasnya. (ndi)

50% LikesVS
50% Dislikes
Post Views : 1154

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *