banner 300x600

Pengungsi Banjir Pilih Pindah ke Huntara

  • Bagikan
F HUNTARAA
IST/RADAR MANDALIKA TINGGAL DI HUNTARA: Camat Batulayar Afgan Kusuma Negara bersama Kepala Desa Batulayar Barat dan Babinsa saat melihat warga yang tinggal di huntara di Dusun Batulayar Utara Desa Batulayar Barat Kecamatan Batulayar, Rabu (19/1).

LOBAR–Pengungsi banjir bandang di Dusun Batulayar Utara, Desa Batulayar Barat, Kecamatan Batulayar memilih pindah dari tenda pengungsian ke hunian sementara (Huntara). Meski tenda bantuan dari Kementerian Sosial (Kemensos) yang disiapkan cukup besar, nyaman dan tak panas siang hari. Namun dengan berbagai alasan membuat warga lebih memilih pindah ke huntara yang dibangun sendiri ataupun bantuan lembaga. Pihak Kecamatan Batulayar bersama pemerintah desa setempat pun sudah turun melihat kondisi huntara warga itu. “Warga minta tenda pengungsian dibongkar saja karena sudah membangun huntara-huntara dibeberapa titik di dekat rumah keluarganya,” terang Camat Batulayar, Afgan Kusuma Negara, Rabu (19/1).
Menurut Afgan, salah satu alasan warga memilih pindah ke huntara karena tak enak dengan pemilik lahan tempat berdirinya tenda pengungsian itu. Selain warga lebih nyaman berkumpul dengan keluarganya sendiri, walaupun tinggal di huntara yang sederhana. Karena sebagian besar huntara yang dibangun itu berdekatan dengan rumah sanak keluarga di dusun yang sama dan aman dari jangkauan bencana banjir dan longsor.
“Ada juga yang terpusat huntaranya sekitar 15 unit di satu titik, ada juga yang menyebar di rumah keluarganya sekitar dua atau tiga unit,” jelasnya.
Hampir sebagian besar bangunan huntara yang dibangun terbuat dari rangka bambu dengan berlapis terpal sebagai atap dan dindingnya. Mengingat warga hanya sementara menempati bangunan itu sampai musim penghujan berhenti. “Warga sendiri yang berinisiatif membangun,” bebernya.
Kini sebanyak 70 KK yang mengungsi sudah menempati huntara itu ketika hujan datang. Namun ketika cuasa cerah, warga tetap memilih kembali ke kediamannya. Sebab sebagian besar memiliki ternak atau mengurus kebunnya. “Tapi ketika gelap terlihat di hulu barulah mereka turun ke huntara,” terangnya.
Para pengungsi itu diakui Afgan, masih bisa memenuhi kebutuhan makan selama di huntara. Karena warga sudah mulai bekerja kembali di kebunnya. Tak hanya itu sebagai bentuk terimakasih kepada pemilik lahan yang sudah mengizinkan dijadikan lokasi pengungsian, warga akan bergotong-royong menimbun saluran darurat yang dibuat untuk tenda darurat. (win)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *