H Rizky Bani Adam. (IST)

LOBAR – Pemerintah Kabupaten Lombok Barat melalui Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) memberikan tanggapan resmi mengenai kondisi operasional peralatan pengelolaan sampah Masaro Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Senteluk Batulayar. Bentuk transparansi publik dalam menjawab keluhan serta sorotan masyarakat terkait berhentinya aktivitas mesin pengolah sampah di lokasi tersebut.

Kepala Dinas Kominfotik Lobar H Rizki Bani Adam, menjelaskan kondisi peralatan Masaro saat ini sedang tidak beroperasi secara penuh dikarenakan kendala teknis. Perhatian serius pemerintah daerah, mengingat TPST Senteluk merupakan salah satu pilar sistem pengelolaan sampah di wilayah Lobar.

Rizki menyampaikan bahwa berdasarkan data dan informasi yang dihimpun dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lobar, saat ini mesin sedang memasuki tahap perawatan intensif. Ia menekankan bahwa aspek teknis menjadi alasan utama di balik tidak beroperasinya peralatan tersebut. Terutam komponen vital yang memerlukan perbaikan khusus agar dapat kembali bekerja secara optimal.

“Peralatan pengelolaan sampah Masaro saat ini memang sedang dalam proses pemeliharaan. Hal ini diakibatkan oleh adanya perbaikan pada bagian blower di mesin insinerator Masaro tersebut,” ujar Rizki B. Adam dalam keterangan resminya, Minggu (8/3).

Ia menambahkan bahwa sebagaimana mesin-mesin industri lainnya yang bekerja dengan beban tinggi, peralatan Masaro juga memerlukan periode pemeliharaan rutin atau perbaikan ketika terjadi gangguan teknis. Kondisi ini diperlukan agar saat mesin kembali dioperasikan, kinerjanya tetap stabil dan aman bagi lingkungan sekitar sesuai dengan standar operasional prosedur yang berlaku.

Peralatan Masaro sendiri dirancang dengan teknologi khusus untuk menangani sampah dengan cara yang lebih produktif. Rizki menjelaskan bahwa mesin ini memiliki kemampuan untuk mengonversi sampah menjadi produk-produk yang memiliki nilai ekonomis bagi masyarakat dan daerah.

“Peralatan dan mesin pengelolaan sampah Masaro ini dirancang untuk memproses sampah kering yang sudah terpilah, sehingga nantinya dapat menghasilkan produk yang bernilai jual, seperti kompos, pupuk cair, dan produk turunan lainnya,” lanjutnya.

Secara teknis, mesin ini mampu mengolah sampah hingga kapasitas 20 ton per hari. Namun, efektivitas pencapaian kapasitas tersebut sangat bergantung pada jenis input sampah yang dimasukkan. Syarat utama agar mesin dapat bekerja maksimal adalah sampah harus dalam kondisi sudah terpilah dan dalam keadaan kering. Rizki menekankan bahwa tumpukan sampah lama yang sudah mengendap di TPST tidak bisa langsung diproses dengan mesin ini.

Mengatasi itu, Pemda telah menyiapkan skema penanganan yang berbeda. Sampah-sampah lama tersebut akan diangkut secara bertahap menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Regional Kebon Kongok agar tidak menimbulkan dampak lingkungan negatif di sekitar TPST Senteluk.

Menutup keterangannya, Pemkab Lobar mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mulai peduli terhadap pemilahan sampah di tingkat rumah tangga. Menurut Rizki, teknologi sehebat apa pun tidak akan bekerja maksimal jika perilaku masyarakat dalam membuang sampah belum teratur. Pemilahan antara sampah organik dan anorganik sangat membantu mempercepat proses pengolahan di TPST dan meringankan beban kerja petugas di lapangan.

“Mesin Masaro ini adalah milik kita bersama yang harus kita jaga. Kami menghimbau kepada seluruh masyarakat Kabupaten Lombok Barat untuk memilah terlebih dahulu sampah organik dan anorganik sebelum dibuang. Pemilihan sampah sejak dari rumah akan sangat mendukung pengelolaan sampah yang lebih bersih, sehat, dan ramah lingkungan,” pungkas Rizki. (win)

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *