LOBAR—Manteri Sosial (Mensos) Republik Indonesia (RI) Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menekankan pentingnya peran Pusat Kesejahteraan Sosial (Puskesos) yang ada di setiap desa. Hal itu ditegaskan Gus Ipul saat menyerahkan bantuan Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) di Sentra Paramita Mataram, Kamis (16/4). Pemerintah Desa (Pemdes) diminta untuk menghidupkan Puskesos agar pelayanan sosial mudah didapatkan masyarakat.
“Ke depan saya mengajak para kepala desa untuk menghidupkan Puskesos, Pusat Kesejahteraan Sosial di setiap desa,” terang Gus Ipul kepada awak media.
Sekretaris PBNU itu sangat menekankan Puskesos harus menjadi unit yang aktif menyerap aspirasi dan kendala masyarakat secara langsung. Agar cepat memberikan solusi ketika menemukan berbagai kendala kebutuhan sosial masyarakat. Melalui sistem yang terintegrasi, laporan dari tingkat desa diharapkan dapat berjenjang naik ke tingkat kabupaten, provinsi, hingga ke pusat jika memerlukan penanganan khusus.
“Sehingga kalau ada warga desa itu yang membutuhkan bantuan apapun karena mereka dalam kesulitan, bisa dimasukkan sistem dan nanti bisa dicarikan solusi,” tegasnya.
Pola kolaborasi ini juga membuka ruang bagi pihak filantropi dan lembaga sosial lainnya seperti Baznas untuk ikut berkontribusi jika bantuan tersebut berada di luar skema APBN atau APBD.
Didampingi Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhammad Iqbal dan Kepala Sentra Paramita, Arif Rohman, Mensos menjelaskan bantuan ATENSI. Menurutnya bantuan itu dirancang secara spesifik untuk menyentuh aspek-aspek mendasar yang dibutuhkan oleh kelompok rentan. Tidak hanya terbatas pada pemenuhan kebutuhan pokok, bantuan ini juga mencakup dukungan bagi penyandang disabilitas. Bahkan solusi bagi permasalahan administratif yang sering menjadi hambatan bagi keluarga kurang mampu dalam mengakses layanan publik.
“Jadi ini memang ada bantuan ATENSI ya, Asistensi Rehabilitasi Sosial. Itu diberikan kepada kelompok-kelompok rentan yang membutuhkan, bisa jadi penyandang disabilitas atau dari keluarga-keluarga yang memang tidak mampu,” ujarnya.
Bantuan ini juga menyasar masalah khusus seperti penebusan ijazah anak sekolah yang tertahan karena kendala biaya serta pengurusan dokumen pernikahan dan Kartu Keluarga (KK).
Saat disinggung Transformasi Digital bansos, Gus Ipul mengaku belum semua masyarakat mahir menggunakan teknologi. Padahal digitalisasi kunci untuk meningkatkan akurasi data dan meminimalkan kesalahan sasaran (error). Meski demikian uji coba penggunaan aplikasi digital untuk memverifikasi data penerima manfaat sedang dilakukan di berbagai wilayah untuk menilai efektifitasnya.
“Digitalisasi menjadi sangat penting. Yang membantu banyak orang, ada pendamping, ada agen-agen, relawan-relawan boleh membantu untuk bagaimana data-data penerima manfaat itu dimasukkan ke dalam aplikasi,” jelasnya.
Secara tidak langsung, Mensos mengakui masih ada data masyarakat miskin yang belum masuk Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Namun Gus Ipul menekankan bahwa data bersifat dinamis, sehingga proses verifikasi dan pemutakhiran akan terus dilakukan secara berkala setiap tiga bulan sekali. Demi mengakomodasi warga yang belum terdaftar dalam desil kesejahteraan.
“Jadi kalau belum masuk, dimasukan terus datanya,” pungkasnya.(win)
