Pupuk Palsu Beredar di Lombok Tengah

  • Bagikan
f pupuk 2
JAYADI/RADAR MANDALIKA GROUP MENUNJUKKAN: Kabid Sarana dan Prasarana Dinas Pertanian Loteng, Yusuf Adi menujukkan satu karung pupuk jenis SP36 yang diduga palsu di kantornya, kemarin.

PRAYA-Dinas Pertanian Loteng menemukan peredaran pupuk yang diduga palsu dikalangan petani baru-baru ini.  Hal itu membuat petani resah. Pasalnya, hampir tidak ada perbedaan antara pupuk asli dan pupuk palsu yang beredar di pasaran tersebut.

Kepala Dinas Pertanian dan Perternakan Loteng, Lalu Iskandar mengakui, pihaknya telah menerima laporan dari petani tentang peredaran pupuk paslu tersebut.  Namun, terhadap persoalan pupuk itu, pihaknya langsung melaporkannya pada pihak kepolisian.

“Sudah kami laporkan masalah temuan pupuk palsu ini. Sekarang polisi sedang melakukan penyelidikan,” katanya, kemarin.

Ia menegaskan, terungkapnya peredaran pupuk paslu ini berdasarkan informasi salah satu kelompok tani di Desa Labulia, Kecamatan Jonggat. Dimana dari keterangan mereka, salah satu anggotanya telah membeli pupuk jenis SP36 bersubsidi disalah satu warga di wilayah setempat.  Namun, setelah dibuka, isinya sangat berbeda dengan dengan pupuk SP36 yang selama ini beredar di tengah masyarakat.

Melihat kejanggalan itu, kelompok tani kemudian langsung melaporkannya pada dinas.  Pihaknya yang menerima laporan langsung turun untuk melakukan pengecekan di lapangan. Hasilnya, disimpulkan memang benar pupuk ini patut diduga palsu, karena dari tekstur serta labelnya sangat berbeda dengan pupuk SP36 produksi PT Petrokimia Gresik.

 “Mengantisipasi agar dampak tidak meluas, makanya kami berkoordinasi dengan kepolisian,” tuturnya.

Hal senada disampaikan oleh, Kabid Sarana dan Prasarana Dinas Pertanian Loteng, Yusuf Adi. Ia mengaku, pihaknya sudah turun bersama dengan UPT beserta Bhabinsa dan Bhabinkamtibmas untuk mengecek langsung pupuk palsu tersebut.

“Kami menemukan sekitar 2 ton pupuk yang mirip dengan SP36 itu beredar dikalangan petani setempat,” katanya, kemarin.

Ia mengungkapkan, pihaknya sudah mengirim sampel pupuk merek SP36 ini ke laboratorium Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTB. Hal ini  untuk mengetahui kandungan unsur hara sebenarnya. Dari kandungan unsur hara yang tertera di karung pupuk SP36 diduga palsu, tertulis kandungan fosfat 0,95 persen dan sulfur 2,56 persen. Di kemasan karung tidak ada tertera kode Standar Nasional Indonesia (SNI). Selain itu, pupuk diduga palsu itu diproduksi oleh CV Putra Tunggal sesuai dengan yang tertera dalam kemasan karungnya.  

“Makanya kami sedang menunggu hasil uji laboratorium dan hasil penyelidikan dari kepolisian. Apakah memang betul kandungan pupuk diduga palsu,” ucapnya.

Padahal, lanjut dia, untuk pupuk SP36 asli tertulis dalam kemasan karungnya pupuk super fospat dengan kandungan fospat 36 persen dan sulfur 5 persen. Tidak hanya itu,  ada tulisan label SNI kemudian produksi PT Petrokimia Gresik. 

“Kita bisa membedakan asli dan tidaknya,” ungakpnya.

Dengan ditemukan peredaran pupuk palsu itu, pihaknya telah memberikan imbuan agar petani selalu menggunakan pupuk dengan merek dan isi yang sudah terdaftar resmi dan berstandar SNI. Serta, selalu membeli di kios pupuk resmi. Dengan demikian, keaslian dan kualitas pupuk bisa terjamin. Menurutnya, pupuk berkualitas baik seharusnya memiliki kandungan unsur hara sesuai anjuran pemerintah.

“Kami sangat menyayangkan masih ada pihak yang berusaha mengelabui petani dengan menjual produk palsu atau tidak memiliki kandungan yang benar, sehingga akan sangat merugikan petani karena akan menggagalkan hasil panen,” tuturnya.

Ia mengaku, selain menemukan pupuk diduga palsu, pihaknya juga menemukan penjualan pupuk subsidi dikalangan petani diatas HET pemerintah.  Seperti harga pupuk urea dengan harga HET sebesar Rp 180 ribu malah dijual dengan harga Rp 220 ribu dikalangan petani.

 “Iya benar ada yang menjual melampaui HET. Akan kita cek kenapa mereka menjual melampaui HET yang ditetapkan,” ujarnya. 

Untuk permasalahan harga ini, pihaknya juga sudah meminta tim agar memantau peredaran pupuk bersubsidi tersebut. Sehingga para pedagang tidak menjual di atas HET.

“Jika terbukti, maka akan kita tindak dan dapat diberikan sanksi,” tegasnya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Loteng, AKP Priyo Suhartono yang dikonfirmasi mengaku masih belum mengetahui persis tentang pupuk ini.  Tapi, pihaknya akan segera menanyakan pada anggotanya.

“Saya baru dua hari ini menjabat. Makanya saya belum tahu,” tutupnya. (jay)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *