LOBAR—Upaya penurunan angka stunting di Lombok Barat (Lobar) terus menunjukkan progres positif. Kolaborasi Pemerintah Daerah (Pemda) Lobar dengan Satuan Pelayanan dan Pemenuhan Gizi (SPPG) berkontribusi memenuhi kebutuhan gizi bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B).
Data Satuan Gugus Tugas (Satgas) Koordinator Makan Bergizi Gratis (MBG) Lobar, tercatat sebanyak 53.489 ibu dan balita di Lobar yang dilayani oleh 114 SPPG. Di mana sebagiannya masuk dalam data stunting di Lobar.
Ketua Satgas Koordinator MBG Lobar, H. Saeful Ahkam menerangkan keberhasilan program ini tergantung tiga pilar. Mulai dari kolaborasi antara posyandu dengan SPPG untuk data 3B penerima manfaat. Kolaborasi lintas sektor ini sangat penting memastikan intervensi gizi tepat sasaran, khususnya untuk 3B. Kemudian cakupan wilayah layanan.
“Kami ingin memastikan bahwa kelompok 3B ini mendapatkan intervensi langsung dari MBG,” terang Ahkam kepada awak media, Selasa (5/5).
Menurutnya, pihaknya tetap memantau sejak awal intervensi MBG untuk penerima manfaat. Memisahkan penerima manfaat kategori besar untuk anak sekolah dari tingkat PAUD hingga SMA/SMK, serta kategori kelompok 3B. Meski demikian, Ahkam tidak menampik belum semua wilayah telah terjangkau, terutama di beberapa titik yang masuk kategori wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Ia menjelaskan total seluruh sasaran MBG yang dilayani 114 SPPG mencapai 255.271 orang terdiri dari kelompok 3B mencapai 53.489 orang dan 201.782 orang penerima manfaat mencakup siswa tingkat PAUD hingga SMA sederajat beserta tenaga kependidikannya. Bahkan mengungkapkan 114 SPPG yang beroperasi di Lobar memberikan dukungan operasional kepada sekolah guna merapikan fasilitas penunjang, seperti peralatan makan (ompreng) dan sarana distribusi lainnya.
Program MBG tidak hanya sekadar membagikan makanan, tetapi juga mengedepankan kualitas nutrisi yang terkandung di dalamnya. Ahkam bahkan mengimbau para ahli gizi dan relawan untuk selalu memperhatikan kesesuaian menu makanan dengan kebutuhan spesifik masing-masing kelompok umur. Standardisasi penting agar angka kecukupan gizi terpenuhi secara optimal, sehingga dampak program terhadap penurunan stunting dapat terlihat secara signifikan.
“Kami mengimbau agar ahli gizi dan relawan, terutama untuk bumil dan balita, harus menyesuaikan jenis makanannya. Jangan sampai menu untuk anak kelas 3 atau 4 SD diberikan kepada balita, itu tidak cocok. Harus konsisten disesuaikan dengan kebutuhan,” tegas Ahkam.
Meski demikian, wilayah-wilayah 3T masih menjadi pekerjaan rumah yang terus diupayakan Pemda, agar program MBG ini bisa dinikmati para 3B di kawasan itu. Seperti daerah Buwun Mas dan Meang Sekotong. Di kawasan itu relawan dan mitra di lapangan bahkan harus menempuh perjalanan jauh untuk memastikan bantuan sampai ke tangan masyarakat.
“Jika hari ini masih ada asumsi bahwa ada kelompok 3B yang belum terlayani, itu murni karena kendala akses di wilayah 3T yang memang berat untuk dijangkau oleh SPPG. Namun, seiring bertambahnya jumlah SPPG, akses ini akan semakin mudah,” jelasnya menambahkan. (win)
