LOBAR—PT Air Minum Giri Menang (Perseroda) memberikan penjelasan mengenai kendala pasokan air bersih yang dialami masyarakat dan pelaku usaha di wilayah Kecamatan Batulayar, termasuk kawasan pariwisata Senggigi. Fenomena kemarau panjang serta dampak fenomena El Nino menjadi pemicu penurunan signifikan ketersediaan air baku di sejumlah sumber utama. Kondisi itu berdampak pada mengecilnya debit air yang mengalir ke pelanggan pada waktu-waktu tertentu, khususnya pagi hingga sore hari.
Sebelumnya, sejumlah pelaku usaha maupun ritel modern di kawasan itu mengeluhkan tidak keluarnya air PAM Giri Menang pada jam-jam tertentu. Kondisi itu sempat menjadi sorotan Komisi II DPRD Lobar lantaran mengkhawatirkan citra pariwisata Lobar.
Plt. Direktur Utama PT AM Giri Menang, Aini Kurniati, mengungkapkan penurunan pasokan air baku paling drastis terjadi pada Mata Air Srepak. Sumber air baku yang diperuntukkan untuk kawasan wilayah utara Lobar tersebut bahkan mengalami penurunan hingga 80 persen. Dari biasanya mampu menyuplai air hingga 88 liter per detik, kini turun hingga kisaran 18 liter per detik.
“Turunnya sangat drastis, sekitar 80 persen,” kata Aini Kurniati saat dikonfirmasi awak media, Rabu (16/9).
Ia menambahkan, penurunan debit di Srepak pada musim kemarau tahun ini merupakan yang terparah. Sebab, jika dibandingkan dengan periode tahun-tahun sebelumnya, penurunan itu tidak pernah mencapai angka 10 persen. Pihaknya terus menelusuri penyebab penurunan signifikan sumber mata air tersebut.
“Teman-teman operasional terus menelusuri. Ini sudah berkali-kali dengan kajian-kajian analisis, mungkin karena pengaruh kemarau ini juga. Faktor alam, kita tidak bisa memprediksi alam,” ujarnya.
Penurunan debit juga dialami Sumber Air Ranget. Tidak seperti Mata Air Srepak, penurunan di sumber tersebut tidak terlalu signifikan. Dari debit normal sebesar 577 liter per detik, debit turun sebesar 1,4 persen menjadi 569 liter per detik. Sementara itu, sumber mata air Lembah Sempaga mengalami penurunan debit sekitar 10 persen, dari 90 liter per detik menjadi 80 liter per detik.
Dampak penurunan sumber air baku Srepak itu menjadi perhatian pihaknya. Terlebih, alirannya menyuplai daerah Kecamatan Gunungsari dan Kecamatan Batulayar.
“Berdampak juga untuk kawasan wisata Senggigi,” sambungnya.
Mengatasi keterbatasan pasokan air bersih di kawasan wisata itu, PT AM Giri Menang menerapkan sejumlah langkah teknis serta rekayasa distribusi di wilayah terdampak. Langkah tersebut dimulai dari rekayasa aliran, pengaturan jadwal distribusi, optimalisasi armada mobil tangki, hingga percepatan perbaikan kebocoran pipa guna meminimalisasi tingkat kehilangan air.
Tak sampai di situ saja, pihak PT AMGM juga aktif melakukan pendistribusian air bersih menggunakan mobil tangki untuk wilayah yang mengalami krisis air bersih.
“Tadi pendistribusian dengan mobil tangki juga kita optimalkan,” bebernya.
Kondisi ini paling dirasakan oleh para pelaku usaha kecil maupun ritel modern. Pasalnya, rata-rata pelanggan di kawasan wisata, khususnya perhotelan, menggunakan sumur bor di samping pasokan dari PDAM sebagai langkah antisipasi kondisi kemarau yang terjadi setiap tahunnya.
“Memang kalau dilihat, pelanggan untuk yang hotel-hotel itu lebih banyak menggunakan sumur bor. Apalagi kondisi saat ini, pastilah memakai sumur bor,” bebernya.
Tak hanya itu, perusahaan juga tengah menyiapkan program strategis jangka panjang untuk penanganan permasalahan tersebut. Aini mengatakan pihaknya tetap intens berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) dan Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) untuk rencana proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Meninting. Meskipun realisasinya baru bisa dilaksanakan pada 2029 mendatang, namun SPAM itu diyakini mampu menyelesaikan permasalahan air untuk wilayah utara Lobar dan wilayah Ampenan, Kota Mataram. Sebab, dari sumber bendungan itu, bisa diperoleh air baku sekitar 150 liter per detik dan mampu melayani 15 ribu pelanggan baru. Sementara itu, untuk wilayah selatan, rencana pembangunan reservoir penyeimbang akan dilakukan pada 2027. Rencana pembangunan ini bahkan mendapatkan perhatian dan dukungan dari jajaran DPRD Kabupaten Lobar.
“Kita berharap ada tambahan sumber air baku dari Bendungan Meninting, misalnya 150 liter per detik. Bisa menyerap 15.000 pelanggan. Amanlah untuk wilayah utara, juga untuk yang di Ampenan bisa ter-cover,” harapnya.
Meski demikian, para pelanggan diharapkan memahami kondisi alam yang sedang terjadi. Sebab, kondisi kesulitan air PDAM di kawasan wisata itu tidak terjadi sepanjang hari, melainkan di waktu-waktu tertentu saja. Air tetap mengalir pada malam hari. Pihaknya pun mengimbau masyarakat untuk bijak menggunakan air di tengah kondisi musim kemarau.
“Saat ini musim kemarau, kita harapkan masyarakat menggunakan air secara bijak dan sesuai kebutuhan. Apabila ada kebocoran atau gangguan, segera melapor melalui kanal resmi PAM Giri Menang,” imbaunya. (Win)
