Pengemis dengan Penghasilan Melebihi Kepala Dinas

  • Bagikan
F GELANDANG
IST / RADAR MANDALIKA GELANDANGAN : Seorang pengemis yang beroperasi di simpang empat PTC saat diamankan Satpol PP Lotim, belum lama ini.

LOTIM – Pengemis berkedok meminta sumbangan untuk fakir miskin dan yatim piatu banyak berkeliaran di Lombok Timur. Mereka banyak ditemui di simpang empat jalan utama, tiap pintu toko yang ramai pengunjung, dan pom bensin. Bahkan, mereka juga sampai keliling dari rumah ke rumah, terutama di bulan Ramadan ini. Rupanya, dari beberapa orang yang pernah diamankan Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP) Lombok Timur (Lotim), pendapatan para terduga pengemis tersebut melebihi pendapatan pejabat eselon dua atau seorang kepala dinas.
“Karena menjanjikan, sehingga tak sedikit menjadikannya sebagai profesi. Kalah pendapatan eselon dua,” ungkap Kepala Satpol PP Lotim, H Sudirman pada Radar Mandalika via ponselnya, kemarin.
Dijelaskan belum lama ini Satpol PP Lotim telah mengamankan warga Kota Mataram, yang beroperasi di simpang empat Pancor Trade Center (PTC), menggunakan kotak amal dengan dalih sedekah untuk fakir miskin dan anak yatim. Dia diamankan, setelah petugas selama beberapa hari melihatnya dan terkesan mencurigakan. Begitu diangkut dan diinterogasi, ternyata benar aktivitas itu dilakukan untuk kepentingan pribadinya sendiri.
“Dia hari itu baru dapat sekitar Rp 50 ribu. Setelah diberikan peringatan, langsung dipulangkan. Hasilnya dikasihkan jadi ongkosnya pulang,” terangnya.
Yang lebih mencengangkan lagi beber Sudirman, sejak beberapa kali mengamankan pengemis jalanan, rupanya ada yang memang bergerak secara terorganisir berada di bawah kendali. Ada beberapa ibu-ibu yang keliling secara berkelompok, berasal dari salah satu desa di ujung Kecamatan Terara, Lotim.
Masih kata Sudirman, selain pergerakan secara kelompok yang pernah didapat dari wilayah Kecamatan Terara, juga kelompok berasal dari wilayah Lombok Tengah. Baik yang dari wilayah Terara dan Lombok Tengah tersebut, kepala desa setempat langsung ditelepon, sekaligus menyerahkan para pengemis tersebut pada pemerintah desa.
“Modus mereka ini banyak. Memang ada juga yang atasnamakan madrasah, dan itu kami pastikan benar sebab langsung kita konfirmasi,” tegasnya.
“Untuk pergerakan secara kelompok ini, ada yang melihat mereka diturunkan di Gapura Denggen menggunakan mobil. Dari sana mereka mulai jalan. Kalau ndak salah hasilnya itu, dibagi dengan porsi antara 60 persen berbanding 40 persen, sampai 70 persen berbanding 30 persen,” sambungnya.
Saat ini yang menjadi titik kesulitan Satpol PP dalam menindak tegas pengemis berkedok fakir miskin dan anak yatim serta modus lainnya ini, belum ditemukannya regulasi jelas untuk menindak sehingga memberikan efek jera.
“Karena kami sampai sekarang belum menemukan aturan secara khusus untuk menindak tegas pengemis secara hukum, ya jadinya sebatas diingatkan karena mengganggu trantibum, kemudian kita pulangkan,” pungkasnya. (fa’i/r3)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *