LOBAR—Keluhan masyarakat mengenai sistem pelayanan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tripat Gerung kembali menjadi perhatian serius DPRD Lombok Barat (Lobar). Para pasien dan keluarga pengunjung masih mengeluhkan kendala klasik, antrean hingga keterbatasan fasilitas penunjang medis.
Penumpukan pasien terlihat jelas di area pendaftaran poliklinik. Warga tampak berbaris panjang demi mendapatkan pelayanan administrasi, hingga memenuhi ruang tunggu. Terbatasnya tempat duduk membuat sebagian besar keluarga pasien terpaksa berdiri selama berjam-jam. Kondisi ini diperparah oleh kurangnya jumlah personel di loket pendaftaran yang tidak sebanding dengan membeludaknya jumlah kunjungan pasien pada hari tersebut.
Selain permasalahan di loket pendaftaran sidik jari, penumpukan yang cukup melelahkan juga terjadi di Depo Farmasi. Pasien dan keluarganya harus menunggu waktu yang relatif lama untuk mendapatkan obat-obatan. Situasi di area rumah sakit menjadi kurang kondusif karena kerumunan tidak dapat dihindarkan.
Persoalan lain yang dikeluhkan oleh masyarakat adalah minimnya fasilitas kursi roda yang disediakan di dekat loket pendaftaran. Fasilitas ini sangat krusial bagi pasien lanjut usia (lansia) serta pasien yang menjalani perawatan di poli rehabilitasi medik. Akibat keterbatasan ini, keluarga pasien terpaksa mencari sendiri kursi roda ke berbagai sudut rumah sakit, bahkan hingga harus berebut dengan pengunjung lain yang memiliki kebutuhan serupa.
Kondisi pelayanan yang belum optimal ini memicu respons kritis dari jajaran Komisi IV DPRD Lobar. Wakil Ketua Komisi IV, Dr. Syamsuariansyah, cukup menyayangkan. Menurutnya perlunya langkah konkret dan modern dari manajemen rumah sakit untuk mengurai antrean panjang tersebut secara efektif. Pihaknya mendorong pemanfaatan teknologi informasi untuk mempermudah akses masyarakat.
“Reservasi online juga sangat membantu pasien untuk tidak selalu ke RS di waktu-waktu yang sibuk. Tinggal menyesuaikan dengan jadwal dokter yang ingin dikunjungi pasien. Maka dengan ini akan mempersingkat waktu tunggu dan mencegah pasien pindah ke RS lain,” kata Doktor Syam, Selasa (2/6).
Ia menyarankan agar RSUD Tripat segera menerapkan sistem nomor antrean digital berbasis aplikasi atau mesin tiket otomatis. Selain itu, manajemen disarankan melakukan analisis jam sibuk untuk menempatkan staf secara fleksibel, mengoptimalkan sistem pembayaran nontunai , serta menerapkan jalur prioritas khusus untuk mengurai kepadatan. Terkait kekurangan kursi roda, ia meminta manajemen menyediakan layanan komprehensif beserta petugas khusus untuk lansia.
Di sisi lain, Anggota Komisi IV DPRD Lobar, M. Munip, menekankan pentingnya respons cepat dan fleksibilitas petugas dalam menghadapi situasi di lapangan. Menurutnya, kendala di lapangan sering kali muncul akibat kurangnya pengarahan langsung kepada pasien di titik-titik rawan antrean.
“Sistem antrean harus dibuat sistematis dan pihak RS harus menempatkan petugas pada titik-titik rawan untuk mengarahkan pasien. Kadang masalah ini muncul karena petugas tidak ada yang mengarahkan dalam sikon seperti ini,” tegas Politisi PPP ini.
Munip menambahkan bahwa lonjakan pasien biasanya sudah bisa diprediksi, seperti pada hari pertama pelayanan setelah libur hari besar keagamaan atau nasional. Oleh karena itu, kapasitas sebagai rumah sakit daerah harus diimbangi dengan kesiapan mitigasi pelayanan yang matang.
Merespons keluhan warga serta masukan dari pihak legislatif, Direktur RSUD Tripat, dr. H. Suriyadi memberikan penjelasan mengenai kondisi yang terjadi. Menurutnya, penumpukan pasien di pagi hari sebenarnya dapat dihindari jika masyarakat memperhatikan estimasi waktu yang tertera pada surat kontrol masing-masing.
“Sehingga pasien bisa datang sesuai estimasi waktu yang tertera. Sehingga distribusi pasien juga merata,” kata dr. Suriyadi.
Pihak manajemen berencana untuk kembali menggencarkan sosialisasi mengenai pentingnya datang sesuai jadwal tersebut. Selain itu, RSUD Tripat saat ini tengah mengembangkan sistem pemantauan nomor antrean secara langsung yang dapat diakses oleh pasien melalui ponsel dari rumah. Langkah ini diharapkan dapat membantu pasien memperkirakan waktu kedatangan secara tepat.
Mengenai kendala teknis di lapangan, dr. Suriyadi mengakui bahwa salah satu penyebab melambatnya proses pendaftaran adalah fluktuasi kecepatan jaringan internet. Durasi pelayanan yang biasanya hanya memakan waktu 5 detik per pasien, sempat melambat hingga 10-15 detik akibat gangguan pemuatan data.
Mengenai keluhan keterbatasan kursi roda, pihak manajemen membenarkan adanya kekurangan tersebut dan menegaskan bahwa saat ini sedang dilakukan proses pengadaan tambahan. Ia juga mengimbau agar keluarga pasien tidak perlu panik mencari fasilitas tersebut secara mandiri.
“Terkait kursi roda bagi pasien di loket pendaftaran, diakuinya masih kurang. Pihaknya pun sedang berupaya untuk penambahan kursi roda. Dikatakan, pasien atau keluarga pasien tidak perlu mencari kursi roda sebab ada petugas khusus yang akan keliling mencarikan,” pungkasnya.(win)
