Penyuluh Pertanian Diberikan Bimtek Pengolahan Hasil Jagung dari Bapeltanbun Provinsi NTB

  • Bagikan
IMG 20220730 WA0007
JHONI SUTANGGA/RADAR MANDALIKA BERI PENYAMPAIAN : Kepala Balai Pelatihan Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, H. Hendro Yulistiono, SP. M.Si saat memberi sambutan dalam pembukaan Bimtek Bagi Penyuluh Pengolahan Hasil Jagung Selasa, 26/07 di Peninjauan Narmada Lombok Barat.

 

MATARAM – Sebanyak 30 orang penyuluh pertanian yang berasal dari Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten lombok Timur, Kabupaten Dompu dan kabupaten Bima diberikan Bimbimbang Teknis (Bimtek) Pengolahan Hasil Jagung oleh Balai Pelatihan Pertanian dan Perkebunan (Bapeltanbun) Provinsi NTB. Bimtek berlangsung tanggal 26-29 Juli 2022 bertempat di Balai Pelatihan Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB Peninjauan Narmada Lombok Barat. Peserta Bimtek akan ada kunjungan Praktek Kerja Lapangan yang bertempat di Kelompok Wanita Tani (KWT) Rukun, Dusun Ngorok, Desa Kopang Rembige, Kecamatan Kopang, Lombok Tengah.

Kepala Balai Pelatihan Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, H. Hendro Yulistiono, SP. M. Si mengatakan Bimtek tersebut bertujuan memberikan pengetahuan kepada Penyuluh lebih mendalam tentang olahan Jagung. Pada Bimtek ini dihadirkan narasumber yang berkompeten terkait olahan Jagung. Dijelaskannya, olahan Jagung suatu bisnis terbilang sangat mudah. Saat ini belum banyak Kelompok Wanita Tani (KWT) yang dibimbing oleh Penyuluh dalam mengolah Jagung sebagai suatu bisnis keluarga yang menguntungkan seperti Emping Jagung.

“Contoh di Lombok Tengah mayoritas olahannya KWT yaitu ubi yang dijadikan opak opak. Jarang ada yang olahan jagung menjadi Emping Jagung,” ungkap H. Hendro Yulistiono, SP. M. Si saat memberi sambutan dalam pembukaan Bimtek Bagi Penyuluh Pengolahan Hasil Jagung Selasa, 26/07.

Untuk itu melalui Bimtek tersebut, diharapakan kedepannya dari bimtek ini penyuluh dapat membantu KWT di daerahnya untuk bervariasi bentuk olahan pertanian seperti yang semula olahan ubi menjadi opak-opak dan bisa membuat unit usaha lain yaitu Emping Jagung tersebut. Pengolahan Jagung menjadi Emping bisa dirasakan dengan berbagai varian rasa  seperti asin, pedas manis, balado, jahe, dan jagung bakar.

H. Hendro Yulistiono, SP. M. Si mengatakan Olahan Emping Jagung memang butuh proses. Ilmu membuat Emping Jagung juga belum ditahu.
“Sehingga dengan melibatkan Penyuluh peserta bimtek untuk belajar dari yang spesialis olahan Jagung diharapkan nantinya bisa diadopsi ke KWT yang lain,” terangnya.

Sebetulnya Olahan Jagung dibilang baru juga tidak. Sebab sejak lama kegiatan Olahan Jagung sudah banyak dilakukan banyak orang. Tetapi yang menghadirkan olahan lebih memiliki mofidifkasi masih terasa sulit. Hal tersebut disebabkan ada biaya yang cukup besar yang akan dibutuhkan para KWT salah satunya membeli mesin Emping Jagung.

“Yang sederhana kan dibuat Marning memang gampang tinggal direbus udah jadi. Tapi olagan Emping Jagung ini agak ribet dan butuh biaya lumayan. Proses pembuatannya butuh ketelitian, banyak tahapan dilakukan sampai menjadi Emping Jagung. Hal hal ini yang harus dipelajari,” terangnya.

H. Hendro Yulistiono, SP. M. Si menjelaskan mengapa harus Olahan Emping Jagung. Menurutnya Jagung tidak hanya dijual untuk pakan ternak saja tetapi ada klasifikasi Jagung yang memang great nya lebih rendah, harga jual murah bisa diproses menjadi makanan yang memiliki daya jual lebih tinggi.

“Makanya saat ini kita tekankan di pengolahan. Supaya Jagung tidak hanya dijual untuk pakan ternak aja. Hal hal inilah yang mungkin bisa ditangkap oleh KWT. Harganya jauh lebih mahal dari grade Jagung yang jual Pipilan,” jelasnya.

“Bayangkan Emping Jagung kalau sudah Jadi Emping satu kilo harganya diatas 30 ribu,” sambungnya.

Dalam hal ini, lanjut H. Hendro Yulistiono, SP. M. Si Penyuluh itu merupakan Petugas Polipalen, semua aspek harus dikuasa termasuk pengetahuan pengolahan Jagung dari hulu sampai hilir. Yang hilir itu bagaimana memanfaatkan komoditas olahan salah satunya Jagung.

“Tugas kita di Provinsi memberikan ilmunya ke Penyuluh ( Bimtek,red) yang nantinya berinteraksi langsung dengan KWT,” katanya.

Penyuluh tidak hanya membina Kelompok Tani dilapangan tetapi juga membina kelompok lain salah satunya KWT. KWT ini unit usaha dari  Kelompok Tani yang merupakan anggotanya adalah istri dari petani. Dalam hal ini KWT berperan membantu penghasilan ekonomi tambahan bagi keluarga.

“Disinlah peranan KWT bisa membantu menambah pengahasilan ekonomi keluargnya,” terangnya.

Oleh karena itu pihaknya berharap melalui Bimtek itu, ilmu yang sudah didapatkan Penyuluh sebelumnya kembali diperdalam.
Sementara bagi yang belum mengetahuinya, hal itu bisa membuka peluang bisnis yang bisa disampaikan ke KWT lainnya di daerah masing-masing. Diakuinya tidak semua daerah mempunyai persepi yang sama  tentang pengolahan.

Sementara itu pada 28 Juli 2022 peserta Bimtek mengikuti Kegiatan Praktik Kerja Lapangan bertempat di Kelompok Wanita Tani (KWT) Rukun, Dusun Ngorok, Desa Kopang Rembige, Kecamatan Kopang, Lombok Tengah dengan Ketua kelompok Hidayanti.
KWT Rukun merilis usaha sejak 2008 berawal dari Kerupuk dan tahun 2011 mulai memproduksi Emping Jagung dan Marning Jagung dengan produksi 5 kg per hari.

Peserta Bimtek melakukan kunjungan lapangan untuk menambah pengetahuan dan ketrampilan dalam pengolahan jagung sehingga dapat meningkatkan nilai tambah dari Jagung tersebut dan bisa diajarkan ke petani atau wanita Tani (KWT) di wilayah binaan masing-masing penyuluh. (jho)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *