Sesalkan Tambang di Sekitar Mata Air

F Kabid scaled

FENDI/RADARMANDALIKA.ID H.T. Habibi

LOTIM – Kabid Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan di Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Lotim, H.T. Habibi mengaku menyesalkan adanya aktivitas tambang di sekitar sumber mata air. Kegiatan tambang ini katanya, selain membuat lahan menjadi kering karena pohon banyak yang ditebang, juga menyebabkan mata air di sekitar tambang lambat laun menjadi hilang dan tidak bisa dimanfaatkan.


 “Seharusnya tidak boleh ada tambang, karena pohon dapat menyerap air ke dalam tanah,” tegas Habibi, Selasa (15/12).

 Selain itu alih fungsi lahan, dari lahan pertanian menjadi permukiman, penebangan pohon secara illegal dan pembetonan membuat serapan air berkurang sehingga cadangan air dalam tanah mengurang. Tidak diserapnya air hujan dengan maksimal sehingga membuat air tersebut turun ke selokan secara berlebihan yang dapat berdampak pada banjir bandang.
 

Untuk dapat mengendalikan cadangan air dalam tanah, menurutnya dibutuhkan sarana penyerapan air yaitu, pohon secara alami dan membuat sumur penyerapan. Ini perlu dilakukan menurutnya karena siklus air mulai dari hujan, kemudian penyerapan, baru kemudian sisanya ke laut, saat ini faktanya kurang dalam penyerapan, yang seharusnya sisa penyerapan yang mengalir kelaut namun kondisinya berbeda saat ini, sehingga akibatnya pada matinya mata air yang ada.
 

Sebagai langkah awal pihaknya berupaya untuk melakukan reboisasi terhadap lokasi mata air yang masuk pada inventaris DLHK yaitu, mata air Ambung, Gegek Logok, ceret, pesisok, lingsar, embulan Jelateng, Loanggali, Bagek Papan, embung petak, dan Tojang.
 “Penghijauan seluruh titik mata air, Pemda sudah membebaskan lokasi mata air yang kita iventalisir untuk prioritas penghijauan,” jelasnya.


 Mata air terus menjadi sorotan disebabkan oleh jumlahnya yang terus mengalami penurunan, dari ribuan mata air yang ada, menurut data DLHK tahun 2018 hanya tersisa 206 mata air. Dari jumlah tersebut mata air yang bisa dimanfaatkan PDAM hanya 13 mata air.


 “Kita hanya bisa mengusahakan, karena mata air hanya bisa muncul sendiri, setidaknya menjaga yang masih ada,” terangnya.

Dia berharap partisipasi dan kesadaran semua pihak untuk dapat berperan aktif menjaga lingkungan khususnya sumber mata air yang ada.
 “Gunakan kewenangan untuk menjaga lingkungan, masyarakat juga lebih peduli, setidaknya ada perhatian, tidak menebang pohon secara sembarangan, jika pun di tebang, ada upaya utk penanaman kembali,” harapnya. (cr-ndi)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Pilkada, Razia Masker Dihentikan Sementara

Read Next

Perkim NTB Berhutang 98 Miliar di Kontraktor

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *