LOBAR—Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Barat (Lobar) terus memperkuat komitmennya menekan angka stunting melalui berbagai langkah strategis dan inovatif. Salah satu program unggulan yang kini menjadi garda terdepan “Super Insting” atau Intervensi Stunting dengan Pemberian Susu Pertumbuhan. Program ini dirancang memastikan penanganan anak stunting dilakukan secara medis, tepat sasaran, dan berbasis data yang valid.
Wakil Bupati Lobar, Hj. Nurul Adha, menilai keberhasilan penanganan stunting tidak bisa hanya mengandalkan pemberian nutrisi tambahan biasa. Melainkan harus melalui intervensi medis yang terukur. Pemda melibatkan dokter spesialis anak untuk memastikan setiap anak mendapatkan diagnosa yang tepat sebelum diberikan bantuan nutrisi.
“Inovasi kita ini menggandeng dokter spesialis anak untuk melakukan screening menyeluruh. Dari hasil tersebut, kita bisa menemukan penyakit-penyakit yang harus diobati terlebih dahulu, lalu dikeluarkan anak tersebut dari penyakitnya, kemudian baru diresepkan susu pertumbuhannya,” ujar Hj. Nurul Adha, Selasa (5/5).
Susu pertumbuhan dalam program ini bukanlah produk sembarangan yang bisa dibeli secara bebas di pasar. Namun menggunakan susu formula khusus disesuaikan dengan kebutuhan medis anak tersebut.
“Bapak Bupati juga memantau langsung dan meminta laporan setiap hari untuk memastikan susu ini benar-benar sampai ke mulut anak,” tambahnya.
Data tim percepatan penurunan Stunting Pemda Lobar, angka stunting di Lobar sempat menyentuh angka 27 persen menurut data SSGI tahun 2024. Pemkab bergerak dinamis dengan memetakan 5.400 anak yang masuk dalam kategori stunting. Hingga saat ini, sebanyak 1.584 anak telah melalui proses screening oleh tenaga ahli, dan 1.522 di antaranya telah mendapatkan intervensi susu pertumbuhan khusus.
Meski menunjukkan tren positif dengan tingkat keberhasilan anak keluar dari kategori stunting sebesar 16,2 persen, Pemda masih menghadapi kendala yang dihadapi, terutama dari sisi anggaran. Dari total 5.400 anak yang terdata, keterbatasan fiskal daerah menyebabkan baru sekitar 1.522 anak yang dapat terakomodasi dalam skema pemberian susu pertumbuhan.
“Saya sudah buat perencanaan dengan TP3S. Kita sampaikan bahwa karena keterbatasan anggaran, kita baru mengambil 1.522 anak saja yang diintervensi dengan susu. Jika pusat memberikan tambahan anggaran, maka kita bisa menyelesaikan lebih banyak lagi,” jelas politisi PKS yang akrab disapa Ummi Nurul tersebut.
Memasuki tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Lombok Barat berencana melakukan transformasi strategi dengan lebih menitikberatkan pada langkah preventif atau pencegahan. Langkah ini diambil untuk memutus rantai stunting sebelum anak jatuh ke kondisi kronis. Fokus akan diberikan kepada ibu hamil yang kekurangan gizi, bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), serta anak-anak yang menunjukkan tanda-tanda gagal tumbuh.
Wabup Nurul Adha menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap anak yang berat badannya tidak naik selama dua bulan berturut-turut.
“Tahun 2026 kita akan lebih fokus pada pencegahan. Kita kontrol anak-anak yang berat badan lahirnya kurang, atau ibu hamil yang kondisi gizinya kurang. Begitu juga anak yang lahir normal tapi dua kali saja tidak naik berat badannya saat ditimbang, itu pasti berpotensi menjadi stunting,” tegasnya.
Ia memaparkan alur degradasi gizi yang harus dicegah secara cepat. Mulai dari tidak naik berat badan, menjadi gizi kurang, lalu gizi buruk, gizi kronis, dan berakhir pada stunting. Dengan validasi data yang terus diperbarui oleh kader Posyandu dan Dinas Kesehatan, Pemkab Lombok Barat optimis dapat menciptakan generasi masa depan yang lebih sehat dan bebas stunting melalui kerja nyata yang tepat sasaran.(win)
