Sosok Rin Erienti, Guru Anak Berkebutuhan Khusus di Lombok Tengah

F bok azza

HAZA/RADAR MANDALIKA BELAJAR: Ibu guru Rin Erienti saat mengajar salah satu siswanya.

Tak Pernah Mimpi jadi Guru, Hasilnya Banyak Alumni Buka Usaha

Perkenalkan namanya, Rin Erienti. Dia seorang guru yang lahir di Puyung 12 September 1964. Profesinya menjadi guru di sekolah luar biasa (SLB) 1 Praya, Lombok Tengah.

HAZA-LOMBOK TENGAH

SENIN pagi itu, wartawan Radar Mandalika berkesempatan mendatangi salah satu guru SLB 1 Praya Lombok Tengah. Informasi yang diterima, puluhan tahun sudah guru ini mengajari anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus. Dia berhasil karena sudah melahirkan para alumni yang mampu hidup secara mandiri dengan cara membuat usaha dan mampu bersaing di dunia kerja.

Rin Erienti, dia guru yang lahir di Puyung 12 September 1964. Rin merupakan salah satu guru senior di SLB 1 Praya Lombok Tengah yang penuh motivasi dan inspirasi.

Saat ditemui, pagi itu senyum manis guru Rin Erienti terpancar dari raut wajah yang penuh ihklas dan semangat menyambut kedatangan Radar Mandalika. Rin seorang guru yang penuh kesabaran dan terbuka mudah bergaul kepada setiap orang.

Rin Erienti merupakan ibu dari tiga orang anak yang awal karirnya menjadi guru SLB tahun 1985 silam. Kedatangan Radar Mandalika disambut hangat olehnya.

“Mari dinda masuk,” ajaknya sambil membersihkan tempat duduknya.

Rin Erienti mengaku, menjadi guru sama sekali tidak pernah terlintas dalam benaknya. Terlebih menjadi guru SLB namun setelah lulus dari SMAN 1 Praya, ia sangat membutuh pekerjaan sehingga ada salah satu guru SLB provinsi NTB pertama atas nama Abdulmuid yang menawarkannya untuk menjadi salah guru SLB. Sebab jadi guru sepertinya sangat langka pada waktu itu. Sehingga Rin mengambil kesempatan itu.

Ceritanya, walaupun awalnya itu adalah profesi yang sulit baginya, namun dengan perjalanan waktu ia paham betul bagaimana cara mendidik anak-anak yang berkebutuhan khusus. Sebagai persyaratan sertifikasi, Rin akhirnya melanjutkan kejejang S1 di Muhammadiyah mengambil jurusan PKN.

Niat kuatnya menjadi guru ABK karena kebanyakan masyarakat bahwa anak-anak berkebutuhan khusus tidak bisa dididik dan dicap membawa sial.

“Kalau semua orang beranggapan begitu siapa yang akan mendidik mereka membantu mengembangkan minat bakat mereka,” katanya.

Rin yakin bahwa anak yang berkebutuhan khusus memiliki potensi tersembunyi pada setip anak, karena kepercayaan Allah tidak mungkin menciptkan mahklu jika tidak bermanfaat.

Dari pengakuannya anak berkebutuhan khusus kadang sering dikucilkan khususnya di kalangan teman sebayanya karena mereka dicap hidup tidak berguna. Sehingga dengan keadaan ini membuatnya tetap semangat untuk mengajari anak-anak berkebutuhan khusus ini.

“Dengan kesabaran, keiklasan dan ketekunannya alhamdulillah sudah melahirkan anak-anak yang mandiri seperti ada yang sudah buka usaha salon, jahit dan bengkel,” ceritanya.

Karena selama belajar di SLB mereka diberikan pelatihan lifeskil untuk pegangan mereka untuk mencari rezeki untuk menyambung hidupnya.”Sama sekali ngak berpikir mau jadi guru, terpenting bisa bekerja dan ini sudah menjadi jalan hidup saya,” jawabnya.

Katanya, bagi dia anak berkebutuhan khusus tidak ada bedanya mereka juga butuh pendidikan yang layak dibalik keterbatasanya. “Selama ini yang paling susah kita ajari yaitu anak-anak yang autis karena mereka memiliki dunia sendiri,” bebernya.

Wanita 57 tahun ini menjelaskan, salah satu pelajaran berharga yang dapat dipetik selama mengabdikan diri menjadi guru adalah selalu bersyukur. Terutama bersyukur dengan apa yang dimiliki, dan anak-anak yang memiliki keterbtasan merupakan motivasinya.

“Hal yang paling saya syukuri yaitu melihat perkembangan anak didik kami yang sudah bisa mandiri ada perkembangan sehingga berprestasi,” katanya terharu.(*)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

UJIAN NASIONAL 2021 DITIADAKAN

Read Next

Pemprov Didesak Gratiskan SPP

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *