banner 300x600

Selama MOTOGP, Perputaran Uang 606,7 Miliar

  • Bagikan
F MotoGp
DOK/RADAR MANDALIKA BERDAMPAK: Salah satu pembalap WSBK saat hendak ke lintasan start di Sirkuit Mandalika, beberapa waktu lalu.

MATARAM – Event MotoGP Maret 2022 di Sirkuit Mandalika diakui Gubernur NTB, H. Zulkifliemansyah cukup mengungkit ekonomi daerah. Gubernur mengatakan perputaran uang pada MotoGP mencapai Rp 606,7 miliar.

“Itu mengajarkan satu event mengungkit kegiatan ekonomi. Jalan menjadi bagus Bypass selesai,” terang gubernur, kemarin.

banner 300x600

Dampaknyata pada pelaksanaan MotoGP itu seperti pertanian, kuliner, hotel, bisnis angkutan dan lainnya yang sangat menggembirakan.
“Jadi mari bersama menjaga kondusifitas daerah kita, agar tetap aman, nyaman dan menyenangkan sehingga tetap menjadi pilihan utama untuk menjadi tuan rumah berbagai event besar Nasional dan Internasional,” pesan gubernur.

Sementara itu, Kepala BPS Provinsi NTB, Wahyudin merilis perkembangan hotel, transportasi hingga pertumbuhan ekonomi pada triwulan pertama tahun ini.

Perkembangan Perhotelan NTB pada Maret yaitu tingkat penghunian kamar (TPK) Hotel Bintang Bulan Maret 2022 mengalami kenaikan dibandingkan Februari 2022. TPK Bulan Maret 2022 tercatat sebesar 38,43 persen, naik sebesar 9,12 poin dibandingkan TPK Bulan Februari 2022 yang sebesar 29,31 persen. TPK Maret 2022 juga mengalami kenaikan sebesar 1,98 poin jika dibandingkan dengan TPK Bulan Maret 2021 sebesar 36,45 persen. TPK Hotel Non Bintang Bulan Maret 2022 sebesar 23,75 persen, naik sebesar 6,34 poin dibanding TPK Bulan Februari 2022 yang sebesar 17,41 persen. Jika dibandingkan dengan TPK Hotel Non Bintang Bulan Maret 2021 sebesar 15,36 persen, maka TPK Maret 2022 mengalami kenaikan sebesar 8,39 poin.

Rata-rata lama menginap (RLM) tamu di Hotel Bintang pada Bulan Maret 2022 sebesar 2,11 hari dan mengalami kenaikan sebesar 0,03 hari dibandingkan RLM Februari 2022 yang sebesar 2,08 hari. Rata-rata lama menginap (RLM) tamu di hotel non bintang pada bulan Maret 2022 selama 1,50 hari, naik sebesar 0,17 hari dibandingkan dengan RLM Februari 2022 yang sebesar 1,33 hari.

“Jumlah tamu yang menginap di hotel bintang Maret 2022 tercatat sebanyak 65.426 orang yang terdiri dari 63.066 orang Tamu Dalam Negeri (96,39 persen) dan 2.360 orang Tamu Luar Negeri (2,61 persen). Jumlah tamu yang menginap di Hotel Non Bintang pada Bulan Maret 2022 tercatat sebanyak 55.271 orang yang terdiri dari 54.202 orang Tamu Dalam Negeri (98,07 persen) dan 1.069 orang Tamu Luar Negeri (1,93 persen),” beber Wahyudin terpisah.

Sementara itu, perkembangan transportasi NTB Maret 2022 yaitu jumlah penumpang yang datang melalui angkutan laut pada Maret 2022 naik sebesar 74,91 persen dibandingkan Februari 2022. Demikian juga jumlah penumpang berangkat naik sebesar 84,53 persen. Jumlah barang yang dibongkar melalui pelabuhan laut pada Maret 2022 naik sebesar 19,23 persen dibanding bulan sebelumnya. Demikian juga jumlah barang yang dimuat naik sebesar 360,78 persen dibanding bulan Februari 2022.

Jumlah penumpang yang datang melalui penerbangan domestik pada Bulan Maret 2022 sebanyak 111.428 orang, naik sebesar 96,48 persen dibanding Bulan Februari 2022. Penumpang datang melalui penerbangan internasional pada Bulan Maret 2022 sebanyak 10 orang, turun sebesar 97,96 persen dibandingkan Bulan Februari 2022.

Jumlah penumpang yang berangkat pada Bulan Maret 2022 melalui penerbangan domestik 97.635 orang, naik sebesar 82,75 persen dibandingkan Bulan Februari 2022.

“Penumpang berangkat melalui penerbangan internasional pada Bulan Maret 2022 hanya 5 orang,” katanya.

Dijelaskannya pertumbuhan ekonomi NTB pada Triwulan I berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku triwulan I-2022 mencapai Rp36,64 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp24,43 triliun. Ekonomi NTB triwulan I-2022 terhadap triwulan I-2021 mengalami pertumbuhan sebesar 7,76 persen (y-on-y). Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan minum mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 22,29 persen. Dari sisi pengeluaran, Komponen Ekspor Luar Negeri mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 187,28 persen.
Lalu Ekonomi NTB triwulan I-2022 terhadap triwulan sebelumnya mengalami pertumbuhan sebesar 0,92 persen (q-to-q). Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 14,28 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, Komponen Ekspor Luar Negeri mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 61,29 persen. Ekonomi NTB tanpa tambang bijih logam pada triwulan I-2022: tumbuh 5,15 persen (y-on-y), dan turun 1,04 persen (q-to-q).

Selanjutnya, keadaan ketenagakerjaan di bulan Februari. Jumlah angkatan kerja pada Februari 2022 sebanyak 2,78 juta orang, mengalami peningkatan sebanyak 33,86 ribu orang dibanding Februari 2021. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) turun sebesar 1,07 persen poin. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Februari 2022 sebesar 3,92 persen, turun 0,05 persen poin dibandingkan dengan Februari 2021. Jika dibandingkan dengan Februari 2020 mengalami peningkatan 0,88 persen poin. Penduduk yang bekerja sebanyak 2,67 juta orang, meningkat sebanyak 33,85 ribu orang dari Februari 2021. Lapangan pekerjaan yang mengalami peningkatan persentase terbesar adalah Sektor Jasa Kesehatan (0,95 persen poin), Perdagangan Besar dan Eceran (0,77 persen poin), dan Konstruksi (0,75 persen poin). Sementara sektor yang mengalami penurunan terbesar yaitu Sektor Jasa Pendidikan (0,92 persen poin), Pertanian (0,59 persen poin), dan Administrasi Pemerintahan (0,54 persen poin).

Pada Februari 2022, sebanyak 2,02 juta orang (75,67 persen) bekerja pada kegiatan informal, naik jika dibandingkan dengan Februari 2021 dan Februari 2020 masingmasing sebesar 0,97 persen poin dan 10,63 persen poin. Sebagian besar penduduk yang bekerja merupakan pekerja penuh (52,61 persen). Sementara pekerja paruh waktu sebesar 30,92 persen dan setengah penganggur 16,46 persen.

“Terdapat 211,82 ribu orang (5,35 persen penduduk usia kerja) yang terdampak COVID-19. Terdiri dari pengangguran karena COVID-19 (32,86 ribu orang), Bukan Angkatan Kerja (BAK) karena COVID-19 (20,86 ribu orang), sementara tidak bekerja karena COVID-19 (8,86 ribu orang), dan penduduk bekerja yang mengalami pengurangan jam kerja karena COVID-19 (149,25 ribu orang),” pungkasnya. (jho)

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *